Cinta kepada Allah dan 7 Ujian ke Arah Sana (3-Habis)
Kamis, 18 Juni 2020 - 05:00 WIB
loading...
Jika kecintaan kepada Allah sudah sempurna, maka tak ada kebahagiaan yang bisa menandingi kebahagiaan beribadah. Foto/Ilustrasi/SINDOnews
A
A
A
BANYAK orang mengaku telah mencintai Allah , tetapi masing-masing mesti memeriksa diri sendiri berkenaan dengan kemurnian cinta yang ia miliki. Imam Ghazali dalam Kimia Kebahagiaan , yang merupakan terjemahan dari buku aslinya berbahasa Inggris, The Alchemy of Happiness, menyebut pertama adalah, dia mesti tidak membenci pikiran tentang mati , kerena tak ada seorang "teman" pun yang ketakutan ketika akan bertemu dengan "teman"nya.
Baca juga: Agar Kerja Menjadi Ibadah, Ingat Allah Maha Pemberi Rezeki
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam (SAW) bersabda "Siapa yang ingin melihat Allah, Allah pun ingin melihatnya."
Memang benar bahwa seorang pencinta Allah yang ikhlas mungkin saja bisa takut akan kematian sebelum ia menyelesaikan persiapannya untuk ke akhirat , tapi jika ia ikhlas ia akan rajin dalam membuat persiapan-persiapan itu.
Baca juga: Cinta Kepada Allah, Ibrahim: Wahai Izrail, Ambillah Nyawaku (1)
Ujian keikhlasan yang kedua, menurut Imam Ghazali, ialah seseorang mesti rela mengorbankan kehendaknya demi kehendak Allah; mesti berpegang erat-erat kepada apa yang membawanya lebih dekat kepada Allah; dan mesti menjauhkan diri dari tempat-tempat yang menyebabkan ia berada jauh dari Allah.
Baca juga: Cinta Kepada Allah (2): Menampak Allah Puncak Kebahagiaan Manusia
Kenyataan bahwa seseorang telah berbuat dosa bukanlah bukti bahwa dia tidak mencintai Allah sama sekali, tetapi hal itu hanya membuktikan bahwa ia tidak mencintaiNya dengan sepenuh hati.
Wali Fudhail berkata pada seseorang: "Jika seseorang bertanya kepadamu, cintakah engkau kepada Allah, maka diamlah; karena jika engkau berkata: 'Saya tidak mencintaiNya,' maka engkau menjadi seorang kafir; dan jika engkau berkata: 'Ya, saya mencintai Allah,' padahal perbuatan-perbuatanmu bertentangan dengan itu."
Baca juga: Berikut Ini Tiga Ibadah yang Paling Dicintai Allah Ta'ala
Ujian yang ketiga, ujar Imam Ghazali lagi, adalah bahwa zikrullah mesti secara otomatis terus tetap segar di dalam hati manusia. Karena, jika seseorang memang mencintai, maka ia akan terus mengingat-ngingat; dan jika cintanya itu sempurna, maka ia tidak akan pernah melupakan-Nya.
Baca juga: Agar Kerja Menjadi Ibadah, Ingat Allah Maha Pemberi Rezeki
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam (SAW) bersabda "Siapa yang ingin melihat Allah, Allah pun ingin melihatnya."
Memang benar bahwa seorang pencinta Allah yang ikhlas mungkin saja bisa takut akan kematian sebelum ia menyelesaikan persiapannya untuk ke akhirat , tapi jika ia ikhlas ia akan rajin dalam membuat persiapan-persiapan itu.
Baca juga: Cinta Kepada Allah, Ibrahim: Wahai Izrail, Ambillah Nyawaku (1)
Ujian keikhlasan yang kedua, menurut Imam Ghazali, ialah seseorang mesti rela mengorbankan kehendaknya demi kehendak Allah; mesti berpegang erat-erat kepada apa yang membawanya lebih dekat kepada Allah; dan mesti menjauhkan diri dari tempat-tempat yang menyebabkan ia berada jauh dari Allah.
Baca juga: Cinta Kepada Allah (2): Menampak Allah Puncak Kebahagiaan Manusia
Kenyataan bahwa seseorang telah berbuat dosa bukanlah bukti bahwa dia tidak mencintai Allah sama sekali, tetapi hal itu hanya membuktikan bahwa ia tidak mencintaiNya dengan sepenuh hati.
Wali Fudhail berkata pada seseorang: "Jika seseorang bertanya kepadamu, cintakah engkau kepada Allah, maka diamlah; karena jika engkau berkata: 'Saya tidak mencintaiNya,' maka engkau menjadi seorang kafir; dan jika engkau berkata: 'Ya, saya mencintai Allah,' padahal perbuatan-perbuatanmu bertentangan dengan itu."
Baca juga: Berikut Ini Tiga Ibadah yang Paling Dicintai Allah Ta'ala
Ujian yang ketiga, ujar Imam Ghazali lagi, adalah bahwa zikrullah mesti secara otomatis terus tetap segar di dalam hati manusia. Karena, jika seseorang memang mencintai, maka ia akan terus mengingat-ngingat; dan jika cintanya itu sempurna, maka ia tidak akan pernah melupakan-Nya.
Lihat Juga :