Benarkah Keputihan Termasuk Najis? Begini Penjelasannya
Senin, 07 Agustus 2023 - 17:59 WIB
loading...
A
A
A
Sementara mazhab Syafi'i, menyatakan suci yang keluar dari permukaan kemaluan yang bisa keluar saat duduk. Adapun keputihan yang dari dalam kemaluan adalah najis, itulah yang menempel dikemaluan laki-laki saat jima'. (Ibid)
Pendapat yang paling kuat adalah suci, sebab tidak ada dalil khusus yang menyatakan itu najis. Dan ini pendapat mayoritas ulama.
"Itu membatalkan wudu, inilah mazhab Jumhur, mereka berdalil karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan kepada wanita yang sedang istihadhah untuk berwudhu setiap akan salat. Sedangkan keputihan akan ikut keluar bersamaan dgn istihadhah." (Al Islam Su’aal wa Jawaab no. 44980).
Sementara ulama lain, seperti Imam Ibnu Hazm mengatakan tidak batal. Juga salah satu pendapat Imam Ibnu Taimiyah. (Al Ikhtiyarat, Hal. 27), walau dalam kitab lain dia menyatakan tidak batal. (Majmu Al Fatawa, 21/221). Jadi, jika dalam keadaan normal dan wajar sebagaimana umumnya keputihan itu membatalkan wudhu dan salat, maka wajar jika ada yang melarangnya menjadi imam.
Bagaimana jika sudah jadi penyakit? Ada wanita tertentu yang keputihannya tidak wajar. Sangat banyak dan keluar terus menerus, yang disebabkan sakit. Maka, ini kondisi masyaqqat (kesulitan) baginya, baginya boleh menjamak salat. Zuhur dan Ashar, Maghrib dan isya. Jika memang sulit wudhu tiap salat. Tapi, jika dia tidak kesulitan maka dia wajib salat pada waktunya masing-masing. (Liqa Asy Syahriy, 2/212).
Baca juga: Mengenal 4 Macam Cairan yang Sering Dialami Kaum Muslimah Beserta Hukumnya
Wallahu A'lam
Pendapat yang paling kuat adalah suci, sebab tidak ada dalil khusus yang menyatakan itu najis. Dan ini pendapat mayoritas ulama.
2. Apakah Membatalkan Wudu?
Mayoritas ulama mengatakan wudu batal karena keluar keputihan, walau keputihan itu suci. Hal ini sama seperti air mani, walau suci, tetaplah membatalkan wudu dan salat. Syeikh Muhammad Shalih Al-Munajjid Hafizhahullah mengatakan:أنها ناقضة للوضوء ، وهذا مذهب الجمهور ، واستدلوا بأن النبي – صلى الله عليه وسلم – أمر المستحاضة أن تتوضأ لكل صلاة ، وتلك الرطوبة أو السوائل ملحقة بالاستحاضة
"Itu membatalkan wudu, inilah mazhab Jumhur, mereka berdalil karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan kepada wanita yang sedang istihadhah untuk berwudhu setiap akan salat. Sedangkan keputihan akan ikut keluar bersamaan dgn istihadhah." (Al Islam Su’aal wa Jawaab no. 44980).
Sementara ulama lain, seperti Imam Ibnu Hazm mengatakan tidak batal. Juga salah satu pendapat Imam Ibnu Taimiyah. (Al Ikhtiyarat, Hal. 27), walau dalam kitab lain dia menyatakan tidak batal. (Majmu Al Fatawa, 21/221). Jadi, jika dalam keadaan normal dan wajar sebagaimana umumnya keputihan itu membatalkan wudhu dan salat, maka wajar jika ada yang melarangnya menjadi imam.
Bagaimana jika sudah jadi penyakit? Ada wanita tertentu yang keputihannya tidak wajar. Sangat banyak dan keluar terus menerus, yang disebabkan sakit. Maka, ini kondisi masyaqqat (kesulitan) baginya, baginya boleh menjamak salat. Zuhur dan Ashar, Maghrib dan isya. Jika memang sulit wudhu tiap salat. Tapi, jika dia tidak kesulitan maka dia wajib salat pada waktunya masing-masing. (Liqa Asy Syahriy, 2/212).
Baca juga: Mengenal 4 Macam Cairan yang Sering Dialami Kaum Muslimah Beserta Hukumnya
Wallahu A'lam
(wid)
Lihat Juga :