Penaklukan Yerusalem: Kisah Khalifah Umar Serahkan Kepemimpinan kepada Ali bin Abi Thalib
Kamis, 06 Juni 2024 - 10:02 WIB
loading...
Umar berangkat ke Yerusalem dan menyerahkan urusan Madinah di tangan Ali bin Abi Thalib. Ilustrasi: Ist
A
A
A
Khalifah Umar bin Khattab meninggalkan Madinah menuju Yerusalem setelah tercapai persetujuan damai dengan pihak Aelia atau Illia, Yerusalem. Itu sebabnya kemudian ia berangkat dalam sebuah rombongan kecil saja, setelah sebelumnya mengirim pasukan dalam jumlah besar untuk memperkuat pasukan yang dipimpin Amr bin Ash .
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Al-Faruq Umar" yang diterjemahkan Ali Audah menjadi "Umar bin Khattab, Sebuah teladan mendalam tentang pertumbuhan Islam dan Kedaulatannya masa itu" ( PT Pustaka Litera AntarNusa, 2000) menyebut ada juga beberapa sumber menyebutkan yang berlawanan dengan sumber yang sudah masyhur itu.
Sumber dari Adi bin Sahal mengatakan: “Sesudah pihak Syam meminta bala bantuan dari Khalifah Umar dalam menghadapi pihak Palestina , pimpinan diserahkannya kepada Ali dan dia pergi memberikan bala bantuan kepada mereka. Maka Ali berkata: Akan pergi ke mana? Anda mau menghadapi musuh seekor anjing.”
Baca juga: Kisah Khalifah Umar Bebaskan Baitul Maqdis, Palestina Aman dan Damai
Dalam sebuah sumber menurut Ibn Katsir bahwa Umar pergi ke Palestina menyelesaikan perjanjian damai dengan pihak Aelia, dan dia pergi dengan sebuah pasukan ke sana, dan menyerahkan pimpinan Madinah kepada Ali bin Abi Thalib.”
Anehnya, kata Haekal, bahwa tak ada tujuan lain Umar berangkat dengan pasukannya selain untuk menyelesaikan perundingan damai dan membuat perjanjian. Dan yang aneh lagi, bahwa pihak Baitulmukadas meminta kedatangan Umar dari Madinah hanya untuk membuat perjanjian, padahal ·mereka tahu jarak itu dalam perjalanan terus-menerus dengan kafilah memakan waktu tiga minggu.
"Oleh karena itu saya cenderung berpendapat bahwa Umar sudah tidak sabar lagi dengan pengepungan yang begitu lama itu dan Amr menulis surat kepadanya mengenai kekuatan musuh, dan Umar mengirimkan bala bantuan," ujar Haekal.
Setelah ada permintaan bala bantuan, baru ia berangkat bersama bala bantuan itu hingga sampai di al-Jabiah - antara pedalaman Syam dengan Yordania - sementara itu Abu Ubaidah dan Khalid bin Walid sudah selesai menaklukkan Syam.
Baca juga: Umar Bin Khattab dan Shalahudin Al Ayubi, Pahlawan Pembebas Baitul Maqdis, Siapa Berikutnnya?
Kedua tokoh ini dipanggil Khalifah Umar ke Jabiah untuk diajak bermusyawarah bersama-sama dengan pemimpin-pemimpin pasukan Muslimin yang lain dalam mencari cara-cara terbaik menumpas perlawanan kota yang sudah terkepung itu.
Atrabun dan Severinus mengetahui kedatangan Umar, juga mereka tahu bencana yang telah menimpa pasukan Romawi di tangan Abu Ubaidah dan Khalid. Mereka sudah memperkirakan kota itu tak akan dapat bertahan lebih lama lagi. Maka dengan diam-diam Atrabun menarik angkatan bersenjatanya ke Mesir.
Sesudah Uskup tua itu yakin akan keselamatannya, ia memimpin perundingan dengan pihak Muslimin mengenai penyerahan kota itu. Mengetahui bahwa Amirulmukminin sudah berada di Jabiah, ia sudah menetapkan akan datang sendiri untuk membuat perjanjian itu. Melihat jarak antara Jabiah dengan Baitulmukadas, tidak akan sulit memenuhi permintaan Severinus itu.
