Sejarah Zionis Lahir dari Modernitas yang Berakar pada Nafsu Syahwat

Rabu, 25 Oktober 2023 - 20:10 WIB
"Islam tak perlu diperbarui, tapi kita-lah yang harus menyesuaikan diri kembali dengan Islam," kata Syaikh Abdalqadir as sufi, ulama besar dari Eropa.

Zionisme Menemukan Bentuknya

Zionisme menemukan bentuknya. Yahudi seolah menemukan "tanah yang diperjanjikan". Tapi pola mereka merebut Yerusalem, bukan dengan pedang. Melainkan dengan membangkitkan nafsu syahwati manusia. Mulanya rasionalitas disodori. Tapi kemudian rasio mudah bergeser. Seperti pesan Imam Ghazali, "Akal tak sepenuhnya benar, jangan sekali-kali mengambil hakekat ajaran agama darinya," katanya dalam Tahafut al Falasifah.

Dan modernitas telah membuktikan bagaimana rennaisance tak lagi melahirkan Kebenaran. Melainkan pembenaran. Ini yang disebut Martin Heidegger bahwa filsafat tak lagi melahirkan kebenaran eksistensialisme. Melainkan kebenaran essensialisme. "Dan itu bukan Kebenaran," katanya dalam Being and Time.

Zionisme tentu mereguk untung dengan pertemuan antara modernitas dan syahwati manusia. Karena modernitas telah berganti menjadi gerakan hawa nafsyu. Hubbud-dunya membahana. Inilah buah dari filsafat. Karena saintifistik, tak membuat Andalusia perkasa. Melainkan mudah dikalahkan musuh, yang bahkan belum mengenal kopi.

Dari sini, kita mahfum bagaimana membebaskan Yerusalem. Seperti kala Sultan Salahuddin al Ayyubi hadir dengan ribuan muslimin, yang bukan produk mu'tazilah. Mereka merupakan produk pengajaran tassawuf, yang kembali mengajarkan pencerahan yang berujung pada Ma'rifatullah. Model insan kamil inilah yang bisa mengelak dari sihir Banco tentang pemberian uang bak kepada Napoleon maupun Attaturk tadi.

Kaum yang mampu mengalahkan syahwati dan akal, di bawah kendali Qalbu. Inilah para sufi. Sebagaimana muslimin awalun dalam Perang Badar. Yang telah tercerahkan dalam pemahaman utuh atas pancaran (tajjaliyat).

Yerusalem tak akan bebas hanya dengan mengirimkan Dinar emas dan Dirham perak. Karena yang diperlukan Yerusalem bukanlah benda. Melainkan manusia insan kamil, yang utuh dalam barisan berjamaah, yang berdzikir pada Allah Subhanahu wa ta'ala. Inilah pembebas yang sesungguhnya. Dan itulah perlunya pengajaran tassawuf yang sahihan. Insya Allah.

Karena Zionisme lahir dari modernitas yang berakar pada nafsyu syahwati, dan memancarkan pengaruhnya kemana-mana.



Irawan Santoso Shiddiq (kiri) bersama Syaikh Abdalqadir as sufi, ulama besar dari Eropa.
(rhs)
Halaman :
Lihat Juga :
Follow
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Hadits of The Day
Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Dahulu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam apabila Berbuka Puasa, beliau mengucapkan:  DZAHABAZH ZHAMAA'U WABTALLATIL 'URUUQU WA TSABATIL AJRU IN SYAA-ALLAAH (Telah hilang dahaga, dan telah basah tenggorokan, dan telah tetap pahala insya Allah).

(HR. Sunan Abu Dawud No. 2010)
Artikel Terkait
Al-Qur'an, Bacalah!
Rekomendasi
Terpopuler
Artikel Terkini More