Ini Mengapa Penganut Majusi dan Nasrani Berbondong-bondong Masuk Islam
Rabu, 27 Desember 2023 - 09:02 WIB
loading...
Konsep ajaran Islam di negeri-negeri yang menjadi sasaran serbuan pasukan Muslimin itu dapat menjadi jaminan. Ilustrasi: Ist
A
A
A
Di masa Khalifah Umar bin Khattab , negeri Islam berkembang dari perbatasan China di timur sampai ke seberang Sirenaika (Cyrenaica) di barat, dan dari Laut Kaspia di utara sampai ke Nubia di selatan, termasuk Persia , Irak, Syam dan Mesir .
Muhammad Husain Haekal dalam buku yang diterjemahkan Ali Audah berjudul "Umar bin Khattab" (Pustaka Litera AntarNusa, 1987) mengatakan suasana yang mewarnai konsep ajaran Islam di negeri-negeri yang menjadi sasaran serbuan pasukan Muslimin itu dapat menjadi jaminan bahwa konsep ini telah menjadi buah bibir setiap orang dan dalam setiap masyarakat.
"Soalnya karena dasar rohani yang menjadi landasan konsep itu sangat sederhana, tak ada yang berbelit-belit, dan sistem moral yang merupakan cabang atau bagian dasar itu sangat luhur, cemerlang, dan begitu memesonakan," tuturnya.
Demikian juga sistem sosial dalam Islam tidak kurang pula sederhana dan luhurnya dari sistem moral dan dasar spiritual itu. Inti konsep ajaran Islam waktu itu pada dasarnya dan dalam segala sistemnya masih murni, belum tercemar oleh segala macam kontroversi mazhab, dan liku-liku kontroversi itu tak sampai menutupi penglihatan orang dari inti ajarannya yang cemerlang.
Baca juga: Umar bin Khattab: "Akan Kuhantam Raja-Raja Persia itu dengan Raja-Raja Arab"
Sesudah kaum Muslimin masuk ke pusat-pusat Irak dan Syam, dan menyebar di Persia dan Mesir, tokoh-tokoh mereka berjalan di depan membawa panji kemenangan.
Penduduk negeri yang tersebar di kawasan-kawasan itu sudah tentu akan berpikir juga tentang rahasia kemenangan ini serta pangkal penyebabnya dalam konsep ajaran Islam.
Selanjutnya, pertentangan dalam sekte-sekte Nasrani dan dalam sekte-sekte Majusi ketika itu sudah pula sampai di puncaknya. Akibat pertentangan ini di beberapa negeri orang mengalami pelbagai macam tindak kekerasan dengan akibat keyakinan sebagian orang menjadi goyah kemudian meninggalkannya.
"Yang sebagian lagi malah bertambah fanatik pada keyakinannya dan untuk itu mau ia berkorban," ujar Haekal. "Ini juga merupakan faktor lain lagi untuk membuatnya berpikir tentang agama yang baru ini dan apa pula isi ajarannya," lanjutnya.
Di samping itu, ditambah lagi karena kaum Muslimin tak pernah memaksa siapa pun dari penganut-penganut berbagai aliran di kalangan Nasrani dan Majusi itu untuk menganut Islam. Bahkan kebebasan memeluk suatu keyakinan mereka jadikan dasar dakwah.
Muhammad Husain Haekal dalam buku yang diterjemahkan Ali Audah berjudul "Umar bin Khattab" (Pustaka Litera AntarNusa, 1987) mengatakan suasana yang mewarnai konsep ajaran Islam di negeri-negeri yang menjadi sasaran serbuan pasukan Muslimin itu dapat menjadi jaminan bahwa konsep ini telah menjadi buah bibir setiap orang dan dalam setiap masyarakat.
"Soalnya karena dasar rohani yang menjadi landasan konsep itu sangat sederhana, tak ada yang berbelit-belit, dan sistem moral yang merupakan cabang atau bagian dasar itu sangat luhur, cemerlang, dan begitu memesonakan," tuturnya.
Demikian juga sistem sosial dalam Islam tidak kurang pula sederhana dan luhurnya dari sistem moral dan dasar spiritual itu. Inti konsep ajaran Islam waktu itu pada dasarnya dan dalam segala sistemnya masih murni, belum tercemar oleh segala macam kontroversi mazhab, dan liku-liku kontroversi itu tak sampai menutupi penglihatan orang dari inti ajarannya yang cemerlang.
Baca juga: Umar bin Khattab: "Akan Kuhantam Raja-Raja Persia itu dengan Raja-Raja Arab"
Sesudah kaum Muslimin masuk ke pusat-pusat Irak dan Syam, dan menyebar di Persia dan Mesir, tokoh-tokoh mereka berjalan di depan membawa panji kemenangan.
Penduduk negeri yang tersebar di kawasan-kawasan itu sudah tentu akan berpikir juga tentang rahasia kemenangan ini serta pangkal penyebabnya dalam konsep ajaran Islam.
Selanjutnya, pertentangan dalam sekte-sekte Nasrani dan dalam sekte-sekte Majusi ketika itu sudah pula sampai di puncaknya. Akibat pertentangan ini di beberapa negeri orang mengalami pelbagai macam tindak kekerasan dengan akibat keyakinan sebagian orang menjadi goyah kemudian meninggalkannya.
"Yang sebagian lagi malah bertambah fanatik pada keyakinannya dan untuk itu mau ia berkorban," ujar Haekal. "Ini juga merupakan faktor lain lagi untuk membuatnya berpikir tentang agama yang baru ini dan apa pula isi ajarannya," lanjutnya.
Di samping itu, ditambah lagi karena kaum Muslimin tak pernah memaksa siapa pun dari penganut-penganut berbagai aliran di kalangan Nasrani dan Majusi itu untuk menganut Islam. Bahkan kebebasan memeluk suatu keyakinan mereka jadikan dasar dakwah.
Lihat Juga :