Ketenangan Hati

Selasa, 08 Juli 2014 - 13:51 WIB
Ketenangan Hati
Ketenangan Hati
A A A
Sudan lama Abu Nawas tidak dipanggil ke istana untuk menghadap Baginda. Abu Nawas juga sudah lama tidak muncul di kedai teh. Kawan-kawan Abu Nawas banyak yang merasa kurang bergairah tanpa kehadiran Abu Nawas. Tentu saja keadaan kedai tak semarak karena Abu Nawas si pemicu tawa tidak ada.

Suatu hari ada seorang laki-laki setengah baya ke kedai teh menanyakan Abu nawas. la mengeluh bahwa ia tidak menemukan jalan keluar dari rnasalah pelik yang dihadapi. Salah seorang teman Abunawas ingin mencoba menolong.

“Cobalah utarakan kesulitanmu kepadaku barang-kali aku bisa membantu,” kata kawan Abu nawas.

“Baiklah. Aku mempunyai rumah yang amat sempit. Sedangkan aku tinggal bersama istri dan kedelapan anak-anakku. Rumah itu kami rasakan terlalu sempit sehingga kami tidak merasa bahagia,” kata orang itu membeberkan kesulitannya.

Kawan Abu Nawas tidak mampu memberikan jalan keluar, juga yang lainnya. Sehingga mereka menyarankan agar orang itu pergi menemui Abu Nawas di rumahnya saja.

Orang itu pun pergi ke rumah Abu Nawas. Dan kebetulan Abu Nawas sedang mengaji. Setelah mengutarakan kesulitan yang sedang dialami, Abu Nawas bertanya kepada orang itu. “Punyakah engkau seekor domba?”

“Tidak tetapi aku mampu membelinya,” jawab orang itu.

“Kalau begitu belilah seekor dan tempatkan domba itu di dalam rumahmu,” Abu nawas menyarankan. Orang itu tidak membantah. la langsung membeli seekor domba seperti yang disarankan Abunawas.

Beberapa hari kemudian orang itu datang lagi menemui Abu Nawas. “Wahai Abu Nawas, aku telah melaksanakan saranmu, tetapi rumahku bertambah sesak. Aku dan keluargaku merasa segala sesuatu menjadi lebih buruk dibandingkan sebelum tinggal bersama domba.” kata orang itu mengeluh.

“Kalau begitu belilah lagi beberapa ekor unggas dan tempatkan juga mereka di dalam rumahmu,” kata Abu Nawas.

Orang itu tidak membantah. la langsung membeli beberapa ekor unggas yang kemudian dimasukkan ke dalam rumahnya. Beberapa hari kemudian orang itu datang lagi ke rumah Abu Nawas.

“Wahai Abu Nawas, aku telah melaksanakan saran-saranmu dengan menambah penghuni rumahku dengan beberapa ekor unggas. Namun begitu aku dan keluargaku semakin tidak betah tinggal di rumah yang makin banyak penghuninya. Kami bertambah merasa tersiksa,” kata orang itu dengan wajah yang semakin muram.

“Kalau begitu belilah seekor anak unta dan peliharalah di dalam rumahmu,” kata Abu Nawas menyarankan.
Orang itu tidak membantah. Dia langsung ke pasar hewan membeli seekor anak unta untuk dipelihara di dalam rumahnya.

Beberapa hari kemudian orang itu datang lagi menemui Abu Nawas. la berkata, “Wahai Abu Nawas, tahukah engkau bahwa keadaan di dalam rumahku sekarang hampir seperti neraka. Semuanya berubah menjadi lebih mengerikan dari pada hari-hari sebelumnya. Wahai Abu Nawas, kami sudah tidak tahan tinggal serumah dengan binatang-binatang itu,” kata orang itu putus asa.

“Baiklah, kalau kalian sudah merasa tidak tahan maka juallah anak unta itu,” kata Abu Nawas. Orang itu tidak membantah. la langsung menjual anak unta yang baru dibelinya.

Beberapa hari kemudian Abu Nawas pergi ke rumah orang itu. “Bagaimana keadaan kalian sekarang?” Abu Nawas bertanya.

“Keadaannya sekarang lebih baik karena anak unta itu sudah tidak lagi tinggal di sini,” kata orang itu tersenyum.

“Baiklah, kalau begitu sekarang juallah unggas-unggasmu,” kata Abu Nawas. Orang itu tidak membantah. la langsung menjual unggas-unggasnya.

Beberapa hari kemudian Abu Nawas mengunjungi orang itu. “Bagaimana keadaan rumah kalian sekarang ?” Abu Nawas bertanya.

“Keadaan sekarang lebih menyenangkan karena unggas-unggas itu sudah tidak tinggal bersama kami,” kata orang itu dengan wajah ceria.

“Baiklah kalau begitu sekarang juallah domba itu.” kata Abu Nawas. Orang itu tidak membantah. Dengan senang hati ia langsung menjual dombanya.

Beberapa hari kemudian Abu Nawas bertamu ke rumah orang itu. la bertanya, “Bagaimana keadaan rumah kalian sekarang?”

“Kami merasakan rumah kami bertambah luas karena binatang-binatang itu sudah tidak lagi tinggal bersama
kami. Dan kami sekarang merasa lebih berbahagia daripada dulu. Kami mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepadamu hai Abu Nawas.” kata orang itu dengan wajah berseri-seri.

“Sebenarnya batas sempit dan luas itu tertancap dalam pikiranmu. Kalau engkau selalu bersyukur atas nikmat dari Tuhan maka Tuhan akan mencabut kesempitan dalam hati dan pikiranmu,” kata Abu Nawas menjelaskan.

Dan sebelum Abu Nawas pulang, ia bertanya kepada orang itu, “Apakah engkau sering berdoa?”

“Ya.” jawab orang itu.

“Ketahuilah bahwa doa seorang hamba tidak mesti diterima oleh Allah karena manakala Allah membuka pintu pemahaman kepada engkau ketika Dia tidak memberi engkau, maka ketiadaan pemberian itu merupakan pemberian yang sebenarnya.”
(hyk)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Canda Ala Sufi: Pengaruh...
Canda Ala Sufi: Pengaruh Amoniak untuk Obat Malas
Canda Ala Sufi: Kue...
Canda Ala Sufi: Kue Harisah, Keledai, dan Hammad
Canda Ala Sufi: Selamat...
Canda Ala Sufi: Selamat karena Saran Seorang Teman
Canda Ala Sufi: Andai...
Canda Ala Sufi: Andai Aku Hidup, Kuperlihatkan Pada Kalian
Canda Ala Sufi: Bulan...
Canda Ala Sufi: Bulan Lama, Sapi dan Kotoran Anjing
Canda Ala Sufi: Tak...
Canda Ala Sufi: Tak Disangka, Sapi Itu Berubah Jadi Burung
Rekomendasi
Tukang Kayu Memainkan...
Tukang Kayu Memainkan Peran Penting dalam Peradaban Mesopotamia
NASA Tangkap Sinyal...
NASA Tangkap Sinyal Aneh dari Antartika, Ilmuwan Sebut Fenomena Alam Tak Biasa
Tiga Lempeng Tektonik...
Tiga Lempeng Tektonik Aktif Pemicu Gempa Bumi di Indonesia
Artikel Terkini
Kisah Hikmah : Perempuan...
Kisah Hikmah : Perempuan yang Sering Menangis karena Allah
Islam Menganjurkan Pernikahan...
Islam Menganjurkan Pernikahan Diumumkan ke Publik, Begini Alasannya!
Adakah Hak atas Harta...
Adakah Hak atas Harta bagi Anak dan Istri Siri Bila Terjadi Perceraian?
Sah Tapi Beresiko, Ini...
Sah Tapi Beresiko, Ini Dampak Nikah Siri bagi Istri dan Anak
4 Jenis Nikah Siri Beserta...
4 Jenis Nikah Siri Beserta Hukumnya dalam Islam, Mana yang Sah dan Mana yang Tidak?
Bolehkah Pernikahan...
Bolehkah Pernikahan Siri Digugat Cerai? Ini Penjelasan Hukum Islam dan Aturan di Indonesia
Infografis
7 Ilmuwan Islam Paling...
7 Ilmuwan Islam Paling Berpengaruh Sepanjang Masa
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved