Lebih Percaya Mana? Mullah Nashruddin, Apa Keledai?

Kamis, 20 Agustus 2020 - 06:24 WIB
loading...
A A A
Baca juga: Mullah Nashruddin: Bagaimana Aku Tahu Apakah Aku Mati atau Hidup?

Nashruddin tengah berjalan melewati jalan berdebu dengan seorang sahabat. Ketika menyadari bahwa mereka sangat kehausan, mereka berhenti di sebuah warung teh dan menemukan bahwa mereka hanya memiliki uang untuk segelas susu. Sahabatnya berkata, "Minumlah bagianmu yang separo terlebih dulu, aku memiliki sejumlah gula yang akan aku tambahkan ke dalam bagianku!"

"Sobat, tambahkan gula itu sekarang juga, dan kita akan menikmatinya berdua," ucap Nashruddin.

"Jangan! Gulanya tidak cukup untuk memaniskan segelas susu."

Nashruddin pergi ke dapur dan kembali dengan membawa butiran garam. "Kabar baik, sobat -- aku akan memperoleh separo bagianku dengan memberi garam -- dan ini cukup untuk satu gelas penuh."

Baca juga: Mullah Nashruddin, Berburu, dan Kuah Sup Bebek

Meskipun -- dalam praktik, namun bahkan dunia artifisial yang telah kita ciptakan untuk diri sendiri -- kita terbiasa beranggapan bahwa "hal-hal yang pertama pasti akan muncul pertama", dan bahwa segala sesuatu pasti berurutan dari A sampai Z, anggapan ini tidak berlaku mutlak pada dunia metafisis yang memiliki orientasi berbeda.

Seorang murid (Sufi), pada saat yang bersamaan, akan mempelajari berbagai hal yang berbeda, pada tingkat persepsi dan potensialitasnya tersendiri. Ini merupakan perbedaan lainnya antara Sufisme dan sistem-sistem yang bergantung pada anggapan bahwa hanya satu hal yang bisa dipelajari pada satu keadaan.

Baca juga: Ketika Nashruddin Menjadi Hakim dan Orang Bodoh

Seorang guru Sufi (darwis) mengulas hubungan multi bentuk dari Nashruddin dengan seorang murid (Sufi). Cerita tersebut, katanya, serupa dengan sebuah delima. Buah ini memiliki keindahan, gizi dan sari yang tersembunyi -- bijinya.

Seseorang mungkin tertarik secara emosional dengan bentuk luarnya, tertawa mendengar sebuah lelucon, atau melihat keindahan lahiriah tersebut. Tetapi hal ini hanya jika delima tersebut diberikan kepada Anda. Semua hal yang terserap adalah bentuk dan warnanya, mungkin aromanya, bentuk lahir dan teksturnya. (Baca juga: Ajaran Sufi Hanya Bisa Dilakukan oleh Seorang Sufi )
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Kisah Hikmah : Perempuan...
Kisah Hikmah : Perempuan yang Sering Menangis karena Allah
Kisah Qarun dalam Al-Quran:...
Kisah Qarun dalam Al-Qur'an: Dari Orang Saleh Menjadi Binasa karena Harta
Kisah Uwais Al-Qarni,...
Kisah Uwais Al-Qarni, Teladan Berbakti kepada Orang Tua yang Dijamin Doanya Mustajab
Kisah Nabi Muhammad...
Kisah Nabi Muhammad SAW Sujud Sangat Lama, Ternyata Ini Penyebabnya
Kisah Hikmah : Tidak...
Kisah Hikmah : Tidak Melakukan Ibadah Haji Tapi Dapat Pahala Haji, Kok Bisa?
Kisah Bulan Zulhijjah...
Kisah Bulan Zulhijjah : Diijabahnya Doa Nabi Zakaria Mendapatkan Keturunan di Umur 90 Tahun
Rekomendasi
Permukaan Laut di Seluruh...
Permukaan Laut di Seluruh Dunia Meningkat Namun di Greenland Menurun
Pemahaman Sains dan...
Pemahaman Sains dan Keyakinan Secara Utuh
Jepang Merevisi Probabilitas...
Jepang Merevisi Probabilitas Gempa Besar di Palung Nankai
Artikel Terkini
Asal Usul Nama Surat...
Asal Usul Nama Surat Al-Baqarah: Kisah Sapi Betina yang Mengungkap Misteri Pembunuhan
Ayat-ayat Istimewa Surat...
Ayat-ayat Istimewa Surat Al Baqarah : Mengapa Ayat 255 Disebut Ayat Kursi?
Asbabun Nuzul 2 Ayat...
Asbabun Nuzul 2 Ayat Terakhir Surat Al Baqarah: Kisah Turunnya Ayat yang Menenangkan Para Sahabat
Bacaan 2 Ayat Terakhir...
Bacaan 2 Ayat Terakhir Surat Al Baqarah dan 3 Manfaatnya yang Dahsyat
Rahasia 2 Ayat Terakhir...
Rahasia 2 Ayat Terakhir Surat Al Baqarah: Dibaca Malam Hari, Pahalanya Luar Biasa
Kisah Hikmah : Perempuan...
Kisah Hikmah : Perempuan yang Sering Menangis karena Allah
Infografis
Tri Mumpuni, Ilmuwan...
Tri Mumpuni, Ilmuwan Muslim Indonesia Paling Berpengaruh di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved