Kedaulatan Islam Dibangun di Negeri Majusi dan Nasrani Kurang dari 10 Tahun.
Rabu, 27 Desember 2023 - 08:40 WIB
loading...
Penganut Majusi di Persia banyak yang berpindah memeluk Islam. Ilustrasi: Ist
A
A
A
Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq telah merintis berdirinya Kedaulatan Islam , yang di masa Khalifah Umar bin Khattab berkembang dari perbatasan China di timur sampai ke seberang Sirenaika (Cyrenaica) di barat, dan dari Laut Kaspia di utara sampai ke Nubia di selatan, termasuk Persia, Irak, Syam dan Mesir , yang kesemuanya tergabung ke negeri Arab.
"Semua unsur etnik yang saling terjalin yang merupakan ciri khas masing-masing bangsa itu, besar sekali pengaruhnya dalam pembinaan peradaban dunia di kemudian hari," tulis Muhammad Husain Haekal dalam buku yang diterjemahkan Ali Audah berjudul "Umar bin Khattab"(Pustaka Litera AntarNusa, 1987).
Menurutnya, interaksi unsur-unsur etnik itu berjalan sewajarnya, baik Amirulmukminin atau penguasa lain tak dapat menghapus jejaknya atau mengubah yang sudah berjalan teratur itu.
Haekal menjelaskan tatkala bangsa-bangsa itu tergabung ke dalam panji Kedaulatan Islam, dalam berbagai faktor mereka sangat berbeda satu sama lain. Mereka masing-masing saling berbeda bahasa, ras, keyakinan, budaya, lingkungan sosial dan ekonomi.
"Memang benar bahwa kabilah-kabilah Arab itu tinggal di pedalaman Samawah di perbatasan Irak dengan Syam, dan kabilah-kabilah ini membangun kerajaan Hirah dan Banu Gassan, tetapi penduduk Syam yang asli dan penduduk Irak yang asli bukan dari ras Arab, bahasa mereka pun bukan bahasa Arab," jelasnya.
Baca juga: Alasan Strategis Khalifah Umar Menguasai Persia dan Syam
Sedang Persia dan Mesir, dari segi ras dan bahasa samasekali tak ada hubungannya dengan Arab. Kepercayaan orang Persia berbeda dengan kepercayaan orang Syam atau orang Mesir.
Penduduk Irak terbagi antara penganut agama Nasrani Romawi dengan agama Majusi Persia. Tata kehidupan dan corak budaya masing-masing bangsa ini berbeda jauh sekali dengan bangsa-bangsa yang lain.
Bangsa-bangsa ini semua - dengan perbedaan-perbedaan yang begitu besar - tergabung tuntas ke dalam kesatuan Kedaulatan Islam, hanya dalam waktu tidak lebih dari sepuluh tahun. Tetapi kekuatan yang dapat menaklukkan bangsa-bangsa itu dan menggabungkan mereka ke dalam satu kekuasaan politik tak dapat menghilangkan perbedaan unsur-unsur pembentukannya yang mendasar.
Hanya evolusi saja yang dapat mengubah bangsa-bangsa itu ke dalam keadaan yang lain, sesudah selama sekian abad dan generasi demi generasi bertahan dengan keadaan serupa itu.
"Semua unsur etnik yang saling terjalin yang merupakan ciri khas masing-masing bangsa itu, besar sekali pengaruhnya dalam pembinaan peradaban dunia di kemudian hari," tulis Muhammad Husain Haekal dalam buku yang diterjemahkan Ali Audah berjudul "Umar bin Khattab"(Pustaka Litera AntarNusa, 1987).
Menurutnya, interaksi unsur-unsur etnik itu berjalan sewajarnya, baik Amirulmukminin atau penguasa lain tak dapat menghapus jejaknya atau mengubah yang sudah berjalan teratur itu.
Haekal menjelaskan tatkala bangsa-bangsa itu tergabung ke dalam panji Kedaulatan Islam, dalam berbagai faktor mereka sangat berbeda satu sama lain. Mereka masing-masing saling berbeda bahasa, ras, keyakinan, budaya, lingkungan sosial dan ekonomi.
"Memang benar bahwa kabilah-kabilah Arab itu tinggal di pedalaman Samawah di perbatasan Irak dengan Syam, dan kabilah-kabilah ini membangun kerajaan Hirah dan Banu Gassan, tetapi penduduk Syam yang asli dan penduduk Irak yang asli bukan dari ras Arab, bahasa mereka pun bukan bahasa Arab," jelasnya.
Baca juga: Alasan Strategis Khalifah Umar Menguasai Persia dan Syam
Sedang Persia dan Mesir, dari segi ras dan bahasa samasekali tak ada hubungannya dengan Arab. Kepercayaan orang Persia berbeda dengan kepercayaan orang Syam atau orang Mesir.
Penduduk Irak terbagi antara penganut agama Nasrani Romawi dengan agama Majusi Persia. Tata kehidupan dan corak budaya masing-masing bangsa ini berbeda jauh sekali dengan bangsa-bangsa yang lain.
Bangsa-bangsa ini semua - dengan perbedaan-perbedaan yang begitu besar - tergabung tuntas ke dalam kesatuan Kedaulatan Islam, hanya dalam waktu tidak lebih dari sepuluh tahun. Tetapi kekuatan yang dapat menaklukkan bangsa-bangsa itu dan menggabungkan mereka ke dalam satu kekuasaan politik tak dapat menghilangkan perbedaan unsur-unsur pembentukannya yang mendasar.
Hanya evolusi saja yang dapat mengubah bangsa-bangsa itu ke dalam keadaan yang lain, sesudah selama sekian abad dan generasi demi generasi bertahan dengan keadaan serupa itu.
Lihat Juga :