Quraish Shihab: Al-Quran Sendiri Membuktikan Keotentikannya
Rabu, 22 Maret 2023 - 17:48 WIB
loading...
Prof Dr Quraish Shihab/Foto Ist
A
A
A
Al-Quran Al-Karim memperkenalkan dirinya dengan berbagai ciri dan sifat. Salah satu di antaranya adalah bahwa ia merupakan kitab yang keotentikannya dijamin oleh Allah, dan ia adalah kitab yang selalu dipelihara. Inna nahnu nazzalna al-dzikra wa inna lahu lahafizhun (Sesungguhnya Kami yang menurunkan Al-Quran dan Kamilah Pemelihara-pemelihara-Nya) ( QS 15 :9).
"Demikianlah Allah menjamin keotentikan Al-Quran, jaminan yang diberikan atas dasar Kemahakuasaan dan Kemahatahuan-Nya, serta berkat upaya-upaya yang dilakukan oleh makhluk-makhluk-Nya, terutama oleh manusia," tulis Prof Dr M. Quraish Shihab, MA dalam bukunya berjudul " Membumikan Al-Quran , Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat".
Menurutnya, dengan jaminan ayat di atas, setiap Muslim percaya bahwa apa yang dibaca dan didengarnya sebagai Al-Quran tidak berbeda sedikit pun dengan apa yang pernah dibaca oleh Rasulullah SAW , dan yang didengar serta dibaca oleh para sahabat Nabi SAW .
Tetapi, dapatkah kepercayaan itu didukung oleh bukti-bukti lain? Dan, dapatkah bukti-bukti itu meyakinkan manusia, termasuk mereka yang tidak percaya akan jaminan Allah di atas? "Tanpa ragu kita mengiyakan pertanyaan itu," ujar Quraish Shihab.
Baca juga: Nabi Muhammad SAW Belajar Al-Quran dari Orang Nasrani? Begini Bantahan Al-Quran
Mantan Syaikh Al-Azhar, Abdul Halim Mahmud, dalam kitabnya "Al-Tafkir Al-Falsafiy fi Al-Islam" menulis: "Para orientalis yang dari saat ke saat berusaha menunjukkan kelemahan Al-Quran, tidak mendapatkan celah untuk meragukan keotentikannya."
Hal ini disebabkan oleh bukti-bukti kesejarahan yang mengantarkan mereka kepada kesimpulan tersebut.
Bukti-bukti dari Al-Quran Sendiri
Seorang ulama besar Syi'ah kontemporer, Muhammad Husain Al-Thabathaba'iy, dalam kitabnya berjudul "Al-Qur'an fi Al-Islam" menyatakan bahwa sejarah Al-Quran demikian jelas dan terbuka, sejak turunnya sampai masa kini. Ia dibaca oleh kaum Muslim sejak dahulu sampai sekarang, sehingga pada hakikatnya Al-Quran tidak membutuhkan sejarah untuk membuktikan keotentikannya.
Kitab Suci tersebut lanjut Thabathaba'iy memperkenalkan dirinya sebagai firman-firman Allah dan membuktikan hal tersebut dengan menantang siapa pun untuk menyusun seperti keadaannya. "Ini sudah cukup menjadi bukti, walaupun tanpa bukti-bukti kesejarahan," ujarnya.
Salah satu bukti bahwa Al-Quran yang berada di tangan kita sekarang adalah Al-Quran yang turun kepada Nabi SAW tanpa pergantian atau perubahan --tulis Thabathaba'iy lebih jauh-- adalah berkaitan dengan sifat dan ciri-ciri yang diperkenalkannya menyangkut dirinya, yang tetap dapat ditemui sebagaimana keadaannya dahulu.
Baca juga: Memahami Ayat Penyembuhan dalam Al-Quran
Dr Mustafa Mahmud dalam bukunya berjudul "Min Asrar Al-Qur'an", mengutip pendapat Rasyad Khalifah, juga mengemukakan bahwa dalam Al-Quran sendiri terdapat bukti-bukti sekaligus jaminan akan keotentikannya.
"Demikianlah Allah menjamin keotentikan Al-Quran, jaminan yang diberikan atas dasar Kemahakuasaan dan Kemahatahuan-Nya, serta berkat upaya-upaya yang dilakukan oleh makhluk-makhluk-Nya, terutama oleh manusia," tulis Prof Dr M. Quraish Shihab, MA dalam bukunya berjudul " Membumikan Al-Quran , Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat".
Menurutnya, dengan jaminan ayat di atas, setiap Muslim percaya bahwa apa yang dibaca dan didengarnya sebagai Al-Quran tidak berbeda sedikit pun dengan apa yang pernah dibaca oleh Rasulullah SAW , dan yang didengar serta dibaca oleh para sahabat Nabi SAW .
Tetapi, dapatkah kepercayaan itu didukung oleh bukti-bukti lain? Dan, dapatkah bukti-bukti itu meyakinkan manusia, termasuk mereka yang tidak percaya akan jaminan Allah di atas? "Tanpa ragu kita mengiyakan pertanyaan itu," ujar Quraish Shihab.
Baca juga: Nabi Muhammad SAW Belajar Al-Quran dari Orang Nasrani? Begini Bantahan Al-Quran
Mantan Syaikh Al-Azhar, Abdul Halim Mahmud, dalam kitabnya "Al-Tafkir Al-Falsafiy fi Al-Islam" menulis: "Para orientalis yang dari saat ke saat berusaha menunjukkan kelemahan Al-Quran, tidak mendapatkan celah untuk meragukan keotentikannya."
Hal ini disebabkan oleh bukti-bukti kesejarahan yang mengantarkan mereka kepada kesimpulan tersebut.
Bukti-bukti dari Al-Quran Sendiri
Seorang ulama besar Syi'ah kontemporer, Muhammad Husain Al-Thabathaba'iy, dalam kitabnya berjudul "Al-Qur'an fi Al-Islam" menyatakan bahwa sejarah Al-Quran demikian jelas dan terbuka, sejak turunnya sampai masa kini. Ia dibaca oleh kaum Muslim sejak dahulu sampai sekarang, sehingga pada hakikatnya Al-Quran tidak membutuhkan sejarah untuk membuktikan keotentikannya.
Kitab Suci tersebut lanjut Thabathaba'iy memperkenalkan dirinya sebagai firman-firman Allah dan membuktikan hal tersebut dengan menantang siapa pun untuk menyusun seperti keadaannya. "Ini sudah cukup menjadi bukti, walaupun tanpa bukti-bukti kesejarahan," ujarnya.
Salah satu bukti bahwa Al-Quran yang berada di tangan kita sekarang adalah Al-Quran yang turun kepada Nabi SAW tanpa pergantian atau perubahan --tulis Thabathaba'iy lebih jauh-- adalah berkaitan dengan sifat dan ciri-ciri yang diperkenalkannya menyangkut dirinya, yang tetap dapat ditemui sebagaimana keadaannya dahulu.
Baca juga: Memahami Ayat Penyembuhan dalam Al-Quran
Dr Mustafa Mahmud dalam bukunya berjudul "Min Asrar Al-Qur'an", mengutip pendapat Rasyad Khalifah, juga mengemukakan bahwa dalam Al-Quran sendiri terdapat bukti-bukti sekaligus jaminan akan keotentikannya.
Lihat Juga :