Perang Salib II: Kisah Kejayaan Kekhalifahan Turki Seljuk di Bawah Imad al-Din Zengi
Rabu, 31 Juli 2024 - 16:01 WIB
loading...
A
A
A
Mendapat perlawanan yang sengit dari Turki Seljuk, Louis VII kemudian memutuskan berlayar langsung menuju Antiokhia.
Dari Antiokhia, Louis VII beserta pasukanya melakukan perjalanan darat menuju Yerusalem. Louis VII sampai di Yerusalem pada tahun 1148 dan kembali ke Prancis 1149. Jadi Louis VII hanya melakukan perjalanan dari kota ke kota.
Baca juga: Perang Salib I: Kisah Kekalahan Turki Seljuk Rum sehingga Memindahkan Ibu Kotanya
Penyerangan Damaskus pada tahun 1148 yang ia rencanakan bersama Conrad III dan Baldwin III tidak pernah terwujud. Kegagalan menyerang Damaskus karena tidak adanya kekompakan dan kepercayaan antara Conrad III, Louis VII, dan Baldwin III.
Phillips mengatakan walaupun Yerusalem telah direbut tentara Salib, Damaskus sebuah kota yang menjadi pusat peradaban dan perekonomian yang masih dikuasai Islam.
Perang Salib II di front timur diikuti banyak kerajaan di Eropa, akan tetapi faktanya perang tersebut tidak sesukses Perang Salib I.
Tujuan Perang Salib II, khususnya di front timur, adalah merebut Edessa dari kekuasaan Turki Seljuk dan mendirikan lagi pemerintahan Kristen.
Berlangsungnya Perang Salib II justru memberikan kejayaan bagi Turki Seljuk karena dapat memenangkan pertempuran di Anatolia. Kemenangan Turki Seljuk di Anatolia mengakibatkan Byzantium melakukan perjanjian damai dengan Turki Seljuk.
Baca juga: Tragedi Perang Salib dan Kolonialisme Eropa Menurut Montgomery Watt
Gagal mengalahkan Turki Seljuk, pasukan Salib di front timur berupaya ingin menguasai Mesir karena di Mesir terdapat banyak sekali pemeluk agama Kristen Koptik.
Rencana penyerangan ke Mesir tidak melibatkan Byzantium karena kepentingan Byzantium adalah untuk menguasai kembali Anatolia. Rencana untuk menaklukkan Mesir, selain karena demografi penduduk, adalah karena kondisi Kekhalifahan Fatimiyah yang terus terpuruk.
Dari Antiokhia, Louis VII beserta pasukanya melakukan perjalanan darat menuju Yerusalem. Louis VII sampai di Yerusalem pada tahun 1148 dan kembali ke Prancis 1149. Jadi Louis VII hanya melakukan perjalanan dari kota ke kota.
Baca juga: Perang Salib I: Kisah Kekalahan Turki Seljuk Rum sehingga Memindahkan Ibu Kotanya
Penyerangan Damaskus pada tahun 1148 yang ia rencanakan bersama Conrad III dan Baldwin III tidak pernah terwujud. Kegagalan menyerang Damaskus karena tidak adanya kekompakan dan kepercayaan antara Conrad III, Louis VII, dan Baldwin III.
Phillips mengatakan walaupun Yerusalem telah direbut tentara Salib, Damaskus sebuah kota yang menjadi pusat peradaban dan perekonomian yang masih dikuasai Islam.
Perang Salib II di front timur diikuti banyak kerajaan di Eropa, akan tetapi faktanya perang tersebut tidak sesukses Perang Salib I.
Tujuan Perang Salib II, khususnya di front timur, adalah merebut Edessa dari kekuasaan Turki Seljuk dan mendirikan lagi pemerintahan Kristen.
Berlangsungnya Perang Salib II justru memberikan kejayaan bagi Turki Seljuk karena dapat memenangkan pertempuran di Anatolia. Kemenangan Turki Seljuk di Anatolia mengakibatkan Byzantium melakukan perjanjian damai dengan Turki Seljuk.
Baca juga: Tragedi Perang Salib dan Kolonialisme Eropa Menurut Montgomery Watt
Gagal mengalahkan Turki Seljuk, pasukan Salib di front timur berupaya ingin menguasai Mesir karena di Mesir terdapat banyak sekali pemeluk agama Kristen Koptik.
Rencana penyerangan ke Mesir tidak melibatkan Byzantium karena kepentingan Byzantium adalah untuk menguasai kembali Anatolia. Rencana untuk menaklukkan Mesir, selain karena demografi penduduk, adalah karena kondisi Kekhalifahan Fatimiyah yang terus terpuruk.
(mhy)
Lihat Juga :