Ahli Virus itu Guru Spiritual Sultan Muhammad Al-Fatih
Jum'at, 17 Juli 2020 - 14:34 WIB
loading...
A
A
A
Dia menulis buku dalam masalah ini yang dia beri judul Maadat Al Hayaat. Di dalam buku tersebut, Syaikh mengatakan, 'Sangat keliru jika dikatakan bahwa penyakit-penyakit itu menyerang manusia dengan sendirinya. Padahal penyakit-penyakit itu berpindah dari satu orang ke orang lain dengan cara menular. Penularan ini sangat kecil dan renik, hingga tidak mampu dilihat oleh mata telanjang. Penularan ini terjadi karena adanya kuman yang hidup.”
Dengan pengalaman ini, maka Syaikh Syamsuddin telah mendefinisikan kuman pada abad ke-15 Masehi. Dia merupakan orang pertama yang melakukan itu. Saat itu belum ada yang disebut dengan mikroskop.
Baca juga: Hagia Sophia dan Kehebatan Sultan Muhammad Al-Fatih
Empat abad setelah zamannya, muncul seorang ahli kimia dan biologi asal Prancis yang bernama Louis Pasteur melakukan penelitian dengan hasil serupa seperti yang telah dikemukakan oleh Syaikh Aaq Syamsuddin.
Syaikh Syamsuddin juga sangat peduli kepada penyakit kanker dan menulis buku tentang hal itu. Dalam bidang kedokteran, Syaikh Syamsuddin telah menulis dua buku penting Maadat Al-Hayaat dan Kitaab Al-Thibb. Dua buku ini dia tulis dalam bahasa Turki dan Utsmani.
Baca juga: Ini Tokoh yang Makamnya Dimuliakan Sultan Muhammad Al-Fatih
Syaikh memiliki tujuh tulisan berbahasa Arab, yaitu: Hallul Musykilaat, Ar-Risalah An-Nuriyyah, Maqaalatu, Auliyaa,’ Risalah fi Dzikrillah, Talkhish Al-Mataa’in, Daf’u Al-Mataa’in, Risalalm Syarh Haaji Bayaram Wall?”
Baca juga: Toleransi Islam di Hagia Sophia: Simbol-Simbol Gereja itu Tetap Utuh
Syaikh kembali ke tempat tinggalnya di Koniyoka setelah merasakan perlu untuk kembali ke sana. Sultan sendiri mendesaknya agar tetap tinggal di Istanbul, namun dia menolak. Beliau meninggal pada tahun 863 H/ 1459 M. (Baca juga: Hagia Sophia dan Masjid-Masjid yang Menjadi Gereja )
Dengan pengalaman ini, maka Syaikh Syamsuddin telah mendefinisikan kuman pada abad ke-15 Masehi. Dia merupakan orang pertama yang melakukan itu. Saat itu belum ada yang disebut dengan mikroskop.
Baca juga: Hagia Sophia dan Kehebatan Sultan Muhammad Al-Fatih
Empat abad setelah zamannya, muncul seorang ahli kimia dan biologi asal Prancis yang bernama Louis Pasteur melakukan penelitian dengan hasil serupa seperti yang telah dikemukakan oleh Syaikh Aaq Syamsuddin.
Syaikh Syamsuddin juga sangat peduli kepada penyakit kanker dan menulis buku tentang hal itu. Dalam bidang kedokteran, Syaikh Syamsuddin telah menulis dua buku penting Maadat Al-Hayaat dan Kitaab Al-Thibb. Dua buku ini dia tulis dalam bahasa Turki dan Utsmani.
Baca juga: Ini Tokoh yang Makamnya Dimuliakan Sultan Muhammad Al-Fatih
Syaikh memiliki tujuh tulisan berbahasa Arab, yaitu: Hallul Musykilaat, Ar-Risalah An-Nuriyyah, Maqaalatu, Auliyaa,’ Risalah fi Dzikrillah, Talkhish Al-Mataa’in, Daf’u Al-Mataa’in, Risalalm Syarh Haaji Bayaram Wall?”
Baca juga: Toleransi Islam di Hagia Sophia: Simbol-Simbol Gereja itu Tetap Utuh
Syaikh kembali ke tempat tinggalnya di Koniyoka setelah merasakan perlu untuk kembali ke sana. Sultan sendiri mendesaknya agar tetap tinggal di Istanbul, namun dia menolak. Beliau meninggal pada tahun 863 H/ 1459 M. (Baca juga: Hagia Sophia dan Masjid-Masjid yang Menjadi Gereja )
(mhy)
Lihat Juga :