Sikap Muslim dalam Menghadapi Para Penghujat seperti Salman Rushdie
Selasa, 25 Oktober 2022 - 12:44 WIB
loading...
A
A
A
Rushdie menyebut Mahound sebagai si pedagang (the businessman) yang gila (a looney tune, a gone baboon) di saat pertama melihat Malaikat Jibril. Ia juga menyebut Allah dengan allgood dan allahgod.
Rushdie juga menyebut Ibrahim as sebagai the bastard (anak haram) karena dengan seenaknya mengklaim bahwa Tuhanlah yang menyuruhnya meninggalkan istri dan anaknya di padang pasir.
Tak berhenti di sini. Rushdie juga menyebutkan bahwa ada 12 pelacur dalam sebuah rumah pelacuran bernama The Curtain (Hijab) yang menyaru dengan menggunakan nama istri-istri Nabi.
Rushdie menggunakan nama Jibril (Gibreel) untuk sosok bintang film dan Shalahuddin (Saladin) untuk tokoh setan. Nama Ayesha (Aisah, istri Rasul) digunakan Rushdie di dalam novel ini untuk merujuk kepada sejumlah tokoh di tiap plotnya.
Baca juga: Saudi: Menghina Nabi Hanya Untungkan Kaum Ekstrimis
Prof Mohammad Hashim Kamali dalam bukunya berjudul "Freedom of Expression in Islam" (Ilmiah Publishers, 1998), menyebut cara Rushdie menggambarkan istri-istri Rasulullah SAW sebagai simply too outrageous and far below the standards of civilised discourse.
Penghinaan Rushdie terhadap Allah dan Al-Quran, tulis Hashim Kamali, are not only blasphemous but also flippant. Karena banyaknya kata-kata kotor yang digunakannya, banyak penulis Muslim menyatakan, tidak sanggup mengutip kata-kata kotor dan biadab yang digunakannya.
Salman Rushdie hidup di Inggris dan hukuman mati atasnya belum dicabut oleh pemerintah Iran. Kini, ia harus membayar perbuatannya itu. "Dia memiliki tiga luka serius di lehernya. Satu tangannya lumpuh karena saraf di lengannya terputus. Dan dia memiliki sekitar 15 luka lagi di dada," kata Andrew Wylie.
Baca juga: Profesor Mesir Diskors karena Menghina Nabi Muhammad SAW
Rushdie juga menyebut Ibrahim as sebagai the bastard (anak haram) karena dengan seenaknya mengklaim bahwa Tuhanlah yang menyuruhnya meninggalkan istri dan anaknya di padang pasir.
Tak berhenti di sini. Rushdie juga menyebutkan bahwa ada 12 pelacur dalam sebuah rumah pelacuran bernama The Curtain (Hijab) yang menyaru dengan menggunakan nama istri-istri Nabi.
Rushdie menggunakan nama Jibril (Gibreel) untuk sosok bintang film dan Shalahuddin (Saladin) untuk tokoh setan. Nama Ayesha (Aisah, istri Rasul) digunakan Rushdie di dalam novel ini untuk merujuk kepada sejumlah tokoh di tiap plotnya.
Baca juga: Saudi: Menghina Nabi Hanya Untungkan Kaum Ekstrimis
Prof Mohammad Hashim Kamali dalam bukunya berjudul "Freedom of Expression in Islam" (Ilmiah Publishers, 1998), menyebut cara Rushdie menggambarkan istri-istri Rasulullah SAW sebagai simply too outrageous and far below the standards of civilised discourse.
Penghinaan Rushdie terhadap Allah dan Al-Quran, tulis Hashim Kamali, are not only blasphemous but also flippant. Karena banyaknya kata-kata kotor yang digunakannya, banyak penulis Muslim menyatakan, tidak sanggup mengutip kata-kata kotor dan biadab yang digunakannya.
Salman Rushdie hidup di Inggris dan hukuman mati atasnya belum dicabut oleh pemerintah Iran. Kini, ia harus membayar perbuatannya itu. "Dia memiliki tiga luka serius di lehernya. Satu tangannya lumpuh karena saraf di lengannya terputus. Dan dia memiliki sekitar 15 luka lagi di dada," kata Andrew Wylie.
Baca juga: Profesor Mesir Diskors karena Menghina Nabi Muhammad SAW
(mhy)
Lihat Juga :