Roh dan Jiwa Menurut Para Filsuf dan Sufi
Rabu, 16 November 2022 - 08:00 WIB
loading...
Para ahli sufi membedakan roh dan jiwa. Roh berasal dari tabiat Ilahi dan cenderung kembali ke asal semula. Foto/Ilustrasi: Ist
A
A
A
Banyak ulama yang menyamakan pengertian antara roh dan jasad . Roh berasal dari alam arwah dan memerintah dan menggunakan jasad sebagai alatnya. Sedangkan jasad berasal dari alam ciptaan, yang dijadikan dari unsur materi.
"Tetapi para ahli sufi membedakan roh dan jiwa. Roh berasal dari tabiat Ilahi dan cenderung kembali ke asal semula. Ia selalu dinisbahkan kepada Allah dan tetap berada dalam keadaan suci," tutur Jalaluddin Rakhmat (1949 –2021) dalam buku berjudul "Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah" (Paramadina, 1994).
Baca juga: Hari Kiamat: Ketika Roh-Roh Manusia Keluar dari Sangkakala Seperti Semut
Menurut Jalaluddin Rakhmat, karena roh bersifat kerohanian dan selalu suci, maka setelah ditiup Allah dan berada dalam jasad, ia tetap suci. Roh di dalam diri manusia berfungsi sebagai sumber moral yang baik dan mulia.
Jika roh merupakan sumber akhlak yang mulia dan terpuji, maka lain halnya dengan jiwa. Jiwa adalah sumber akhlak tercela, al-Farabi, Ibn Sina dan al-Ghazali membagi jiwa terdiri atas jiwa nabati (tumbuh-tumbuhan), jiwa hewani (binatang), dan jiwa insani.
Jiwa nabati adalah kesempurnaan awal bagi benda alami yang organis dari segi makan, tumbuh dan melahirkan. Adapun jiwa hewani, di samping memiliki daya makan untuk tumbuh dan melahirkan, juga memiliki daya untuk mengetahui hal-hal yang kecil dan daya merasa, sedangkan jiwa insani mempunyai kelebihan dari segi daya berpikir (al-nafs-al-nathiqah).
Daya jiwa yang berpikir (al-nafs-al-nathiqah atau al-nafs-al-insaniyah). Inilah, menurut para filsuf dan sufi, yang merupakan hakikat atau pribadi manusia. Sehingga dengan hakikat, ia dapat mengetahui hal-hal yang umum dan yang khusus, Dzatnya dan Penciptaannya.
Jalaluddin Rakhmat menjelaskan, karena pada diri manusia tidak hanya memiliki jiwa insani (berpikir), tetapi juga jiwa nabati dan hewani, maka jiwa (nafs) manusia menjadi pusat tempat tertumpuknya sifat-sifat yang tercela pada manusia. Itulah sebabnya jiwa manusia mempunyai sifat yang beraneka sesuai dengan keadaannya.
Baca juga: Azab Kubur itu Menimpa Jasad ataukah Roh?
Apabila jiwa menyerah dan patuh pada kemauan syahwat dan memperturutkan ajakan setan, yang memang pada jiwa itu sendiri ada sifat kebinatangan, maka ia disebut jiwa yang menyuruh berbuat jahat. Firman Allah, "Sesungguhnya jiwa yang demikian itu selalu menyuruh berbuat jahat." ( QS 12 : 53)
"Tetapi para ahli sufi membedakan roh dan jiwa. Roh berasal dari tabiat Ilahi dan cenderung kembali ke asal semula. Ia selalu dinisbahkan kepada Allah dan tetap berada dalam keadaan suci," tutur Jalaluddin Rakhmat (1949 –2021) dalam buku berjudul "Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah" (Paramadina, 1994).
Baca juga: Hari Kiamat: Ketika Roh-Roh Manusia Keluar dari Sangkakala Seperti Semut
Menurut Jalaluddin Rakhmat, karena roh bersifat kerohanian dan selalu suci, maka setelah ditiup Allah dan berada dalam jasad, ia tetap suci. Roh di dalam diri manusia berfungsi sebagai sumber moral yang baik dan mulia.
Jika roh merupakan sumber akhlak yang mulia dan terpuji, maka lain halnya dengan jiwa. Jiwa adalah sumber akhlak tercela, al-Farabi, Ibn Sina dan al-Ghazali membagi jiwa terdiri atas jiwa nabati (tumbuh-tumbuhan), jiwa hewani (binatang), dan jiwa insani.
Jiwa nabati adalah kesempurnaan awal bagi benda alami yang organis dari segi makan, tumbuh dan melahirkan. Adapun jiwa hewani, di samping memiliki daya makan untuk tumbuh dan melahirkan, juga memiliki daya untuk mengetahui hal-hal yang kecil dan daya merasa, sedangkan jiwa insani mempunyai kelebihan dari segi daya berpikir (al-nafs-al-nathiqah).
Daya jiwa yang berpikir (al-nafs-al-nathiqah atau al-nafs-al-insaniyah). Inilah, menurut para filsuf dan sufi, yang merupakan hakikat atau pribadi manusia. Sehingga dengan hakikat, ia dapat mengetahui hal-hal yang umum dan yang khusus, Dzatnya dan Penciptaannya.
Jalaluddin Rakhmat menjelaskan, karena pada diri manusia tidak hanya memiliki jiwa insani (berpikir), tetapi juga jiwa nabati dan hewani, maka jiwa (nafs) manusia menjadi pusat tempat tertumpuknya sifat-sifat yang tercela pada manusia. Itulah sebabnya jiwa manusia mempunyai sifat yang beraneka sesuai dengan keadaannya.
Baca juga: Azab Kubur itu Menimpa Jasad ataukah Roh?
Apabila jiwa menyerah dan patuh pada kemauan syahwat dan memperturutkan ajakan setan, yang memang pada jiwa itu sendiri ada sifat kebinatangan, maka ia disebut jiwa yang menyuruh berbuat jahat. Firman Allah, "Sesungguhnya jiwa yang demikian itu selalu menyuruh berbuat jahat." ( QS 12 : 53)
Lihat Juga :