Tasawuf dan Ketiadaan

Rabu, 08 Desember 2021 - 17:10 WIB
Ketika keadaan atau hal yang dapat dinyatakan sebagai sesuatu yang ada itu dapat dijelaskan melalui rangkaian pemikiran serta kalimat, lalu bagaimana menjelaskan sebuah ketiadaan? Ketiadaan sering kali bermakna sebagai sebuah kehilangan eksistensi, hilangnya kehadiran sebuah objek, tak bermaknanya objek.

Baca juga: Husain ibn Mansur al-Hallaj: Martir Pertama dalam Tasawuf (1)



Sebuah objek tak memiliki makna bahkan tak hadir dalam rangkaian logika ataupun rabaan empirisme inderawi manusia. Ketiadaan hanya dapat dipahami atau dirasakan. Hilangnya sebuah eksistensi, yang beruwujud menjadi sebuah keheningan tanpa bisa dibentuk menjadi sebuah susunan kata atau kalimat.

Tasawuf dan Pemahaman atas Ketiadaan

Ketiadaan walau begitu sulit untuk dirangkaikan setidaknya ada gapaian rasa untuk mencoba menguak tabir ketiadaan (non exsistensi). Ketiadaan ditujukan kepada manusia dan juga manusia dalam metode tasawuf, walaupun tasawuf telah secara gemilang telah melahirkan konstruksi eksistensi.

Tasawuf non eksistensi dengan konsep negativa merujuk pada sebuah ide tentang ketiadaan manusia dan semesta. Sosok hadirnya manusia dan alam semesta dalam rangkaian eksistensi yang tercipta atas kehendak Allah, sekaligus menunjukkan non eksistensi manusia dan alam semesta itu sendiri.

Dalam teologi negatif Ibn Arabi, manusia dan alam adalah ketiadaan. Manusia dengan segenap kekuatan akal dan kemampuan untuk mengkonstruksi peradaban, bahkan merekayasa segenap alam yang dapat ia tundukkan hanyalah sebuah sosok-sosok wujud ketiadaan.

Manusia adalah maujud atas eksistensi Allah, dan kehidupan manusia hanyalah sendau gurau dan permainan semata. Kehidupan yang ia jalani hanyalah konstruksi imajinasi dan tidak nyata. Konstruksi imajinasi ini akan menghilang dan manusia menjadi eksisten ketika ia telah berada dalam alam kematiannya.

Eksistensi manusia adalah non eksistensi bagi Allah, maka dalam perspekstif Ibn Arabi, bagaimana manusia dapat mensifati Allah sebagai eksistensi mutlak, wujud wajib, sekaligus wujud mutlak? Ketiadaan manusia yang hanya bagai bayang-bayang dari hadirnya sebuah eksistensi yang sesungguhnya yaitu Allah, lalu bagaimana ia mampu menentukan kehendak-Nya sesuai dengan perspektif rasionalitas manusia yang non eksisten?
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!