Begini Cara Sultan Muhammad Al-Fatih Memuliakan Ulama
Selasa, 21 Juli 2020 - 15:44 WIB
loading...
A
A
A
Dia selalu menasehatl para murid untuk selalu rajin belajar. Sultan tidak kiklr untuk memberi hadiah kepada guru-guru dan murid berbakat. Semua pendidikan itu diberikan secara gratis. Sedangkan materi-materi yang diajarkan adalah meliputi tafsir, hadis, sastra, balaghah, ilmu-ilmu kebahasaaan, arsitektur, dan lain-lain.
Baca juga: Sejarah Hagia Sophia, antara Katedral Kristen Ortodoks dan Masjid
Di samping masjid yang dia bangun di Konstantinopel, dibangun juga 8 buah sekolah. Empat sekolah di antaranya memiliki ruangan yang luas, tempat di mana para siswa kelas akhir berada. Di sekolah-sekolah ini dibuatkan asrama siswa, lengkap dengan tempat tidur dan ruang makan.
Sultan memberikan beasiswa bulanan kepada mereka. Masa belajar berlangsung selama setahun penuh. Di samping sekolah, dibangun perpustakaan khusus.
Baca juga: Al-Fatih Siapkan 400 Kapal dan 250.000 Mujahid untuk Kuasai Konstantinopel
Disyaratkan bagi orang yang mengelola perpustakaan untuk memiliki ilmu pengetahuan, seorang yang takwa, dan tahu seluk-beluk judul buku dan pengarangnya. Pengelola perpustakaan akan memberikan pinjaman buku kepada murid dan para guru yang membutuhkan buku-buku tertentu, secara tertib.
Buku-buku yang dipinjamkan, terlebih dahulu didaftar dalam catatan khusus. Sekretaris perpustakaan ini bertanggung-jawab menjaga kelestarian dan kebaikan lembaran-lembaran buku itu. Perpustakaan ini diperiksa minimal tiap tiga bulan sekali. (Baca juga: Al-Fatih Sebaik-Baik Pemimpin, Pasukannya Sebaik-baik Pasukan )
Sistem yang digunakan di sekolah-sekolah Utsmani adalah sistem jurusan. Ilmu-ilmu yang bersangkut-paut dengan ilmu-ilmu naqliyah (nash) dan teori memiliki jurusan khusus, demikian pula ilmu-ilmu terapan juga memiliki jurusan khusus.
Sedangkan para menteri dan ulama, serta orang-orang kaya, mereka berlomba membangun akademi, sekolah-sekolah, masjid, dan memberikan wakaf-wakaf. (Baca juga: Sembahyang Terakhir di Hagia Sophia, Kisah Haru Jelang Takluknya Konstantinopel )
Baca juga: Sejarah Hagia Sophia, antara Katedral Kristen Ortodoks dan Masjid
Di samping masjid yang dia bangun di Konstantinopel, dibangun juga 8 buah sekolah. Empat sekolah di antaranya memiliki ruangan yang luas, tempat di mana para siswa kelas akhir berada. Di sekolah-sekolah ini dibuatkan asrama siswa, lengkap dengan tempat tidur dan ruang makan.
Sultan memberikan beasiswa bulanan kepada mereka. Masa belajar berlangsung selama setahun penuh. Di samping sekolah, dibangun perpustakaan khusus.
Baca juga: Al-Fatih Siapkan 400 Kapal dan 250.000 Mujahid untuk Kuasai Konstantinopel
Disyaratkan bagi orang yang mengelola perpustakaan untuk memiliki ilmu pengetahuan, seorang yang takwa, dan tahu seluk-beluk judul buku dan pengarangnya. Pengelola perpustakaan akan memberikan pinjaman buku kepada murid dan para guru yang membutuhkan buku-buku tertentu, secara tertib.
Buku-buku yang dipinjamkan, terlebih dahulu didaftar dalam catatan khusus. Sekretaris perpustakaan ini bertanggung-jawab menjaga kelestarian dan kebaikan lembaran-lembaran buku itu. Perpustakaan ini diperiksa minimal tiap tiga bulan sekali. (Baca juga: Al-Fatih Sebaik-Baik Pemimpin, Pasukannya Sebaik-baik Pasukan )
Sistem yang digunakan di sekolah-sekolah Utsmani adalah sistem jurusan. Ilmu-ilmu yang bersangkut-paut dengan ilmu-ilmu naqliyah (nash) dan teori memiliki jurusan khusus, demikian pula ilmu-ilmu terapan juga memiliki jurusan khusus.
Sedangkan para menteri dan ulama, serta orang-orang kaya, mereka berlomba membangun akademi, sekolah-sekolah, masjid, dan memberikan wakaf-wakaf. (Baca juga: Sembahyang Terakhir di Hagia Sophia, Kisah Haru Jelang Takluknya Konstantinopel )
(mhy)
Lihat Juga :