Persepsi Kristen Terhadap Islam Menurut Montgomery Watt
Sabtu, 14 Januari 2023 - 15:08 WIB
loading...
A
A
A
Karya Peter Yang Mulia ini secara luas memberi ciri khas bagi tulisan Kristen tentang Islam selama dua abad yang akan datang. Volume buku ini biasa saja.
Baca juga: Orientalis Montgomery Watt Kupas Ramalan Bibel tentang Nabi Muhammad SAW
Berbeda dengan buku-buku tentang Islam yang banyak berisikan rujukan-rujukan insidental dan karya-karya buku ini mengabaikan tambahan-tambahan sampai penyimpanan ilmu pengetahuan asli. Bahkan di balik semua ini, para ilmuwan berikhtiar memproduksi image Islam yang dalam banyak cara terdistorsi secara serius, dengan menggantikan image Islam dan suara Islam yang benar.
Image salah terhadap Islam ini ternyata telah disetujui oleh Ricoldo da Monte Croce (meninggal tahun 1321 Masehi) waktu menulis bukunya yang juga dikenal sebagai "Perselisihan golongan Sarasen dan Al-Qur'an" dalam bukunya Improhatio alchorani.
Thomas Aquinas sendiri bukanlah mahasiswa yang belajar Islam, melainkan sadar akan perlunya memberantas kesalahan pada kepercayaan Islam dan perlunya menghadirkan kepercayaan Kristen dengan cara yang rasional.
Bukunya, Summa contra Gentiles sebagian ditujukan untuk menyerang umat Islam, bahkan dia menulis sebuah buku ringkasan, De rationibus fidei contra Saracemos, Graecos et Armenos.
Dia membantu Peter Yang Mulia untuk mengubah umat Islam, terutama barangkali berpikir tentang umat Islam yang berada di bawah kekuasaan Kristen di Spanyol. Dari karya-karyanya dan karya-karya lain dalam waktu yang sama, kita dapatkan ide tentang Islam yang telah menjadi standar persepsi Kristen.
Empat Persepsi
Persepsi ini merupakan persepsi yang mempunyai tempat sentral dalam pemikiran Eropa hingga akhir abad sembilan belas. Perbedaan antara persepsi Kristen ini dan persepsi para ilmuwan barat yang lebih obyektif dewasa ini, dapat dikelompokkan menjadi empat:
Pertama, Islam adalah agama yang salah dan menyesatkan kebenaran secara sistematis.
Sejak zaman pertengahan, para pemikir Kristen telah membangun bangunan besar yang impresif di sekitar keimanan mereka, agar orang Kristen Eropa Barat yang pendapatnya mirip sama ternyata harus dikatakan berbeda karena cara demikian adalah salah.
Dalam sistem filsafat dan teologinya Thomas Aquinas berpegang kepada pendapat ini, karena sebagian kebenaran dari keimanan Kristen, misalnya eksistensi Tuhan yang dapat dibuktikan oleh akal budi secara rasional, sementara kemaujudan yang lain tergantung atas wahyu.
Sebaliknya paling tidak dapat dipertahankan oleh akal budi dan asal-usul ilahiah dari kebenaran-kebenaran itu didukung oleh mu'jizat yang mengikuti orang-orang yang menyatakan kebenaran-kebenaran tersebut.
Baca juga: Ketika Orientalis Montgomery Watt Bicara tentang Kesempurnaan dan Kemandirian Islam
Apa yang dinyatakan oleh Nabi Muhammad SAW adalah benar, namun ajaran Nabi Muhammad SAW ini bercampur-aduk dengan ajaran-ajaran yang ada di dalam kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dan pernyataan-pernyataan Muhammad SAW ini tidak didukung oleh mujizat.
