11 Brigade Basmi Kaum Murtad, Khalid Bin Walid Pimpin Brigade Pertama
Rabu, 12 Agustus 2020 - 09:13 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Beda Haluan Politik antara Umar bin Khattab dan Abu Bakar
Tetapi sebagai orang yang punya harga diri Khalid menjawab dengan nada keras: "Demi Allah, orang suka atau tidak, sungguh dia benar." Khalid lalu pergi ke Madinah. la segera mendapat tempat di hati Muslimin sebagai seorang panglima perang.
Ketika terjadi perang Mu'tah, dialah Pedang Allah di sana, dan Pedang Allah sesudah itu. Di tangannya Allah memberi kemenangan atas Irak dan Syam dan menundukkan Persia dan imperium Rumawi, dua adikuasa yang menguasai dunia saat itu. Tidak heran jika Khalifah Abu Bakar menempatkannya untuk memimpin brigadenya yang paling tangguh.
Baca juga: Kisah Konsolidasi Nabi-Nabi Palsu di Era Khalifah Abu Bakar
Tidak pula heran jika juga Khalid yang harus menghadapi perang Riddah dan yang sesudahnya.
Pimpinan Brigade
Ada sekelompok orang dari kalangan Ansar yang menilai bahwa Khalifah Abu Bakar telah menyerahkan pimpinan brigade itu hanya kepada kaum Muhajirin , tanpa ada seorang pun dari Ansar.
Muhamad Husain Haekal menyebut Khalifah Abu Bakar melakukan itu sebenarnya dengan tujuan supaya orang-orang Madinah (Ansar) tetap sebagai kekuatan pertahanan dalam kota, karena mereka lebih mengetahui keadaan di dalam, dan cintanya dalam menjaga daerahnya itu melebihi siapa pun.
Baca juga: Kisah Aswad al-Ansi, Nabi Palsu yang Sempat Menguasai Yaman
Anggapan sebagian orang bahwa mereka tidak diikutsertakan karena adanya kekhawatiran setelah melihat sikap yang mereka dulu di Saqifah Banu Sa'idah, sama sekali tak beralasan.
Brigade-brigade itu dibentuk hanya untuk menghadapi kaum murtad. Dalam keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya kaum Ansar tidak kurang dari Muhajirin, sehingga kekhawatiran terhadap pihak Ansar dalam memerangi kaum murtad juga tidak beralasan.
Andaikata penafsiran semacam itu terhadap Ansar dapat dibenarkan, tentu hal yang sama dapat juga dibenarkan terhadap sahabat besar lainnya seperti Ali bin Abu Thalib , Talhah bin Ubaidilah dan Zubair bin Awwam , yang juga tinggal di Madinah. Seperti juga Umar bin Khattab , untuk memberikan pendapat dan saran kepada Abu Bakar, sehingga segala perencanaan dari strategi yang disusun oleh pusat komando tertinggi itu akan bertambah kuat. (Baca juga: Akhlak Umar bin Khattab dan Kesedihannya Ketika Nabi Wafat)
Tetapi sebagai orang yang punya harga diri Khalid menjawab dengan nada keras: "Demi Allah, orang suka atau tidak, sungguh dia benar." Khalid lalu pergi ke Madinah. la segera mendapat tempat di hati Muslimin sebagai seorang panglima perang.
Ketika terjadi perang Mu'tah, dialah Pedang Allah di sana, dan Pedang Allah sesudah itu. Di tangannya Allah memberi kemenangan atas Irak dan Syam dan menundukkan Persia dan imperium Rumawi, dua adikuasa yang menguasai dunia saat itu. Tidak heran jika Khalifah Abu Bakar menempatkannya untuk memimpin brigadenya yang paling tangguh.
Baca juga: Kisah Konsolidasi Nabi-Nabi Palsu di Era Khalifah Abu Bakar
Tidak pula heran jika juga Khalid yang harus menghadapi perang Riddah dan yang sesudahnya.
Pimpinan Brigade
Ada sekelompok orang dari kalangan Ansar yang menilai bahwa Khalifah Abu Bakar telah menyerahkan pimpinan brigade itu hanya kepada kaum Muhajirin , tanpa ada seorang pun dari Ansar.
Muhamad Husain Haekal menyebut Khalifah Abu Bakar melakukan itu sebenarnya dengan tujuan supaya orang-orang Madinah (Ansar) tetap sebagai kekuatan pertahanan dalam kota, karena mereka lebih mengetahui keadaan di dalam, dan cintanya dalam menjaga daerahnya itu melebihi siapa pun.
Baca juga: Kisah Aswad al-Ansi, Nabi Palsu yang Sempat Menguasai Yaman
Anggapan sebagian orang bahwa mereka tidak diikutsertakan karena adanya kekhawatiran setelah melihat sikap yang mereka dulu di Saqifah Banu Sa'idah, sama sekali tak beralasan.
Brigade-brigade itu dibentuk hanya untuk menghadapi kaum murtad. Dalam keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya kaum Ansar tidak kurang dari Muhajirin, sehingga kekhawatiran terhadap pihak Ansar dalam memerangi kaum murtad juga tidak beralasan.
Andaikata penafsiran semacam itu terhadap Ansar dapat dibenarkan, tentu hal yang sama dapat juga dibenarkan terhadap sahabat besar lainnya seperti Ali bin Abu Thalib , Talhah bin Ubaidilah dan Zubair bin Awwam , yang juga tinggal di Madinah. Seperti juga Umar bin Khattab , untuk memberikan pendapat dan saran kepada Abu Bakar, sehingga segala perencanaan dari strategi yang disusun oleh pusat komando tertinggi itu akan bertambah kuat. (Baca juga: Akhlak Umar bin Khattab dan Kesedihannya Ketika Nabi Wafat)
(mhy)
Lihat Juga :