Utusan Khalifah Ini Oleh Kaisar Romawi Dianggap Keturunan Raja

Jum'at, 21 Agustus 2020 - 13:46 WIB
loading...
Utusan Khalifah Ini...
Ilustrasi/Ist
A A A
TATKALA khilafah beralih ke tangan Abdul Malik bin Marwan, amirul mukminin menulis surat kepada gubernurnya di Irak, Hajjaj bin Yusuf, “Hendaknya engkau mengirim kepadaku seorang yang mahir dalam agama dan dunia, yang akan aku jadikan sebagai teman dan pendampingku.”

Lalu diutuslan Amir bin Syurahabil Asy-Sya’bi. Amirul mukminin berkenan menjadikannya sebagai pendamping dan memanfaatkan ilmunya ketika menghadapi kesulitan, memakai pandangannya setiap kali membutuhkan dan menjadikan dia sebagai utusannya untuk bernegoisasi dengan raja-raja di muka bumi.

Dr Abdurrahman Ra’at Basya dalam Mereka adalah Para Tabi’in menceritakan suatu kali Asy-Sya’bi diutus untuk urusan penting menemui Justinian kaisar Romawi . Setibanya beliau di Romawi dan setelah memberikan keterangan, kaisar Romawi kagum akan kecerdasan dan kelihaiannya, serta takjub akan keluasan wawasan dan kekuatan daya tangkapnya.

Dia bahkan meminta kesediaan Asy-Sya’bi untuk memperpanjang kunjungannya sampai beberapa hari, sesuatu yang tidak pernah dilakukan kaisar terhadap para utusan yang lain. (Baca juga: Kisah Tabiin Cerdas Iyas Bin Mu’awiyah Al-Muzanni )

Ketika Asy-Sya’bi mendesak agar segera diizinkan pulang ke Damaskus, Justinian bertanya, “Apakah Anda dari keturunan raja?”

“Tidak, saya seperti umumnya kaum muslimin,” jawabnya. (Baca juga: Guru Yahudi Ini Anggap di Surga Itu Aneh, Makan Tapi Tidak Buang Air Besar )

Setelah beliau diizinkan pulang, kaisar berkata, “Jika Anda telah sampai kepada Abdul Malik bin Marwan dan menyampaikan apa yang kehendakinya, berikan surat ini kepadanya.”

Setibanya Asy-Sya’bi di Damaskus, beliau bersegera menghadap khalifah Abdul Malik untuk melaporkan apa yang dia lihat dan dia dengar. Ketika hendak beranjak pulang, beliau berkata, “Wahai amirul mukminin, kaisar Romawi juga menitipkan surat ini untuk Anda,” kemudian beliau pulang.

Baca juga: Dituduh Menyimpang karena Tidak Menikah dan Menolak Makan Daging

Ketika amirul mukminin membaca surat tersebut, beliau berkata kepada pembantunya, “Panggillah Asy-Sya’bi kemari.” Maka Asy-Sya’bi kembali menghadap khalifah .

“Tahukan Anda, apakah isi surat ini?” tanya Khalifah.

“Tidak wahai amirul mukmin,” jawab Asy-Sya’bi.

“Kaisar Romawi itu berkata, ‘Saya heran kenapa orang Arab mau mengangkat raja selain orang ini (asy-Sya’bi)’?” ujar Khalifah.

Baca juga: Makam Khalifah Umar bin Abdul Aziz Digali dan Dihancurkan

Asy-Sya’bi berkomentar, “Dia berkata demikian karena belum pernah berjumpa dengan Anda. Andai saja dia pernah melihat Anda, tentulah dia tak akan berkata demikian.”

“Tahukah Anda, mengapa kaisar menulis surat seperti ini?” tanya Khalifah.

“Tidak wahai amirul mukmin,” jawab Asy-Sya’bi.

“Dia menulis surat seperti itu karena iri kepadaku lantaran memiliki pendamping sepertimu, lalu dia hendak memancing kecemburuanku sehingga aku akan menyingkirkan dirimu,” ujar Khalifah.

Baca juga: Kisah Tabi’in Amir bin Abdillah At-Tamimi (1)

Ketika pernyataan Abdul Malik ini sampai ke telinga Justinian, dia berkata, “Demi Allah, memang tidak ada maksud dariku selain itu.”

Sifat Tawadhu
Asy-Sya’bi mampu meraih derajat ilmu yang setara dengan para ulama pada zamannya. Az-Zuhri berkata, “Sesungguhnya ulama itu ada empat, yaitu Sa’id bin Musayyab di Madinah, Amir bin Syurahabil di Kufah, Hasan Al-Bashri di Bashrah dan Makhul di Syam.”

Baca juga: Di Kaki Ka'bah, Tatkala Khalifah Meminta Fatwa dari Bekas Budak

Hanya saja karena sifat tawadhu’, beliau tidak suka bila ada yang menyebutnya alim (orang yang berilmu). Pernah salah seorang dari kaumnya berkata, “Jawablah wahai faqih, wahai ‘alim!” beliau berkata, “Janganlah memujiku dengan apa yang tidak ada padaku. Orang yang faqih adalah orang yang benar-benar menjauhi segala yang diharamkan Allah dan orang alim adalah orang yang takut kepada Allah. Manalah aku termasuk di dalamnya?”

Suatu ketika beliau ditanya tentang suatu masalah, beliau menjawab, “Umar bin Khathab berkata begini, Ali bin Abi Thalib berkata begini.” Maka penanya berkata, “Maka bagaimana pendapat Anda wahai Amru?”

Beliau tersenyum malu dan berkata, “Apa pula pentingnya kata-kataku bagimu padahal Anda sudah mendengar pendapat Umar dan Ali?”

