Isra wal Mi'raj dan Wabah Covid-19

loading...
Isra wal Miraj dan Wabah Covid-19
Isra wal Mi'raj dan Wabah Covid-19
Imam Shamsi Ali
Presiden Nusantara Foundation
Pendiri Pesantren Nur Inka Nusantara Madani USA


Di tengah kehebohan dunia tentang virus Corona atau Covid-19 saat ini, banyak umat lupa bahwa saat ini tengah berada di bulan mulia. Salah satu bulan yang Allah doakan keberkahannya bersama sebulan setelahnya.

"Allahumma baarik lanaa fii Rajab wa Sya'baan wa ballighna Ramadhan" (Ya Allah berkahi untuk kami bulan Rajab dan Sya'ban dan berikan kesempatan kepada kami untuk sampai ke bulan Ramadan".

Tentu doa ini bukan tidak punya maksud mulia dan khusus. Allah yang Maha tahu. Tapi mungkin salah satu makna dibalik dari doa tersebut adalah mengingatkan umat agar mempersiapkan diri untuk memasuki bulan mulia, bulan yang penuh barokah, bukan rahmah dan maghfirah Ilahi. Bulan yang ditunggu-tunggu oleh manusia yang di hatinya terpatri cahaya iman. Itulah bulan Ramadhan.

Khusus di bulan Rajab ini ternyata ada sebuah peristiwa maha penting dalam sejarah Islam, yang biasanya diperingati begitu dekat dan meriah, kini malah hampir terlupakan. Itulah peristiwa Isra dan Mi'raj Rasulullah SAW.

Saya menyebutnya maha penting karena ada empat fase terpenting dalam sejarah Islam, yaitu:
1. Nuzulul Quran sebagai awal hadirnya risalah terakhir ke bumi ini.
2. Isra' Mi'raj sebagai awal momentum kebangkitan umat secara individual.
3. Hijrah sebagai momentum awal kebangkitan umat secara kolektif.
4. Fathu Makkah sebagai simbol kebangkitan Islam global.

Isra' Mi'raj dan Soliditas Iman

Peristiwa Isra Mi'raj didahului oleh masa-masa tersulit dalam perjalanan dakwah baginda Rasulullah SAW . Kemarahan dan permusuhan kaum Quraish kepada Rasulullah SAW dan pengikutnya menjadikan keluarga Rasulullah secara keseluruhan, Bani Hasyim, diboikot. Mereka pun mengalami kesulitan yang tidak terbayangkan (unimaginable).

Di tengah kesulitan itu, dan di saat-saat Rasulullah SAW memerlukan dukungan moril, dua orang pendukung moril terkuat beliau juga meninggal dunia. Isteri tercinta beliau, Khadijah RA, yang merupakan penopang utama secara internal meninggal dunia. Dan paman tercinta beliau, Abu Thalib, yang merupakan penopang eksternal utama beliau juga meninggal dunia.

Kematian kedua orang tercinta itu di tengah tekanan musuh-musuh beliau, Rasulullah SAW merasakan seolah dunia ini begitu sempit. Seolah di hadapan beliau tiada lagi setitik sinar harapan itu. Seolah semua telah berakhir.

Di tengah gelap gulita alam sekitar ketika itulah Allah Yang Maha Rahman membuka pintu kasihNya bagi hambaNya yang paling mulia. "Abduhu" adalah panggilan bagi hamba yang mulia itu. Allah memperjalankannya di malam hari dalam dua dimensi perjalanan suci.

Kedua dimensi itu adalah dimensi horizontal dan dimensi vertikal. Perjalanan horizontal itulah yang dikenal dengan Al-Isra. Dan perjalanan vertical lebih dikenal dengan Al-Mi'raj.

Saya tentunya tidak perlu lagi membicarakan apa dan bagaimana terjadinya peristiwa itu. Saya justru lebih tertarik untuk berbicara tentang relevansi Isra' Mi'raj di tengah terpaan musibah Covid 19 saat ini. Saya yakin bahwa semua peristiwa yang terjadi dalam sejarah Islam punya makna-makna relevan dengan hidup manusia.

Sejarah bukan untuk dihafal, justru untuk diambil hikmah-hikmahnya. Mungkin ungkapan Al-Qur'an yang paling tepat adalah bahwa pada sejarah itu ada "ibrah" atau pelajaran bagi kehidupan manusia.

Oleh karena saat ini kita berada dalam suasana goncangan virus Corona, saya mencoba menemukan relevasi sejarah Isra Mi'raj dan cobaan Corona tersebut. Adakah relevansinya? Dan jika ada di mana saja?

Saya membatasi 3 pelajaran penting yang saya anggap sangat relevan dari Isra Mi'raj dalam konteks goncangan cobaan virus Corona ini.

Pertama, tidak dapat disangkal bahwa goncangan yang diakibatkan Corona saat ini memang luar biasa (unprecedented). Bahkan mungkin boleh saja di luar dari imajinasi dan nalar biasa manusia (beyond our imagination and human capacity).

Betapa tidak. Barangkali baru kali ini dalam sejarah hampir di semua negara masjid-masjid pada menutup diri dari sholat-sholat lima waktu dan Jumatan. Bahkan di Saudi Arabia semua masjid-masjid meniadakan sholat Jumat kecuali masjidil haram dan masjid an-Nabawi. Itupun hanya bersifat simbolik yang diikuti oleh segelintir jamaah.

Di Amerika Serikat organisasi Islam, termasuk majelis ulama seperti Fiqh Council of North America, AMJA atau Ikatan Ahli Fiqh Amerika, dan lain-lain semuanya sepakat untuk sementara meniadakan salat-salat lima waktu dan Jumatan di masjid-masjid.

Bagi saya pribadi, tidak ada cobaan yang lebih besar dari hal tersebut di atas. Dan karenanya saya anggap merebaknya wabah Corona ini adalah tantangan besar yang sedang hadir di hadapan umat Islam.

Hal ini mengingatkan kita bagaimana tantangan yang hadir di hadapan Rasulullah SAW sebelum diperjalankan oleh Allah SWT. Tapi satu hal yang beliau contohkan kepada kita adalah justru tantangan itu dijadikan oleh beliau sebagai momentum untuk mengetuk pintu-pintu langit, memohon intervensi suci (divine intervention).

Allah pun Yang Maha Kasih kepada hambaNya turun tangan meringankan beban batin sang hamba dengan sebuah Perjalanan suci. Perjalanan itu bagaikan "way out" dari gelapnya keadaan yang meliputi baginda Rasulullah SAW.
halaman ke-1
preload video