Ada Duka dan Ada Pesta Saat Sultan Muhammad Al-Fatih Wafat
Jum'at, 24 Juli 2020 - 05:00 WIB
Ash-Shalabi menyebutkan ada satu misteri besar yang tidak terpecahkan ketika Sultan Al Fatih mendadak wafat dalam perjalanan jihad. Misteri itu adalah: “Kemana arah tujuan Sultan dengan pasukan besar yang dibawanya? Wilayah mana yang akan beliau serang dalam rangka jihad fi sabilillah?”
Baca juga: Sembahyang Terakhir di Hagia Sophia, Kisah Haru Jelang Takluknya Konstantinopel
“Nah, pertanyaan-pertanyaan ini tidak terjawab. Tidak ada yang tahu arah gerakan pasukan Sultan, selain dirinya sendiri dan Allah Al ‘Alim,” ujar Ash-Shalabi.
Banyak pendapat berkembang di tengah manusia tentang masalah ini. Apakah Sultan bermaksud menyerang Rhodesia untuk membuka kepulauan itu yang sebelumnya tidak bisa ditaklukkan oleh Masih Pasya? Atau dia sedang bersiap-siap bergabung dengan tentaranya di Italia Selatan, lalu setelah itu berangkat ke Roma, Perancis Utara, dan Spanyol? Semua ini tetap menjadi misteri. Rahasiia ini terkubur bersama jasad Sultan yang dimakamkan ke bumi dengan penuh kehormatan.
Baca juga: Armada Laut Utsmani Kian Perkasa Setelah Taklukkan Konstantinopel
Menurut Ash-Shalabi, adalah merupakan kebiasaan Sultan Al-Fatih untuk merahasiakan arah gerakan tentaranya saat melakukan serangan. Dia selalu menjaga rahasia serapat-rapatnya, sehingga hal itu membuat musuh-musuhnya lalai dan bingung. Mereka tidak tahu, kapan serangan akan datang dari pasukan Utsmani? Saat mereka lengah, Sultan tiba-tiba melakukan serangan mendadak, sehingga tidak memberikan peluang kepada musuh untuk melakukan persiapan secara maksimal.
Suatu hari, pernah ada seorang hakim bertanya kepada Sultan, ke mana dia akan melakukan serangan? Sultan menjawab, “Andaikata seuntai rambut yang ada di kepalaku ini tahu, ke mana aku akan melakukan serangan, maka seketika itu akan aku lempar rambut itu ke dalam api."
Kesedihan
Kaum muslimin di seluruh dunia sangat terpukul dengan kematian Sultan Muhammad Al-Fatih. Mereka merasakan kesedihan mendalam. Kaum muslimin merasa sangat berduka atas kematian ini. Kemenangan-kemenangan yang telah dicapai oleh Sultan, hal itu menumbuhkan kebanggaan dalam diri mereka, sekaligus mengingatkan mereka akan jejak perjuangan para salafus saleh. (Baca juga: Al-Fatih Sebaik-Baik Pemimpin, Pasukannya Sebaik-baik Pasukan )
Abdul Hayy bin Al 'lmad Al-Hanbali mengatakan dalam bab orang-orang yang meninggal pada tahun 886 H: Dia merupakan Sultan yang paling agung dari kalangan Bani Utsmani. Dia adalah raja utama yang memiliki sifat-sifat mulia. Raja terbesar yang selalu melakukan jihad. Dia adalah raja yang paling mampu melakukan ijtihad dan paling kokoh memegang pendirian. Dia raja yang paling bertawakkal kepada Allah. Dialah yang menegakkan Kerajaan Bani Utsman dan membuat undang-undang yang menjadi pengikat di perjalanan waktu. Dia memiliki riwayat dan perjalanan hidup yang indah, memukau, serta memiliki banyak kelebihan.
Baca juga: Ketika Sultan Muhammad Al-Fatih Ubah Daratan Menjadi Lautan
Dia memiliki peninggalan di lipatan siang dan malam, yang akan senantiasa dicatat dalam perputaran waktu dan zaman. Dia telah melancarkan perang yang menghancurkan salib-salib dan berhala-berhala.
Pekerjaan paling besar yang dia capai adalah penaklukkan Kota Konstantinopel. Dia telah mampu menyerang kota itu dari darat dan laut dengan mengggunakan kapal-kapal. Tentaranya telah mampu menyerang kota itu dengan kuda-kudanya, dan pasukan-pasukan yang penuh kesatria. Selama 50 hari, dia mengepung kota itu dengan pengepungan ketat.
Baca juga: Sembahyang Terakhir di Hagia Sophia, Kisah Haru Jelang Takluknya Konstantinopel
“Nah, pertanyaan-pertanyaan ini tidak terjawab. Tidak ada yang tahu arah gerakan pasukan Sultan, selain dirinya sendiri dan Allah Al ‘Alim,” ujar Ash-Shalabi.
Banyak pendapat berkembang di tengah manusia tentang masalah ini. Apakah Sultan bermaksud menyerang Rhodesia untuk membuka kepulauan itu yang sebelumnya tidak bisa ditaklukkan oleh Masih Pasya? Atau dia sedang bersiap-siap bergabung dengan tentaranya di Italia Selatan, lalu setelah itu berangkat ke Roma, Perancis Utara, dan Spanyol? Semua ini tetap menjadi misteri. Rahasiia ini terkubur bersama jasad Sultan yang dimakamkan ke bumi dengan penuh kehormatan.
Baca juga: Armada Laut Utsmani Kian Perkasa Setelah Taklukkan Konstantinopel
Menurut Ash-Shalabi, adalah merupakan kebiasaan Sultan Al-Fatih untuk merahasiakan arah gerakan tentaranya saat melakukan serangan. Dia selalu menjaga rahasia serapat-rapatnya, sehingga hal itu membuat musuh-musuhnya lalai dan bingung. Mereka tidak tahu, kapan serangan akan datang dari pasukan Utsmani? Saat mereka lengah, Sultan tiba-tiba melakukan serangan mendadak, sehingga tidak memberikan peluang kepada musuh untuk melakukan persiapan secara maksimal.
Suatu hari, pernah ada seorang hakim bertanya kepada Sultan, ke mana dia akan melakukan serangan? Sultan menjawab, “Andaikata seuntai rambut yang ada di kepalaku ini tahu, ke mana aku akan melakukan serangan, maka seketika itu akan aku lempar rambut itu ke dalam api."
Kesedihan
Kaum muslimin di seluruh dunia sangat terpukul dengan kematian Sultan Muhammad Al-Fatih. Mereka merasakan kesedihan mendalam. Kaum muslimin merasa sangat berduka atas kematian ini. Kemenangan-kemenangan yang telah dicapai oleh Sultan, hal itu menumbuhkan kebanggaan dalam diri mereka, sekaligus mengingatkan mereka akan jejak perjuangan para salafus saleh. (Baca juga: Al-Fatih Sebaik-Baik Pemimpin, Pasukannya Sebaik-baik Pasukan )
Abdul Hayy bin Al 'lmad Al-Hanbali mengatakan dalam bab orang-orang yang meninggal pada tahun 886 H: Dia merupakan Sultan yang paling agung dari kalangan Bani Utsmani. Dia adalah raja utama yang memiliki sifat-sifat mulia. Raja terbesar yang selalu melakukan jihad. Dia adalah raja yang paling mampu melakukan ijtihad dan paling kokoh memegang pendirian. Dia raja yang paling bertawakkal kepada Allah. Dialah yang menegakkan Kerajaan Bani Utsman dan membuat undang-undang yang menjadi pengikat di perjalanan waktu. Dia memiliki riwayat dan perjalanan hidup yang indah, memukau, serta memiliki banyak kelebihan.
Baca juga: Ketika Sultan Muhammad Al-Fatih Ubah Daratan Menjadi Lautan
Dia memiliki peninggalan di lipatan siang dan malam, yang akan senantiasa dicatat dalam perputaran waktu dan zaman. Dia telah melancarkan perang yang menghancurkan salib-salib dan berhala-berhala.
Pekerjaan paling besar yang dia capai adalah penaklukkan Kota Konstantinopel. Dia telah mampu menyerang kota itu dari darat dan laut dengan mengggunakan kapal-kapal. Tentaranya telah mampu menyerang kota itu dengan kuda-kudanya, dan pasukan-pasukan yang penuh kesatria. Selama 50 hari, dia mengepung kota itu dengan pengepungan ketat.
Lihat Juga :