Orang-orang pertama yang mengakui ajaran-ajaran Muhammad ini dikatakan menjadi golongan orang-orang yang berintelegensi rendah. Maka mereka ini lalu menyebarkan ajaran agamanya secara luas sebagai tugas bagi janji-janji yang mengembangkan kesenangan seksual dan ancaman-ancaman kekuatan yang berbahaya (seperti yang kini dijelaskan lebih sempurna).
Penulis-penulis lain lebih jauh melihatnya ketimbang orang yang bernama Thomas Aquinas, bukan saja menyatakan bahwa Nabi Muhammad telah mencampur-adukkan kebenaran dengan kesalahan, melainkan juga bahwa apapun dan dimanapun yang dikatakan Muhammad itu akan dinyatakan sebagai kebenaran, dia tambahkan nafsu yang jahat; pernyataan-pernyataan kebenaran ini dapat dianggap sebagai madu bercampur dengan nafsu dan niat yang tersembunyi.
Kedua, Islam adalah agama yang disebarluaskan dengan pedang dan kekejaman.
Di abad tiga belas dan dua puluh, boleh jadi orang Kristen Eropa barat hanya punya kekaburan ide yang tidak jelas tentang ekspansi Islam abad pertama agama Islam. Bilamana mereka mengetahui Islam abad pertama ini, maka mereka akan sedikit mempunyai perhatian bahwa secara faktual umat Kristen berada di negara-negara pendudukan yang menjadi golongan minoritas yang dilindungi oleh umat Islam.
Dalam menyatakan agama Islam sebagai agama pedang dan kejam, Thomas Aquinas rupanya berpikir bahwa para pengikut Muhammad SAW yang pertama adalah sebagai manusia kejam dan irrasional, yang kemudian membawa orang-orang yang beragama lain dengan kekuatan pedang dan kejam.
Baca juga: 3 Kelemahan Kristen, Titik Temu dengan Islam Menurut Montgomery Watt
Pedro de Alfonso (meninggal tahun 1110 Masehi) menganggap bahwa hal tersebut sebagai aturan dan tatanan Islam "merampok untuk dijadikan tawanan dan membunuh musuh-musuh Tuhan dan nabi mereka, serta menganiaya dan menghancurkan mereka dengan cara apapun."
Implikasi presentasi Islam ini adalah dengan cara mengontraskan bahwa agama Kristen adalah agama perdamaian, yang membujuk umat manusia dengan meyakinkan kebenaran ajaran-ajarannya. Maka sungguh aneh kalau agama Kristen ini sudah harus dianggap sebagai agama perdamaian di satu saat ketika umat Kristen barat terjun dan menyatakan ikut berpartisipasi dalam Perang Salib.
Hanya dapat dikatakan bahwa sebagian terbesar penyokong Perang Salib ini tidak memikirkan tujuan mereka, bahkan sebagiannya sebagai orang-orang masuk Islam namun hanya sebagai pemelihara tempat-tempat suci untuk para peziarah Kristen.
Thomas Aquinas mencurahkan perhatiannya untuk menyebarkan keimanan Kristen, namun orang-orang yang tidak beriman sekalipun para tawanan perang yang berada di tangan Kristen, tidak boleh dipaksa untuk masuk agama Kristen dengan kekuatan pedang. Bahkan Thomas Aquinas juga berpegang kepada pendapat bahwa sudah waktunya umat Kristen untuk maju perang demi membela umat tak beriman dari gangguan dan rintangan keimanan Kristen.
Baca juga: Peradaban Islam Menurut John Louis Esposito
Ketiga, Islam adalah agama yang memperturutkan suara hatinya sendiri. Dalam persepsi kehidupan seksual umat Islam sehari-hari adalah akal budi yang memainkan peranan besar. Dikatakan bahwa seorang muslim lelaki boleh mempunyai isteri lebih dari satu, atau banyak isteri, bukan hanya empat isteri sebagaimana yang dinyatakan dalam hukum, namun boleh mempunyai isteri sampai tujuh atau sepuluh atau bahkan lebih dari itu.
