6 Kasus Manipulasi Hadis di Era Tabiin
Jum'at, 02 Desember 2022 - 18:10 WIB
loading...
A
A
A
Di antara yang dibuang itu adalah kisah "wa andzir 'asyirataka al-aqrabin". Dalam Ibn Ishaq diriwayatkan Nabi saw berkata; "Inilah saudaraku, washiku, dan khalifahku untuk kamu." (Shahih Muslim, bab "Man La Ha'arahun Naby", Kitab Al-Birr wa Al-Shilah).
Menurut Jalaluddin Rahmat, Muhammad Husain Haikal, dalam Hayat Muhammad juga melakukan hal yang sama. Pada bukunya, cetakan pertama, ia mengutip ucapan Nabi: Siapa yang akan membantuku dalam urusan ini supaya menjadi saudaraku, washiku dan Khalifahku untuk kamu.
Pada Hayat Muhammad, cetakan kedua (Tahun 1354), ucapan Nabi SAW ini dihilangkan sama sekali.
Kelima, manupulasi hadis dilakukan dengan melarang penulisan hadis Nabi SAW. Berkenaan dengan ini bagian "Fiqh al-Khulafa' al-Rasyidin" di atas. Beberapa tabi'in juga melarang penulisan hadis.
Baca juga: 5 Hadis Palsu Tentang Cincin Akik Menurut Al-Albani
Keenam, mendha'ifkan hadis-hadis yang mengurangi kehormatan penguasa atau yang menunjang keutamaan lawan.
Ibn Katsir mendha'ifkan riwayat Nabi tentang Ali sebagai Washi. Ia menganggap riwayat itu sebagai dusta, yang dibuat-buat oleh orang Syi'ah, atau orang-orang yang bodoh dalam ilmu hadits.
Menurut Jalaluddin Rahmat, ia lupa bahwa hadits ini diriwayatkan dari banyak sahabat Nabi oleh Imam Ahmad, Al-Thabari, Al-Thabrani, Abu Nu'aim al-Isbahani, Ibnu 'Asakir dan lain-lain.
Al-Syu'bi meriwayatkan hadits dari Al-Harits al-Hamdani. Ia berkata: menyampaikan padaku Al-Harits, salah seorang pendusta. Ibn Abd al-Barr mengomentari ucapan al-Syu'bi: Ia tidak menjelaskan apa alasan dusta untuk Al-Harits.
Ia membenci Al-Harits karena kecintaannya yang berlebihan pada Ali dan mengutamakan Ali di atas sahabat yang lain. Karena itu, wallahu a'lam, Al-Syu'bi mendustakan Al-Harits; Al-Syuibi mengutamakan Abu Bakar, dan bahwa Abu Bakar adalah orang yang pertama masuk Islam.
Baca juga: Kisah Penebar Hadis Palsu di Zaman Imam Ahmad bin Hanbal
Menurut Jalaluddin Rahmat, Muhammad Husain Haikal, dalam Hayat Muhammad juga melakukan hal yang sama. Pada bukunya, cetakan pertama, ia mengutip ucapan Nabi: Siapa yang akan membantuku dalam urusan ini supaya menjadi saudaraku, washiku dan Khalifahku untuk kamu.
Pada Hayat Muhammad, cetakan kedua (Tahun 1354), ucapan Nabi SAW ini dihilangkan sama sekali.
Kelima, manupulasi hadis dilakukan dengan melarang penulisan hadis Nabi SAW. Berkenaan dengan ini bagian "Fiqh al-Khulafa' al-Rasyidin" di atas. Beberapa tabi'in juga melarang penulisan hadis.
Baca juga: 5 Hadis Palsu Tentang Cincin Akik Menurut Al-Albani
Keenam, mendha'ifkan hadis-hadis yang mengurangi kehormatan penguasa atau yang menunjang keutamaan lawan.
Ibn Katsir mendha'ifkan riwayat Nabi tentang Ali sebagai Washi. Ia menganggap riwayat itu sebagai dusta, yang dibuat-buat oleh orang Syi'ah, atau orang-orang yang bodoh dalam ilmu hadits.
Menurut Jalaluddin Rahmat, ia lupa bahwa hadits ini diriwayatkan dari banyak sahabat Nabi oleh Imam Ahmad, Al-Thabari, Al-Thabrani, Abu Nu'aim al-Isbahani, Ibnu 'Asakir dan lain-lain.
Al-Syu'bi meriwayatkan hadits dari Al-Harits al-Hamdani. Ia berkata: menyampaikan padaku Al-Harits, salah seorang pendusta. Ibn Abd al-Barr mengomentari ucapan al-Syu'bi: Ia tidak menjelaskan apa alasan dusta untuk Al-Harits.
Ia membenci Al-Harits karena kecintaannya yang berlebihan pada Ali dan mengutamakan Ali di atas sahabat yang lain. Karena itu, wallahu a'lam, Al-Syu'bi mendustakan Al-Harits; Al-Syuibi mengutamakan Abu Bakar, dan bahwa Abu Bakar adalah orang yang pertama masuk Islam.
Baca juga: Kisah Penebar Hadis Palsu di Zaman Imam Ahmad bin Hanbal
(mhy)
Lihat Juga :