Satukan Hati dan Pikiran Saat Bertaubat
Sabtu, 29 Agustus 2020 - 13:46 WIB
loading...
Dengan bertaubat dan terus berdoa kepada Allah Taala, niscaya Allah meminimalkan karakter buruk dari dalam diri manusia. Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Dalam Al-Qur'an, Allah mendeskripsikan dua kelemahan manusia, yaitu lemah secara fisik dan lemah (dalam melawan) hawa nafsu buruk. “Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah...” (QS. Ar-Rum: 54).
Betapa pun sulitnya menghindari tabiat yang sudah Allah lekatkan dalam diri manusia. Namun, dengan bertaubat dan terus berdoa kepada Allah Ta'ala, niscaya Allah meminimalkan karakter buruk tersebut dari dalam diri manusia.
Artinya, tiada manusia yang akan luput dari khilaf dan dosa . Karena memang Allah menciptakan manusia sebagai tempatnya itu semua. Allah Ta'ala menceritakan dalam surat Abasa bahwa Allah menegur langsung sang Rasul khotimul anbiya, Muhammad bin Abdullah karena khilafnya. Namun kita bukanlah Rasulullah yang selalu dibimbing oleh Allah, setiap perkataan dan tindakannya dituntun langsung oleh Rabb semesta alam . Kita hanyalah manusia biasa yang tidak mungkin terlepas dari ancaman dosa. (Baca juga : Bersyukur dengan Hati, Lisan dan Amal Perbuatan )
Juga riwayat tentang para sahabat seperti Abu Bakr Ash-Shiddiq, ‘Umar bin Khattab, maupun Khalid bin Walid, bahwa saat masa jahiliyah mereka bukanlah orang yang begitu lembut hati dan tutur perangainya. Mereka bukanlah orang yang beriman. Mereka tidak menyembah kepada Allah yang semestinya. Namun saat Islam merasuk dalam sanubari, merekalah sebaik-baik generasi Islam.
KH Abdullah Gymnastiar atau AA Gym mengatakan, sering kali manusia memohon ampun kepada Allah Subhanahu wa ta'ala setelah berbuat khilaf, namun tak lama kemudian kembali melakukan kemaksiatan . Hal ini dikarenakan hati dan pikiran seseorang belum benar-benar utuh dalam bertaubat. (Baca juga : Hilangkan Kesedihan Hati dengan Amalan-amalan Ini! )
Terdapat sebuah ayat didalam Al-Qur'an yang dapat dijadikan renungan :
كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al Muthoffifin: 14)
Makna ayat di atas diterangkan lagi dalam sebuah hadis :
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللَّهُ ( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ) »
Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
“Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam . Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.”
Namun, di sisi lain, Allah menegaskan bahwa manusia adalah sebaik-baik penciptaan.
Betapa pun sulitnya menghindari tabiat yang sudah Allah lekatkan dalam diri manusia. Namun, dengan bertaubat dan terus berdoa kepada Allah Ta'ala, niscaya Allah meminimalkan karakter buruk tersebut dari dalam diri manusia.
Artinya, tiada manusia yang akan luput dari khilaf dan dosa . Karena memang Allah menciptakan manusia sebagai tempatnya itu semua. Allah Ta'ala menceritakan dalam surat Abasa bahwa Allah menegur langsung sang Rasul khotimul anbiya, Muhammad bin Abdullah karena khilafnya. Namun kita bukanlah Rasulullah yang selalu dibimbing oleh Allah, setiap perkataan dan tindakannya dituntun langsung oleh Rabb semesta alam . Kita hanyalah manusia biasa yang tidak mungkin terlepas dari ancaman dosa. (Baca juga : Bersyukur dengan Hati, Lisan dan Amal Perbuatan )
Juga riwayat tentang para sahabat seperti Abu Bakr Ash-Shiddiq, ‘Umar bin Khattab, maupun Khalid bin Walid, bahwa saat masa jahiliyah mereka bukanlah orang yang begitu lembut hati dan tutur perangainya. Mereka bukanlah orang yang beriman. Mereka tidak menyembah kepada Allah yang semestinya. Namun saat Islam merasuk dalam sanubari, merekalah sebaik-baik generasi Islam.
KH Abdullah Gymnastiar atau AA Gym mengatakan, sering kali manusia memohon ampun kepada Allah Subhanahu wa ta'ala setelah berbuat khilaf, namun tak lama kemudian kembali melakukan kemaksiatan . Hal ini dikarenakan hati dan pikiran seseorang belum benar-benar utuh dalam bertaubat. (Baca juga : Hilangkan Kesedihan Hati dengan Amalan-amalan Ini! )
Terdapat sebuah ayat didalam Al-Qur'an yang dapat dijadikan renungan :
كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (QS. Al Muthoffifin: 14)
Makna ayat di atas diterangkan lagi dalam sebuah hadis :
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللَّهُ ( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ) »
Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
“Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam . Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.”
Namun, di sisi lain, Allah menegaskan bahwa manusia adalah sebaik-baik penciptaan.
Lihat Juga :