"Inilah yang dapat saya terima, dan sesuai dengan jalannya sejarah sekitar peristiwa-peristiwa penyerbuan ke Syam dan Palestina itu," tutur Haekal.
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Al-Faruq Umar" yang diterjemahkan Ali Audah menjadi "Umar bin Khattab, Sebuah teladan mendalam tentang pertumbuhan Islam dan Kedaulatannya masa itu" ( PT Pustaka Litera AntarNusa, 2000) menyebut ada juga beberapa sumber menyebutkan yang berlawanan dengan sumber yang sudah masyhur itu.
Sumber dari Adi bin Sahal mengatakan: “Sesudah pihak Syam meminta bala bantuan dari Khalifah Umar dalam menghadapi pihak Palestina , pimpinan diserahkannya kepada Ali dan dia pergi memberikan bala bantuan kepada mereka. Maka Ali berkata: Akan pergi ke mana? Anda mau menghadapi musuh seekor anjing.”
Baca juga: Kisah Khalifah Umar Bebaskan Baitul Maqdis, Palestina Aman dan Damai
Dalam sebuah sumber menurut Ibn Katsir bahwa Umar pergi ke Palestina menyelesaikan perjanjian damai dengan pihak Aelia, dan dia pergi dengan sebuah pasukan ke sana, dan menyerahkan pimpinan Madinah kepada Ali bin Abi Thalib.”
Anehnya, kata Haekal, bahwa tak ada tujuan lain Umar berangkat dengan pasukannya selain untuk menyelesaikan perundingan damai dan membuat perjanjian. Dan yang aneh lagi, bahwa pihak Baitulmukadas meminta kedatangan Umar dari Madinah hanya untuk membuat perjanjian, padahal ·mereka tahu jarak itu dalam perjalanan terus-menerus dengan kafilah memakan waktu tiga minggu.
"Oleh karena itu saya cenderung berpendapat bahwa Umar sudah tidak sabar lagi dengan pengepungan yang begitu lama itu dan Amr menulis surat kepadanya mengenai kekuatan musuh, dan Umar mengirimkan bala bantuan," ujar Haekal.
Setelah ada permintaan bala bantuan, baru ia berangkat bersama bala bantuan itu hingga sampai di al-Jabiah - antara pedalaman Syam dengan Yordania - sementara itu Abu Ubaidah dan Khalid bin Walid sudah selesai menaklukkan Syam.
Baca juga: Umar Bin Khattab dan Shalahudin Al Ayubi, Pahlawan Pembebas Baitul Maqdis, Siapa Berikutnnya?
Kedua tokoh ini dipanggil Khalifah Umar ke Jabiah untuk diajak bermusyawarah bersama-sama dengan pemimpin-pemimpin pasukan Muslimin yang lain dalam mencari cara-cara terbaik menumpas perlawanan kota yang sudah terkepung itu.
Atrabun dan Severinus mengetahui kedatangan Umar, juga mereka tahu bencana yang telah menimpa pasukan Romawi di tangan Abu Ubaidah dan Khalid. Mereka sudah memperkirakan kota itu tak akan dapat bertahan lebih lama lagi. Maka dengan diam-diam Atrabun menarik angkatan bersenjatanya ke Mesir.
Sesudah Uskup tua itu yakin akan keselamatannya, ia memimpin perundingan dengan pihak Muslimin mengenai penyerahan kota itu. Mengetahui bahwa Amirulmukminin sudah berada di Jabiah, ia sudah menetapkan akan datang sendiri untuk membuat perjanjian itu. Melihat jarak antara Jabiah dengan Baitulmukadas, tidak akan sulit memenuhi permintaan Severinus itu.
"Inilah yang dapat saya terima, dan sesuai dengan jalannya sejarah sekitar peristiwa-peristiwa penyerbuan ke Syam dan Palestina itu," tutur Haekal.
Lihat Juga :