Mullah Nashruddin, Kamar Mandi Turki, dan Ancaman Bahaya
Rabu, 19 Agustus 2020 - 09:06 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Mullah Nashruddin: Bagaimana Aku Tahu Apakah Aku Mati atau Hidup?
Nashruddin memelototkan bola matanya, mulai bernapas terengah-engah, berjungkir balik dan melepaskan tinjunya ke meja sampai perempuan yang ketakutan tersebut pingsan. Kemudian Nashruddin menerobos ke luar ruangan.
Ketika Nashruddin kembali dan perempuan tersebut telah siuman, perempuan itu berkata kepadanya, "Aku meminta Anda menakut-nakuti anakku, bukan aku!"
Baca juga: Mullah Nashruddin, Berburu, dan Kuah Sup Bebek
"Nyonya," ucap Nashruddin, "bahaya tidak mengenal sasaran seperti yang Anda lihat, bahkan aku telah menakut-nakuti diriku sendiri. Ketika bahaya mengancam, ia mengancam semua orang secara sama."
Demikian juga, guru sufi tidak bisa memasok muridnya hanya dengan sejumlah kecil ajaran sufisme. Sufisme merupakan keseluruhan, dan di dalamnya mengandung keutuhan, bukan fragmentasi kesadaran yang mungkin digunakan oleh orang yang belum tercerahkan dalam prosesnya sendiri dan mungkin ia menyebutnya sebagai "konsentrasi". Baca juga: Ketika Nashruddin Menjadi Hakim dan Orang Bodoh
Nashruddin mengolok-olok orang-orang yang tidak sungguh-sungguh dalam belajar, yang berharap mempelajari, atau mencuri rahasia kehidupan tanpa mau berupaya keras:
Sebuah kapal akan tenggelam dan para penumpang berlutut berdoa dan bertobat, seraya berjanji untuk melakukan segala jenis kebajikan jika mereka bisa diselamatkan. Hanya Nashruddin yang tidak bergerak. (Baca juga: Nashruddin Sering Mainkan Peranan Orang yang Belum Tercerahkan )
Tiba-tiba, di tengah kepanikan tersebut ia melompat dan berteriak, "Sobat, sekarang bangkitlah! Jangan mengubah caramu -- jangan terlalu mengobral janji. Aku kira aku melihat daratan!"
Nashruddin menegaskan kesalahan gagasan mendasar tersebut -- yaitu bahwa pengalaman mistis dan pencerahan tidak bisa dicapai melalui pengaturan kembali dari gagasan-gagasan yang sudah dikenal baik, tetapi melalui suatu pengakuan terhadap keterbatasan dari pemikiran biasa, yang hanya melayani untuk tujuan-tujuan duniawi. Dengan melakukan hal ini, ia mengungguli setiap bentuk pengajaran lain yang ada. (Baca juga: Mullah Nashruddin, Keledai, dan Kualitas Magis Berkah )
Nashruddin memelototkan bola matanya, mulai bernapas terengah-engah, berjungkir balik dan melepaskan tinjunya ke meja sampai perempuan yang ketakutan tersebut pingsan. Kemudian Nashruddin menerobos ke luar ruangan.
Ketika Nashruddin kembali dan perempuan tersebut telah siuman, perempuan itu berkata kepadanya, "Aku meminta Anda menakut-nakuti anakku, bukan aku!"
Baca juga: Mullah Nashruddin, Berburu, dan Kuah Sup Bebek
"Nyonya," ucap Nashruddin, "bahaya tidak mengenal sasaran seperti yang Anda lihat, bahkan aku telah menakut-nakuti diriku sendiri. Ketika bahaya mengancam, ia mengancam semua orang secara sama."
Demikian juga, guru sufi tidak bisa memasok muridnya hanya dengan sejumlah kecil ajaran sufisme. Sufisme merupakan keseluruhan, dan di dalamnya mengandung keutuhan, bukan fragmentasi kesadaran yang mungkin digunakan oleh orang yang belum tercerahkan dalam prosesnya sendiri dan mungkin ia menyebutnya sebagai "konsentrasi". Baca juga: Ketika Nashruddin Menjadi Hakim dan Orang Bodoh
Nashruddin mengolok-olok orang-orang yang tidak sungguh-sungguh dalam belajar, yang berharap mempelajari, atau mencuri rahasia kehidupan tanpa mau berupaya keras:
Sebuah kapal akan tenggelam dan para penumpang berlutut berdoa dan bertobat, seraya berjanji untuk melakukan segala jenis kebajikan jika mereka bisa diselamatkan. Hanya Nashruddin yang tidak bergerak. (Baca juga: Nashruddin Sering Mainkan Peranan Orang yang Belum Tercerahkan )
Tiba-tiba, di tengah kepanikan tersebut ia melompat dan berteriak, "Sobat, sekarang bangkitlah! Jangan mengubah caramu -- jangan terlalu mengobral janji. Aku kira aku melihat daratan!"
Nashruddin menegaskan kesalahan gagasan mendasar tersebut -- yaitu bahwa pengalaman mistis dan pencerahan tidak bisa dicapai melalui pengaturan kembali dari gagasan-gagasan yang sudah dikenal baik, tetapi melalui suatu pengakuan terhadap keterbatasan dari pemikiran biasa, yang hanya melayani untuk tujuan-tujuan duniawi. Dengan melakukan hal ini, ia mengungguli setiap bentuk pengajaran lain yang ada. (Baca juga: Mullah Nashruddin, Keledai, dan Kualitas Magis Berkah )
(mhy)
Lihat Juga :