Ada Duka dan Ada Pesta Saat Sultan Muhammad Al-Fatih Wafat

Jum'at, 24 Juli 2020 - 05:00 WIB
Baca juga: Pecat Syaikh Kurani sebagai Hakim, Sultan Muhammad Al-Fatih Menyesal

Dia telah menyempitkan ruang gerak orang-orang kafir dan jahat yang berada di dalam Kota Konstantinopel. Dia telah menghunus pedangnya di kota itu. Dalam kancah perang itu, dia berlindung di bawah perlindungan Allah yang tidak tertembus.

Dia telah mengetuk dan berusaha menembus pintu kemenangan berkali-kali. Hingga akhirnya, berkat kesabarannya, Allah menurunkan malaikat Raqib; dan dengan pertolongan Allah, takluklah Kota Istambul pada hari ke-51 dari awal pengepungan. Itu terjadi tepat pada ‘tanggal 24 Iumadil Akhir tahun 857 H.

Baca juga: Begini Cara Sultan Muhammad Al-Fatih Memuliakan Ulama

Dia melakukan Shalat Jum’at pertama di sebuah masjid, bekas gereja terbesar, Ayya Sofia yang memiliki kubah menjulang ke langit, menyerupai kubah-kubah piramid yang tidak lapuk. Dia telah membangun tradisi keilmuan di Istambul yang tidak khawatir matahari keilmuan akan tenggelam di tempat itu. Dia membangun sekolah-sekolah laksana mangkuk besar yang memiliki 8 buah pintu yang demikian gampang untuk dimasuki.

Dia membuat undang-undang yang sesuai dengan akal dan naql.

Semoga Allah melimpahkan pahala-Nya atas perhatiannya kepada para penuntut ilmu dan manhaj hidup yang dilaluinya. Sebab dia telah menutupi semua kebutuhan, tatkala mereka membutuhkan.

Baca juga: Konstantinopel Jadi Islambul: Al-Fatih Berambisi Jadikan Ibu Kota Terindah di Dunia

Dia telah menutupi semua kefakiran sehingga mereka memiliki jiwa yang sadar. Setelah itu dia memberikan kedudukan-kedudukan yang bisa mereka naiki dengan cara yang kokoh, sehingga mereka memperoleh kebahagiaan dunia dan dengannya mencapai kemuliaan akhirat.

Sesungguhnya dia telah merekrut para ulama dari berbagai negeri yang dia berikan perhatian besar kepada mereka lewat tindakan-tindakan yang mulia.

Di antara ulama itu adalah, Maulana Ali AlQawsyaji, yang mulia At-Thusi, Al-Alim Al-Kurani dan lainnya dari kalangan ulama yang mulia.

Baca juga: Al-Fatih Siapkan 400 Kapal dan 250.000 Mujahid untuk Kuasai Konstantinopel

Dengan demikian, maka Istambul menjadi “Pusat Dunia," sumber kebanggaan dan kemuliaan. Di sekelilingnya berkumpul orang-orang yang memiliki sifat baik dan kokoh dari semua disiplin ilmu pengetahuan.

Ulama-ulama Istambul hingga kini adalah ulama-ulama yang mulia. Para pekerja mereka adalah orang-orang cerdas, para penguasanya adalah orang-orang yang sangat bahagia. Dan bagi Sultan rahimahullah, begitu banyak kebaikan yang telah dia sumbangkan kepada kaum muslimin, khususnya kepada para ulama yang mulia. (Baca juga: Sujud Syukur Dunia Islam Sambut Kemenangan Al-Fatih, Hagia Sophia Jadi Masjid )
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!