Dibolehkannya mempunyai isteri banyak ini diketahui bahwa kehidupan di Surga kelak menjanjikan sekelompok orang wanita cantik-cantik dengan gairah birahi yang tinggi, sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur'an.
Baca juga: Orientalis Montgomery Watt Kupas Ramalan Bibel tentang Nabi Muhammad SAW
Berbeda dengan buku-buku tentang Islam yang banyak berisikan rujukan-rujukan insidental dan karya-karya buku ini mengabaikan tambahan-tambahan sampai penyimpanan ilmu pengetahuan asli. Bahkan di balik semua ini, para ilmuwan berikhtiar memproduksi image Islam yang dalam banyak cara terdistorsi secara serius, dengan menggantikan image Islam dan suara Islam yang benar.
Image salah terhadap Islam ini ternyata telah disetujui oleh Ricoldo da Monte Croce (meninggal tahun 1321 Masehi) waktu menulis bukunya yang juga dikenal sebagai "Perselisihan golongan Sarasen dan Al-Qur'an" dalam bukunya Improhatio alchorani.
Thomas Aquinas sendiri bukanlah mahasiswa yang belajar Islam, melainkan sadar akan perlunya memberantas kesalahan pada kepercayaan Islam dan perlunya menghadirkan kepercayaan Kristen dengan cara yang rasional.
Bukunya, Summa contra Gentiles sebagian ditujukan untuk menyerang umat Islam, bahkan dia menulis sebuah buku ringkasan, De rationibus fidei contra Saracemos, Graecos et Armenos.
Dia membantu Peter Yang Mulia untuk mengubah umat Islam, terutama barangkali berpikir tentang umat Islam yang berada di bawah kekuasaan Kristen di Spanyol. Dari karya-karyanya dan karya-karya lain dalam waktu yang sama, kita dapatkan ide tentang Islam yang telah menjadi standar persepsi Kristen.
Empat Persepsi
Persepsi ini merupakan persepsi yang mempunyai tempat sentral dalam pemikiran Eropa hingga akhir abad sembilan belas. Perbedaan antara persepsi Kristen ini dan persepsi para ilmuwan barat yang lebih obyektif dewasa ini, dapat dikelompokkan menjadi empat:
Pertama, Islam adalah agama yang salah dan menyesatkan kebenaran secara sistematis.
Sejak zaman pertengahan, para pemikir Kristen telah membangun bangunan besar yang impresif di sekitar keimanan mereka, agar orang Kristen Eropa Barat yang pendapatnya mirip sama ternyata harus dikatakan berbeda karena cara demikian adalah salah.
Dalam sistem filsafat dan teologinya Thomas Aquinas berpegang kepada pendapat ini, karena sebagian kebenaran dari keimanan Kristen, misalnya eksistensi Tuhan yang dapat dibuktikan oleh akal budi secara rasional, sementara kemaujudan yang lain tergantung atas wahyu.
Sebaliknya paling tidak dapat dipertahankan oleh akal budi dan asal-usul ilahiah dari kebenaran-kebenaran itu didukung oleh mu'jizat yang mengikuti orang-orang yang menyatakan kebenaran-kebenaran tersebut.
Baca juga: Ketika Orientalis Montgomery Watt Bicara tentang Kesempurnaan dan Kemandirian Islam
Apa yang dinyatakan oleh Nabi Muhammad SAW adalah benar, namun ajaran Nabi Muhammad SAW ini bercampur-aduk dengan ajaran-ajaran yang ada di dalam kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dan pernyataan-pernyataan Muhammad SAW ini tidak didukung oleh mujizat.
Orang-orang pertama yang mengakui ajaran-ajaran Muhammad ini dikatakan menjadi golongan orang-orang yang berintelegensi rendah. Maka mereka ini lalu menyebarkan ajaran agamanya secara luas sebagai tugas bagi janji-janji yang mengembangkan kesenangan seksual dan ancaman-ancaman kekuatan yang berbahaya (seperti yang kini dijelaskan lebih sempurna).
Penulis-penulis lain lebih jauh melihatnya ketimbang orang yang bernama Thomas Aquinas, bukan saja menyatakan bahwa Nabi Muhammad telah mencampur-adukkan kebenaran dengan kesalahan, melainkan juga bahwa apapun dan dimanapun yang dikatakan Muhammad itu akan dinyatakan sebagai kebenaran, dia tambahkan nafsu yang jahat; pernyataan-pernyataan kebenaran ini dapat dianggap sebagai madu bercampur dengan nafsu dan niat yang tersembunyi.
Kedua, Islam adalah agama yang disebarluaskan dengan pedang dan kekejaman.
Di abad tiga belas dan dua puluh, boleh jadi orang Kristen Eropa barat hanya punya kekaburan ide yang tidak jelas tentang ekspansi Islam abad pertama agama Islam. Bilamana mereka mengetahui Islam abad pertama ini, maka mereka akan sedikit mempunyai perhatian bahwa secara faktual umat Kristen berada di negara-negara pendudukan yang menjadi golongan minoritas yang dilindungi oleh umat Islam.
Dalam menyatakan agama Islam sebagai agama pedang dan kejam, Thomas Aquinas rupanya berpikir bahwa para pengikut Muhammad SAW yang pertama adalah sebagai manusia kejam dan irrasional, yang kemudian membawa orang-orang yang beragama lain dengan kekuatan pedang dan kejam.
Baca juga: 3 Kelemahan Kristen, Titik Temu dengan Islam Menurut Montgomery Watt
Pedro de Alfonso (meninggal tahun 1110 Masehi) menganggap bahwa hal tersebut sebagai aturan dan tatanan Islam "merampok untuk dijadikan tawanan dan membunuh musuh-musuh Tuhan dan nabi mereka, serta menganiaya dan menghancurkan mereka dengan cara apapun."
Implikasi presentasi Islam ini adalah dengan cara mengontraskan bahwa agama Kristen adalah agama perdamaian, yang membujuk umat manusia dengan meyakinkan kebenaran ajaran-ajarannya. Maka sungguh aneh kalau agama Kristen ini sudah harus dianggap sebagai agama perdamaian di satu saat ketika umat Kristen barat terjun dan menyatakan ikut berpartisipasi dalam Perang Salib.
Hanya dapat dikatakan bahwa sebagian terbesar penyokong Perang Salib ini tidak memikirkan tujuan mereka, bahkan sebagiannya sebagai orang-orang masuk Islam namun hanya sebagai pemelihara tempat-tempat suci untuk para peziarah Kristen.
Thomas Aquinas mencurahkan perhatiannya untuk menyebarkan keimanan Kristen, namun orang-orang yang tidak beriman sekalipun para tawanan perang yang berada di tangan Kristen, tidak boleh dipaksa untuk masuk agama Kristen dengan kekuatan pedang. Bahkan Thomas Aquinas juga berpegang kepada pendapat bahwa sudah waktunya umat Kristen untuk maju perang demi membela umat tak beriman dari gangguan dan rintangan keimanan Kristen.
Baca juga: Peradaban Islam Menurut John Louis Esposito
Ketiga, Islam adalah agama yang memperturutkan suara hatinya sendiri. Dalam persepsi kehidupan seksual umat Islam sehari-hari adalah akal budi yang memainkan peranan besar. Dikatakan bahwa seorang muslim lelaki boleh mempunyai isteri lebih dari satu, atau banyak isteri, bukan hanya empat isteri sebagaimana yang dinyatakan dalam hukum, namun boleh mempunyai isteri sampai tujuh atau sepuluh atau bahkan lebih dari itu.
Dibolehkannya mempunyai isteri banyak ini diketahui bahwa kehidupan di Surga kelak menjanjikan sekelompok orang wanita cantik-cantik dengan gairah birahi yang tinggi, sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur'an.
Lihat Juga :