Khadijah binti Khuwailid, sang Cinta Abadi Rasulullah

Senin, 03 Agustus 2020 - 14:46 WIB
loading...
Khadijah binti Khuwailid, sang Cinta Abadi Rasulullah
Keteladan Khadijah adalah ia seorang istri yang tangguh, penuh perhatian, setia, jujur, teguh, dan tahan uji. Foto ilustrasi/ist
A A A
Kebutuhan akan figur teladan adalah fitrah manusia. Sebab, contoh konkret dan gambaran hidup memberi pengaruh tersendiri yang tidak diberikan oleh paparan teori semata. Oleh karena itu, banyak sekali ayat-ayat yang tertulis di dalam Al-Qur’anul Karim dan datang perintah untuk mengambil pelajaran darinya.

Allah ta‘ala berfirman :

لَقَدْ كَانَ فِى قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلَٰكِن تَصْدِيقَ ٱلَّذِى بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَىْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Sesungguhnya, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman” (QS. Yusuf: 111).

Begitu pun dalam sejarah, setidaknya ada beberapa nama perempuan terpandang yang di antara mereka ada yang dimuliakan Allah Ta'ala dengan surga. Bahkan sosok empat perempuan mulia ini, juga disebutkan dalam sabda Nabi Muhammad SAW,"

“Perempuan termulia di dunia ada empat, yaitu Maryam binti ‘Imran, Asiyah istri Fir’aun, Khadijah binti Khuwailid dan Fatimah binti Muhammad." ((HR. Ahmad). (Baca juga : Berbanggalah Menjadi Seorang Muslimah, Inilah Kemuliaannya! )

Untuk mengambil hikmah dan pelajaran dari perempuan mulia ini, berikut kisahnya uraiannya:

1. Khadijah binti Khuwailid

Suatu hari, mata Rasulullah Shallallahu alihi wa sallam berkaca-kaca seraya bersabda kepada para sahabatnya:

“Allah tidak pernah memberikanku wanita yang lebih mulia daripada Khadijah. Di saat manusia tidak percaya, dia sendiri yang percaya. Ketika semua orang mendustakan diriku, dia sendiri yang menerimaku. Ketika manusia berlarian dariku, ia mendukungku, baik ketika ada maupun tiada. Dan Allah mengaruniaiku putra-putri bukan dari yang lain, melainkan darinya.”

Membaca sabda Rasulullah di atas, betapa besar cinta Khadijah kepada Rasulllah ini. Siapa Khadijah ini?

Khadijah berasal dari keluarga terpandang, yang terlahir dari Bani Hasyim . Khuwailid dan Fatimah, adalah orang tuanya. Ia tumbuh menjadi gadis yang pandai dan bijaksana. Di usia yang masih muda, ia menikah dengan Abu Hala bin Zurara. Pernikahan pertama ini melahirkan dua putra, Hala dan Hindun.

Namun, Allah menakdirkan kepedihan kepada Khadijah. Suaminya meninggal di usia bunda yang baru menginjak 20 tahun. Ia berwasiat agar anaknya jangan diasuh oleh orang lain. Dari wasiat tersebut Khadijah bertekad akan memperhatikan anak-anaknya dan juga perkerjaannya ( perdagangan ) dengan segala kemampuan yang dimilikinya. Tekad inilah yang mengantarkan Khadijah menjadi Ibunda Makkah nantinya.

Akhirnya Khadijah kembali menikah dengan Atik bin Aziz. Dari pernikahan kedua ini lahir seorang putri bernama Hindun. Atik adalah pria yang keras dan tidak pernah puas, kekerasannya membuat Khadijah memutuskan pergi dari rumah bersama dua putra dan bayi perempuannya.

Membesarkan anak-anak dan mengurus perdagangan sendirian tidaklah mudah. Meskipun tekad kuatnya selalu membara, dalam hatinya ia merasa kesepian. Ia membutuhkan seorang pendamping setelah sekian tahun hidup menjanda. Hingga akhirnya ia bermimpi yang sama berulang kali. Dari mimpi tersebut, ada makna tersirat yang sang Khadijah dapat. Sebuah kisah cinta.

Kali ini, Khadijah ingin menyerahkan urusan perdagangan kepada orang lain. Pembantunya mengusulkan Abu Thalib dan keponakannya yang terkenal jujur dalam mengelola perdagangan. Namun, karena alasan sudah tua, akhirnya Abu Thalib menyuruh sang keponakan yang mengambil alih. Dengan perintah tersebut, pemuda yang akhirnya diketahui Khadijah sebagai Muhammad, pergi ke kediaman Khadijah. Kontrak kerja pun terjadi. Muhammad akan menjadi pemimpin kafilah dagangnya menuju Syam.

Ketika rombongan kafilah melewati rumahnya, Khadijah mencari-cari pemuda tersebut. Ia melihat pemuda itu yang paling bersinar di antara banyaknya kerumunan orang. Seketika, hati Khadijah berdebar-debar. Cahaya yang terpancar dari pemuda itu membawa ketenangan dan keteduhan bagi hatinya. Khadijah akhirnya menyadari bahwa ia telah jatuh hati pada pemuda tersebut. Pemuda yang masih menjadi kerabatnya.

Khadijah begitu memendam perasaannya. Ia tak ingin membiarkan orang lain tahu bahwa ia merindukan pemuda berawalan huruf mim itu. Ia begitu senang mendengarkan para pembantunya menceritakan kebaikan Muhammad. Baginya, semua benda yang berawalan “mim” membuat hatinya berdesir. Baginya, setiap pandangan yang ia lihat tertulis “mim” di sana. Baginya, awan di langit melukiskan huruf “mim” setiap saat. Baginya, angin yang menerpa dirinya akan membisikkan kata “mim“. Seolah-olah alam semesta begitu mengerti kerinduan Khadijah.

Tidak lama setelah kepulangan kafilah dagang yang dipimpin Muhammad, terjadilah pernikahan agung itu. Pernikahan antara “kha” dan “mim“. Bahkan seluruh jagad raya seperti ikut merayakan hari bahagia tersebut. (Baca juga : Sering Terbesit Pikiran yang Aneh-aneh? Waspadai Bisikan Setan )

Muhammad begitu dicintai Khadijah, ketiga anaknya, dan seluruh keluarganya. Darinya, lahirlah Qasim, putra pertama, yang sayangnya meninggal di usia belia. Ketika itu Zainab, putri pertama mereka, masih bayi. Kesedihan menyelimuti rumah dan seluruh keluarga Khadijah. Hari-hari sulit itu pun membuat Khadijah dan Muhammad semakin dekat. Sang Al Amin selalu menemani dan menghiburnya. Hingga peristiwa pengangkatan anak terjadi, anak istimewa itu adalah seorang budak bernama Zaid bin Haritsah. Setelah itu, lahirlah dua anak perempuan, Rukayah dan Ummu Kultsum. Lalu Fatimah lahir di masa menjelang kenabian.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.3086 seconds (10.101#12.26)