Wasiat Al-Fatih kepada Putranya (3): Perluas Negeri Melalui Jihad
Kamis, 23 Juli 2020 - 13:29 WIB
loading...
A
A
A
Berikutnya, "Himpunlah kekuatan orang-orang lemah dan fakir dan berikan penghormatanmu kepada orang-orang yang berhak.’
Sultan-sultan Utsmani berlomba-lomba berbuat baik kepada kalangan lemah dan miskin, orang-orang yang berada dalam safar, serta semua orang yang berhajat kepada kebaikan dan ihsan.
Baca juga: Konstantinopel Jadi Islambul: Al-Fatih Berambisi Jadikan Ibu Kota Terindah di Dunia
Para sultan dan menteri-menteri telah mewakafkan banyak hartanya untuk sejumlah besar penuntut ilmu, fakir miskin, para janda dan lainnya. Wakaf merupakan rukun asasi dalam ekonomi pemerintah.
Ustadz Muhammad Harb berkata, “Gerakan ilmiah berkembang semarak di masjid-masjid berdampingan dengan sekolah-sekolah di lstambul. Muhammad Pasya misalnya, menginfakkan untuk gerakan ilmiah di lstambul dari pemasukan wakaf sebanyak 2000 desa di Cekoslowakia yang saat itu menjadi bagian dari pemerintahan Utsmani.
Baca juga: Al-Fatih Siapkan 400 Kapal dan 250.000 Mujahid untuk Kuasai Konstantinopel
Sedangkan As'ad Afandi hakim militer Balkan memberikan dua wakaf besar untuk memberi bekal kepada remaja-remaja puteri yang tidak mampu saat mereka telah sampai pada usia menikah.
Pemerintahan Utsmani saat itu memiliki wakaf yang begitu banyak dan beragam. Di sana ada wakaf yang diberikan kepada keluarga miskin, selain makanan. Karena makanan gratis ini di bawah wakaf yang bersifat umum, dalam bahasa Turki ia disebut amaraat waqfi, artinya wakaf makanan.
Amaraat ini memberikan makan gratis kepada orang tak mampu yang jumlahnya mencapai 20.000 orang setiap hari. Hal demikian ini dilakukan di setiap wilayah.
Sedangkan anggaran dapur untuk makanan yang ada di Masjid Sulaimaniyah pada tahun 1586 kira-kira berjumlah sekitar 10 juta dollar Amerika saat ini.” (Baca juga: Sujud Syukur Dunia Islam Sambut Kemenangan Al-Fatih, Hagia Sophia Jadi Masjid )
Demikianlah kebijakan pemerintah terhadap orang-orang yang tidak mampu dan demikian pula penghormatan mereka terhadap orang-orang yang berhak menerimanya. (Bersambung)
Sultan-sultan Utsmani berlomba-lomba berbuat baik kepada kalangan lemah dan miskin, orang-orang yang berada dalam safar, serta semua orang yang berhajat kepada kebaikan dan ihsan.
Baca juga: Konstantinopel Jadi Islambul: Al-Fatih Berambisi Jadikan Ibu Kota Terindah di Dunia
Para sultan dan menteri-menteri telah mewakafkan banyak hartanya untuk sejumlah besar penuntut ilmu, fakir miskin, para janda dan lainnya. Wakaf merupakan rukun asasi dalam ekonomi pemerintah.
Ustadz Muhammad Harb berkata, “Gerakan ilmiah berkembang semarak di masjid-masjid berdampingan dengan sekolah-sekolah di lstambul. Muhammad Pasya misalnya, menginfakkan untuk gerakan ilmiah di lstambul dari pemasukan wakaf sebanyak 2000 desa di Cekoslowakia yang saat itu menjadi bagian dari pemerintahan Utsmani.
Baca juga: Al-Fatih Siapkan 400 Kapal dan 250.000 Mujahid untuk Kuasai Konstantinopel
Sedangkan As'ad Afandi hakim militer Balkan memberikan dua wakaf besar untuk memberi bekal kepada remaja-remaja puteri yang tidak mampu saat mereka telah sampai pada usia menikah.
Pemerintahan Utsmani saat itu memiliki wakaf yang begitu banyak dan beragam. Di sana ada wakaf yang diberikan kepada keluarga miskin, selain makanan. Karena makanan gratis ini di bawah wakaf yang bersifat umum, dalam bahasa Turki ia disebut amaraat waqfi, artinya wakaf makanan.
Amaraat ini memberikan makan gratis kepada orang tak mampu yang jumlahnya mencapai 20.000 orang setiap hari. Hal demikian ini dilakukan di setiap wilayah.
Sedangkan anggaran dapur untuk makanan yang ada di Masjid Sulaimaniyah pada tahun 1586 kira-kira berjumlah sekitar 10 juta dollar Amerika saat ini.” (Baca juga: Sujud Syukur Dunia Islam Sambut Kemenangan Al-Fatih, Hagia Sophia Jadi Masjid )
Demikianlah kebijakan pemerintah terhadap orang-orang yang tidak mampu dan demikian pula penghormatan mereka terhadap orang-orang yang berhak menerimanya. (Bersambung)
(mhy)
Lihat Juga :