Isra' Mi'raj dan Dunia Global

Senin, 23 Maret 2020 - 16:54 WIB
A A A
Jelas ini tidak rasional. Karena kontra terhadap kekuasaan dan tabiatNya Sebagai Tuhan. Bahwa Tuhan itu tidak punya keterbatasan. Tapi di sisi lain Tuhan tidak akan membatasi diri dengan sesuatu yang justeru menjatuhkan dirinya dari kepada keterbatasan. Mewujudkan diriNya menjadi makhluk menjadikanNya terbatas. Maka terjadi "self contradictory" atau paradoks dari ketuhanan itu sendiri.

Kedua, benarkah Al-Qur'an tidak menyebutkan Mi'raj sama sekali?

Kekeliruan para pengingkar Isra Mi'raj adalah karena mereka membaca satu ayat Al-Qur'an tanpa mencoba menelusuri rimba ilmu-ilmu yang ada dalam Al-Qur'an. Mereka dengan sangat simplistik mengambil kesimpulan tanpa pendalaman. Maka pada umumnya mereka hanya membaca ayat pertama dari Surah Al-Isra untuk mengambil kesimpulan.

Padahal jika mereka mencoba mengkaji Al-Qur'an lebih jauh akan mereka dapati beberapa ayat lain dalam Al-Qur'an yang sangat relevan dengan peristiwa Mi'raj Rasulullah SAW. Lihat misalnya Surah yang sama (Al-Isra) ayat 12-18.

Allah menegaskan: "Maka apakah kamu akan membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sesungguhnya Muhammad telah melihatnya (Jibril dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain. Yaitu di sisi Sidratul Muhtaha. Di dekatnya Ada syurga tempat tinggal, (Muhammad melihatnya) ketika di Sidratul Muntaha ditutupi oleh sesuatu yang menutupi. Penglihatannya (Muhammad) tidak menyalahi dari apa yang dilihatnya atau melebih-lebihkan. Sesungguhnya dia telah melihat sebagian tanda-tanda kekuasaan Tuhannya yang besar".

Berikut beberapa ahli yang menyebutkan hal ini dalam kajian tafsirnya.

Tafsir Al-Mukhtashor: dan sesungguhnya Muhammad SAW telah melihat kembali Jibril dalam bentuk aslinya di malam isra Mi'raj.

Zubdatut Tafsir: Yakni Muhammad telah melihat Jibril dalam rupanya yang asli pada waktu yang lain. Yaitu ketika malam Isra Mi'raj.

Untuk menguatkan itu, para ahli tafsir kemudian mengaitkan kata melihat itu dengan kalimat: di sisi Sidratul Muntaha.

Tafsir Al-Mukhtashor: Sidratul Muntaha yaitu pohon besar sekali berada di langit ketujuh.

Dan banyak lagi tafsiran yang menguatkan bahwa ayat 12-18 dari Surah Al-Isra itu menegaskan bahwa interaksi langsung yang terjadi antarta Muhammad dan Jibril itu bukan di bumi. Tapi di Sidratul Muntaha yang Allah Maha Tahu rinciannya.

Saya tidak perlu menuliskan lagi semua ayat-ayat Al-Qur'an tersebut. Tapi untuk memudahkan bagi para pengingkar, saya tuliskan beberapa ayat lagi untuk menjadi rujukan, antara lain: Surah An-Najm:15 dan Surah Al-Isra: 60. Juga Surah At-Takwir: 23.

Sekali lagi, menyimpulkan bahwa Al-Qur'an tidak menyebutkan sama sekali peristiwa Mi'raj Rasulullah SAW adalah kecerebohon dan kebodohan bahkan keangkuhan. Kenyataannya jika metode memahami Al-Qur'an dipahami secara baik akan di dapati ayat-ayat yang secara langsung sangat relevan dengan peristiwa Mi'raj Rasululllah SAW.

Ketiga, salah satu juga alasan yang dipakai sebagian mereka yang mengingkari Mi'raj Rasul adalah karena menganggap dengan naiknya Muhammad SAW kita menentukan tempat Allah di langit. Padahal Allah itu di mana saja akan bersama kita. Dengan kata lain Allah itu tidak terbatas oleh ruang (tempat) dan tentu juga waktu.

Konsep bahwa Allah tidak dibatasi oleh ruang atau tempat benar. "Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada" (Al-Quran). Tapi salahkah ketika Allah ingin menerima hambaNya yang mulia (abduhu) di alam tetinggi (Sidratul muntaha)? Penyebutan Sidratul Muntaha sama sekali tidak bermaksud sebagai pembatasan tempat Allah SWT.

Ada banyak hadis-hadis mutawathir yang menyebutkan proses Perjalanan Rasulullah SAW secara vertikal (Mi'raj) pada malam itu. Satu di antaranya adalah dalam Sahih Al-Bukhari disebutkan:

"Kemudian Nabi menoleh ke arah Jibril seolah meminta pendapat mengenai itu (jumlah rakaat sholat). Kemudian Jibril mengisyaratkan pada beliau: Iya. Bila kamu menghendaki keringanan untuk itu. Lalu nabi naik kepada Rabb sedangkan dia (nabi) di tempatnya dan berkata: "Ya Rabb, ringankanlah untuk kami. Sesungguhnya umat ku tidak mampu melakukan ini". (HR Al-Bukhari).

Imam Al-Asqalani menyebutkan: bahwa kalimat "dan dia pada tempatnya" maksudnya tempat Muhammad ketika menerima pentintah itu awalnya. Yaitu di Sidratul Muntaha.

Saya tidak ingin menyebutkan lagi semua riwayat hadits yang menguatkan Perjalanan vertikal (Mi'raj) Rasulullah SAW. Tapi intinya adalah bahwa mengingkarinya peristiwa Mi'raj boleh jadi tanpa sadar justeru mengingkari ayat-ayat Al-Qur'an dan hadis-hadis Rasulullah SAW.

Saya ingin tegaskan sekali lagi. Ketidakmampuan dan keterbatasan akalmu memahami peristiwa ini bukan alasan untuk anda mengatakan bahwa peristiwa Isra dan Mi'raj itu tidak rasional atau tidak masuk akal.
Halaman :
Copyright © 2023 SINDOnews.com
berita/ rendering in 0.1313 seconds (10.101#12.26)