alexametrics

Kisah Tabi'in Raja’ bin Haiwah

Ini Sosok di Balik Naiknya Umar Bin Abdul Aziz Menjadi Khalifah

loading...
Ini Sosok di Balik Naiknya Umar Bin Abdul Aziz Menjadi Khalifah
Umar bin Abdul Aziz menyesali mengapa dirinya harus mengemban tugas khalifah. Foto/Ilustrasi/Ist
BELIAU adalah Raja’ bin Haiwah. Tokoh kelahiran Bisaan Palestina ini, menjadi menteri dalam beberapa periode khalifah Bani Umayah. Dimulai sejak khalifah Abdul Malik bin Marwan hingga masa Umar bin Abdul Aziz. Hanya saja, hubungannya dengan Sulaiman bin Abdul Malik dan Umar bin Abdul Aziz lebih istimewa dari pada khalifah-khalifah yang lain.

Baca juga: Kisah Tabi'in Ar-Rabi'ah Ar-Ray'yi

Pada awal hari Jumat di bulan Safar tahun 99 H, Raja’ mendampingi Amirul Mukminin Sulaiman bin Abdul Malik di Dabik. Saat itu Amirul Mukminin telah mengirimkan suatu pasukan yang kuat untuk menggempur Turki di bawah komandan saudaranya, Maslamah bin Abdul Malik, dan didampingi putra beliau Dawud, beserta sebagian besar dari keluarganya. Beliau telah bertekad untuk tidak meninggalkan Dabik sebelum menguasai Konstantinopel atau mati.

Ketika waktu telah mendekati salat Jumat, Amirul Mukminin berwudhu dengan sebagus-bagus wudhu, memakai jubah berwarna hijau dan surbannya berwarna hijau pula. Beliau merasa bangga melihat keadaannya di cermin yang terlihat masih muda. Pada saat itu usia khalifah baru sekitar 40 tahun. Kemudian beliau keluar untuk menunaikan salat Jumat bersama orang-orang. Sepulangnya dari salat Jumat, mendadak beliau merasa demam. Rasa sakit tersebut kian hari bertambah parah. Sehingga beliau meminta agar Raja’ senantiasa dekat di samping beliau. (Baca juga: Gubernur yang Masuk Daftar Penduduk Miskin)



Suatu kali, ketika Raja’ masuk ke ruangan khalifah, mendapati Amirul Mukminin sedang menulis sesuatu. Raja’ bertanya, “Apa yang sedang Anda lakukan wahai Amirul Mukminin?”

“Aku menulis wasiat untuk penggantiku yakni putraku Ayyub,” jawab Amirul Mukminin.



“Wahai Amirul Mukminin, ketahuilah bahwa yang akan menyelamatkan Anda dari tanggung jawab kelak di hadapan Allah adalah dengan menunjuk seorang pengganti yang saleh untuk umat ini. Sedangkan putra Anda itu masih terlampau kecil, belum dewasa, belum dapat dijamin kebaikan dan keburukannya,” sata Raja’.

“Ini hanya tulisan main-main saja. Untuk itu, aku hendak salat istikharah dahulu,” ujar Khalifah kemudian merobek kertas wasiat tersebut. (Baca juga: Kisah Al-Ghafiqi, Terulangnya Tragedi Uhud yang Memilukan)

Setelah satu atau dua hari kemudian Raja’ dipanggil dan ditanya, “Bagaimana pendapatmu tentang putraku, Dawud wahai Abu Miqdam?”

“Dia tidak ada di sini. Dia sedang berada di medan perang di Konstantinopel bersama kaum muslimin dan Anda sendiri tidak mengetahui apakah dia masih hidup atau sudah gugur,” jawab Raja’. (Baca juga: Kisah Umar bin Abdul Aziz dan Padamnya Lampu Istana)
halaman ke-1 dari 6
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
cover top ayah
اَحَسِبَ النَّاسُ اَنۡ يُّتۡرَكُوۡۤا اَنۡ يَّقُوۡلُوۡۤا اٰمَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَـنُوۡنَ
Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, "Kami telah beriman," dan mereka tidak diuji?

(QS. Al-'Ankabut:2)
cover bottom ayah
preload video
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak