Mullah Nashruddin, Berburu, dan Kuah Sup Bebek
Selasa, 11 Agustus 2020 - 09:41 WIB
loading...
A
A
A
Menurut Idries Shah, banyak mazhab yang tetap beroperasi lama setelah dinamika aktualnya telah kering, semata-mata menjadi pusat pengulangan suatu doktrin yang semakin melemah. Nama ajaran tersebut mungkin tetap sama.
Baca juga: Tradisi Alkimia Masuk ke Barat Melalui Sumber-Sumber Arab
Ajaran tersebut mungkin tidak memiliki nilai lagi, bahkan mungkin bertentangan dengan makna asalnya, yang hampir semuanya selalu merupakan pendangkalan terhadap makna salah satu persoalan pokok dalam ceritanya tentang "Kuah Sup Bebek".
Seorang kerabat jauh mengunjungi Mullah Nashruddin, dengan membawa seekor bebek sebagai buah tangan. Karena gembira, Nashruddin memasaknya dan menyantapnya bersama tamunya. Akan tetapi, akhir-akhir ini orang-orang pedalaman silih berganti mengunjungi rumah Nashruddin, masing-masing orang mengaku sahabat dari "orang yang membawakan bebek itu sebagai buah tangan".
Baca juga: Inilah Pujian Ulama kepada Imam Al-Ghazali
Lama-kelamaan Nashruddin terkuras. Akan tetapi, pada suatu hari seorang asing lainnya berkunjung, "Aku adalah sahabat dari sahabat dari sahabat kerabat yang membawakan bebek kepada Anda."
Ia duduk, seperti semua tamu-tamunya, mengharapkan sebuah hidangan. Akhirnya Nashruddin menghidangkan kepadanya semangkuk air panas.
"Apa ini?"
"Ini adalah sup dari sup dari sup bebek yang dibawa oleh kerabatku."
Persepsi tajam yang dicapai sufi kadang-kadang memungkinkan dirinya mengalami hal-hal yang tidak terlihat oleh orang-orang lain. Karena tidak mengetahui hal ini, para anggota dari mazhab-mazhab lainnya secara umum memperlihatkan kelemahan persepsinya dengan mengatakan atau melakukan sesuatu yang secara jelas merupakan akibat dari ketidakmatangan spiritualnya, sehingga seorang Sufi bisa membaca dirinya seperti sebuah buku. Oleh karena itu, persepsi tersebut digambarkan oleh cerita Nashruddin lainnya:
Baca juga: Musik dan Tarian Sebagai Pembantu Kehidupan Keagamaan bagian ( 1 ) dan ( 2 )
Baca juga: Tradisi Alkimia Masuk ke Barat Melalui Sumber-Sumber Arab
Ajaran tersebut mungkin tidak memiliki nilai lagi, bahkan mungkin bertentangan dengan makna asalnya, yang hampir semuanya selalu merupakan pendangkalan terhadap makna salah satu persoalan pokok dalam ceritanya tentang "Kuah Sup Bebek".
Seorang kerabat jauh mengunjungi Mullah Nashruddin, dengan membawa seekor bebek sebagai buah tangan. Karena gembira, Nashruddin memasaknya dan menyantapnya bersama tamunya. Akan tetapi, akhir-akhir ini orang-orang pedalaman silih berganti mengunjungi rumah Nashruddin, masing-masing orang mengaku sahabat dari "orang yang membawakan bebek itu sebagai buah tangan".
Baca juga: Inilah Pujian Ulama kepada Imam Al-Ghazali
Lama-kelamaan Nashruddin terkuras. Akan tetapi, pada suatu hari seorang asing lainnya berkunjung, "Aku adalah sahabat dari sahabat dari sahabat kerabat yang membawakan bebek kepada Anda."
Ia duduk, seperti semua tamu-tamunya, mengharapkan sebuah hidangan. Akhirnya Nashruddin menghidangkan kepadanya semangkuk air panas.
"Apa ini?"
"Ini adalah sup dari sup dari sup bebek yang dibawa oleh kerabatku."
Persepsi tajam yang dicapai sufi kadang-kadang memungkinkan dirinya mengalami hal-hal yang tidak terlihat oleh orang-orang lain. Karena tidak mengetahui hal ini, para anggota dari mazhab-mazhab lainnya secara umum memperlihatkan kelemahan persepsinya dengan mengatakan atau melakukan sesuatu yang secara jelas merupakan akibat dari ketidakmatangan spiritualnya, sehingga seorang Sufi bisa membaca dirinya seperti sebuah buku. Oleh karena itu, persepsi tersebut digambarkan oleh cerita Nashruddin lainnya:
Baca juga: Musik dan Tarian Sebagai Pembantu Kehidupan Keagamaan bagian ( 1 ) dan ( 2 )
Lihat Juga :