Pertanyaan Bung Hatta kepada Buya Hamka: Antara Doa dan Surga
Minggu, 06 November 2022 - 12:39 WIB
loading...
Di dalam bukunya yang berjudul Renungan Tasawuf, Buya Hamka menceritakan kisahnya ketika menjawab pertanyaan mantan wakil presiden, Bung Hatta, tentang doa dan surga. Foto istimewa
A
A
A
Di dalam bukunya yang berjudul Renungan Tasawuf, Buya Hamka menceritakan kisahnya ketika menjawab pertanyaan mantan wakil presiden, Bung Hatta, tentang doa dan surga. Bung Hatta menanyakan kepada beliau tentang doa yang memberikan banyak pengharapan kepada yang memanjatkan doa tersebut. Misalkan, membaca doa akan diberi kemudahan masuk surga tanpa dihisab oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Bung Hatta juga menanyakan apakah dengan membaca ayat kursi sebelum tidur, maka kalau meninggal sesudah membaca ayat kursi tersebut, akan masuk surga tanpa proses penghitungan amal (tanpa hisab) lagi. Bertanya juga Bung Hatta apakah kalau membaca doa ini dan doa itu, sekian kali pagi dan sekian kali petang, dosa kita akan dengan mudah diampuni?
Baca juga: Tatkala Dua Pembesar NU dan Muhammadiyah Saling Mengimami Sholat Subuh
Almarhum Bung Hatta, cerita Buya Hamka , banyak meminta pendapat mengenai hal-hal seperti itu. Bung Hatta masih meragukan keyakinannya, bahwa hanya dengan bacaan doa dan bacaan Al-Qur'an saja orang akan dengan mudah masuk surga. Karena itulah Bung Hatta bertanya.
Buya Hamka turut merenung. Tidak berapa lama kemudian pertanyaan-pertanyaan Bung Hatta yang ditujukan kepada Buya Hamka yang lewat surat itu, dijawab. Beliau Buya Hamka mengawali pertanyaan itu dengan menuliskan sebuah ayat dalam Al-Qur'an.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :
"Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, "Kapankah datang pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat."
(QS. Al-Baqarah : 214)
Ayat ini, menurut Buya Hamka, telah memberikan pedoman kepada orang beriman bahwasannya untuk mencapai surga, tempat yang amat bahagia dan mulia itu, hendaklah setiap orang berani menerima kesusahan dan penderitaan, bahkan berani diguncangkan, digempakan, sehingga tidak ada waktu buat bersenang-senang atau santai berdiam diri.
Dalam ayat ini dikatakan bahwa saking hebatnya kesusahan dan penderitaan, bahkan keguncangan, sampai orang beriman bertanya bahkan Rasul sendiri, kapan pertolongan Allah akan datang? Mengapa tidak datang juga pertolongan itu? Yang bertanya demikian adalah Rasul sendiri dan orang-orang beriman yang mengikuti beliau. Rasul dan orang beriman bertanya, bilakah pertolongan Allah datang?
Dijelaskan juga penderitaan Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, dan Nabi Musa. Misalnya, Nabi Ibrahim yang dikaruniai putra pertama (Ismail) ketika umur 80 tahun. Dan diberi anak kedua (Ishak) ketika berumur 100 tahun, hingga pernah dibakar. Berbagai cara ujian yang didatangkan kepadanya, namun semua dapat dijalani dengan kesabaran dan ketaatan.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
Bung Hatta juga menanyakan apakah dengan membaca ayat kursi sebelum tidur, maka kalau meninggal sesudah membaca ayat kursi tersebut, akan masuk surga tanpa proses penghitungan amal (tanpa hisab) lagi. Bertanya juga Bung Hatta apakah kalau membaca doa ini dan doa itu, sekian kali pagi dan sekian kali petang, dosa kita akan dengan mudah diampuni?
Baca juga: Tatkala Dua Pembesar NU dan Muhammadiyah Saling Mengimami Sholat Subuh
Almarhum Bung Hatta, cerita Buya Hamka , banyak meminta pendapat mengenai hal-hal seperti itu. Bung Hatta masih meragukan keyakinannya, bahwa hanya dengan bacaan doa dan bacaan Al-Qur'an saja orang akan dengan mudah masuk surga. Karena itulah Bung Hatta bertanya.
Buya Hamka turut merenung. Tidak berapa lama kemudian pertanyaan-pertanyaan Bung Hatta yang ditujukan kepada Buya Hamka yang lewat surat itu, dijawab. Beliau Buya Hamka mengawali pertanyaan itu dengan menuliskan sebuah ayat dalam Al-Qur'an.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman :
اَمْ حَسِبْتُمْ اَنْ تَدْخُلُوا الْجَـنَّةَ وَ لَمَّا يَأْتِكُمْ مَّثَلُ الَّذِيْنَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ ۗ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَآءُ وَا لضَّرَّآءُ وَزُلْزِلُوْا حَتّٰى يَقُوْلَ الرَّسُوْلُ وَا لَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗ مَتٰى نَصْرُ اللّٰهِ ۗ اَ لَاۤ اِنَّ نَصْرَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ
"Ataukah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, dan diguncang (dengan berbagai cobaan), sehingga rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, "Kapankah datang pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat."
(QS. Al-Baqarah : 214)
Ayat ini, menurut Buya Hamka, telah memberikan pedoman kepada orang beriman bahwasannya untuk mencapai surga, tempat yang amat bahagia dan mulia itu, hendaklah setiap orang berani menerima kesusahan dan penderitaan, bahkan berani diguncangkan, digempakan, sehingga tidak ada waktu buat bersenang-senang atau santai berdiam diri.
Dalam ayat ini dikatakan bahwa saking hebatnya kesusahan dan penderitaan, bahkan keguncangan, sampai orang beriman bertanya bahkan Rasul sendiri, kapan pertolongan Allah akan datang? Mengapa tidak datang juga pertolongan itu? Yang bertanya demikian adalah Rasul sendiri dan orang-orang beriman yang mengikuti beliau. Rasul dan orang beriman bertanya, bilakah pertolongan Allah datang?
Dijelaskan juga penderitaan Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, dan Nabi Musa. Misalnya, Nabi Ibrahim yang dikaruniai putra pertama (Ismail) ketika umur 80 tahun. Dan diberi anak kedua (Ishak) ketika berumur 100 tahun, hingga pernah dibakar. Berbagai cara ujian yang didatangkan kepadanya, namun semua dapat dijalani dengan kesabaran dan ketaatan.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَاِ ذِ ابْتَلٰۤى اِبْرٰهٖمَ رَبُّهٗ بِكَلِمٰتٍ فَاَ تَمَّهُنَّ ۗ
Lihat Juga :