Baca juga: Kisah Al-Ghafiqi, Terulangnya Tragedi Uhud yang Memilukan

Di samping itu, Asy-Sya’bi menghiasi dirinya dengan akhlak yang mulia dan sifat-sifat yang utama. Beliau tidak suka debat kusir dan berusaha menjauhkan diri dari pembicaraan-pembicaraan yang tak bermanfaat. Suatu kali sahabatnya berkata, “Wahai abu Amru!”
Beliau berkata, “Labbaik.” Orang itu bertanya, “Bagaimana pendapat Anda tentang perbincangan orang berkenaan dua orang itu?” beliau berkata, “Dua orang yang mana?” Dia menjawab, “Utsman dan Ali.”

Beliau berkata, “Demi Allah, aku tidak ingin pada hari kiamat nanti menjadi musuh bagi Utsman bin Affan dan Ali bin Thalib.”

Baca juga: Kisah Khalifah Umar bin Abdul Aziz dan Putranya Saat Merayakan Hari Raya

Sungguh telah terkumpul pada diri Asy-Sya’bi antara ilmu dan kelapangan dada. Diriwayatkan bahwa ada seseorang yang menuduh beliau dengan tuduhan yang keji dan memaki dengan kata-kata kotor, namun tiada yang dikatakan Asy-Sya’bi selain kalimat, “Jika memang apa yang Anda tuduhkan kepada saya itu benar, mudah-mudahan Allah mengampuni saya. Namun jika memang tuduhanmu dusta, maka semoga Allah mengampunimu.”

Beliau tidak segan-segan menerima ilmu dari orang-orang yang masih pemula kendati beliau telah masyhur akan keutamaan, ma’rifah dan hikmah-hikmahnya.

Pernah suatu ketika ada orang dusun yang selalu rajin mendatangi majelisnya, tetapi orang ini banyak diamnya, sehingga suatu kali Asy-Sya’bi menegurnya, “Mengapa engkau tak pernah bicara?”

Dia berkata, “Ketika aku diam maka aku selamat, ketika aku mendengar maka aku mendapat ilmu. Hasil dari telinga akan kembali kepada dirinya sendiri, sedangkan hasil lisan akan berpindah ke orang lain.” Sejak itu kalimat orang dusun itu selalu beliau ulang-ulang dalam hidupnya. (Baca juga: Zubair: Orang Pertama yang Menghunuskan Pedang di Jalan Allah )

Meski demikian sempurna dan ketinggian kedudukannya dalam hal ilmu dan agama, Asy-Sya’bi juga mampu berbicara dalam bahasa yang mudah dipahami dan enak didengar. Sesekali beliau juga bercanda selagi masih dalam batas diperbolehkan dan bermanfaat.

Usia Asy-Sya’bi mencapai lebih dari 80 tahun. Ketika berita tentang wafatnya sampai kepada Hasan Al-Bashri ulama Bashrah, beliau berkata, “Semoga Allah merahmati beliau, sunggu beliau memiliki ilmu yang luas, lapang dada dan memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam.” (Baca juga: Tangis Si Kecil di Tengah Malam yang Mengaduk-aduk Perasaan Bunda )
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Kisah Uwais Al-Qarni,...
Kisah Uwais Al-Qarni, Teladan Berbakti kepada Orang Tua yang Dijamin Doanya Mustajab
Kisah Tabiin : Sikap...
Kisah Tabiin : Sikap Rendah Hati Abdullah bin Mubarak, Ulama Teladan dan Ditakuti di Medan Perang
Kisah Sahabat Nabi :...
Kisah Sahabat Nabi : Wafat Seorang Diri dan Kelak Dibangkitkan Sendirian
Nasihat Penuh Hikmah...
Nasihat Penuh Hikmah Tabi'in Hasan Al-Bashri kepada Pejabat Tinggi
Kisah Tabiin Hasan al-Bashri...
Kisah Tabiin Hasan al-Bashri dan Doanya Agar Terhindar dari Penguasa Zalim
Kisah Tabiin Ibnu Sirin:...
Kisah Tabiin Ibnu Sirin: Pelopor Ilmu Interpretasi Mimpi dalam Islam
Rekomendasi
Teliti Bencana Kebakaran...
Teliti Bencana Kebakaran Hutan, Ilmuwan Temukan Keajaiban pada Pohon
Identik dengan Nabi...
Identik dengan Nabi Musa, Keanehan di Laut Merah Kembali Ditemukan
Bukan Soal Dajjal, Ini...
Bukan Soal Dajjal, Ini Jawaban Ilmiah Terbaru Penyebab Sungai Efrat Mengering
Artikel Terkini
Hukum Menikah di Bulan...
Hukum Menikah di Bulan Safar, Benarkah Membawa Sial? Ini Dalil dan Penjelasan Ulama
Ketika Salah Kiblat,...
Ketika Salah Kiblat, Salatnya Sah atau Tidak? Ini Penjelasan Lengkap Beserta Dalilnya
Sejarah Rashdul Kiblat:...
Sejarah Rashdul Kiblat: Metode Penentuan Arah Kiblat Warisan Abu Rahyan Al-Biruni
Rashdul Qiblat, Cara...
Rashdul Qiblat, Cara Paling Akurat Meluruskan Arah Kiblat yang Memadukan Sains dan Syariat
3 Amalan Bulan Safar...
3 Amalan Bulan Safar 1448 Hijriyah yang Jangan Dilewatkan, Pahalanya Berlipat-lipat
Khotbah Jumat Pertama...
Khotbah Jumat Pertama Bulan Safar : Bulan Penuh Kebaikan, Bukan Kesialan
Infografis
10 Ilmuwan Muslim yang...
10 Ilmuwan Muslim yang Mengubah Wajah Ilmu Pengetahuan Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved