Karomah Hamzah Bin Abdul Muthalib, Singa Allah dan Pemimpin Para Syuhada

loading...
Karomah Hamzah Bin Abdul Muthalib, Singa Allah dan Pemimpin Para Syuhada
Sayyidina Hamzah bin Abdul Muttahlib radhiyallahuanhu dijuluki Asadullah (Singa Allah) dan Sayidus-Syuhada (pemimpin para syuhada). Foto ilustrasi/tangkapan layar film serial Umar
Karomah adalah satu keistimewaan dan kelebihan yang diberikan Allah Ta'ala kepada hamba saleh yang dikehendaki-Nya. Kali ini kita akan mengulas karomahSayyidina Hamzah bin Abul Mutthalib radhiyallahu'anhu, pemimpin para syuhada yang juga paman Rasulullah SAW. Beliau dijuluki "Asadullah" (Singa Allah) dan "Sayidus-Syuhada" (pemimpin para syuhada). Beliau memeluk Islam di penghujung tahun ke-6 kenabian, tepatnya bulan Dzulhijjah.

Dalam buku "Kisah Karomah Wali Allah" karangan Syeikh Yusuf bin Ismail an-Nabhani, Ibnu Abbas RA menceritakan bahwa Hamzah wafat dalam keadaan junub (belum suci dari hadas), lalu Rasulullah SAW berkata: "Malaikat telah memandikannya." (HR Al-Hakim). Hasan menceritakan bahwa ia mendengar Rasulullah SAW berkata: "Aku benar-benar melihat malaikat sedang memandikan Hamzah." (HR Ibnu Sa'ad). (Baca Juga: Kisah Keislaman Hamzah, Singa Allah yang Mengagumkan)

Fatimah al-Khaza'iyyah bercerita, "Aku menziarahi makam Hamzah, lalu aku mengucapkan 'Assalamu 'alaika, wahai paman Rasulullah.' Aku mendengar jawaban 'Wa 'alaikumussalam wa rahmatullah." (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari Al-Waqidi)

(Baca Juga: Bertambah 3.806 Kasus Baru, Total 214.746 Orang Positif Covid-19)



Syeikh Abdul Ghani al-Nablusi menceritakan dalam Syarhnya atas Kitab Shalat al-Ghauts al Jailani, bahwa ia pernah bertemu dengan Syeikh Mahmud al-Kurdi di Madinah pada tahun 1205 H. Ia mengundang Syeikh Mahmud ke rumah, menjamu, dan memuliakannya. Syeikh Mahmud menceritakan kepada Syeikh Abdul Ghani bahwa ia sering bertemu dengan Nabi SAW dalam keadaan terjaga dan Abdul Ghani mempercayainya setelah melihat tanda-tanda kejujurannya. Pembahasan tentang bertemu Nabi SAW dalam keadaan terjaga atau tidur sudah cukup saya (Yusuf bin Ismail An-Nabhani) kemukakan dalam Kitab Sa'adatal-Darain fs al- Shalah 'ala Sayyid al-Kaunaini.

Syeikh Ahmad bin Muhammad al-Dimyathi yang terkenal dengan sebutan Ibnu 'Abdul Ghani al-Bina, seorang ulama yang memadukan antara syariah dan tasawuf (wafat di Madinah pada bulan Muharram 116 M.), bercerita, "Aku menunaikan ibadah haji bersama ibuku pada masa paceklik. Kami menunggang dua ekor unta yang dibeli di Mesir. Sesudah menunaikan haji, kami pergi ke Madinah, dan kedua unta itu mati di sana, padahal kami sudah tidak punya uang untuk membeli atau menyewa unta dari orang lain. Hal itu membuatku risau, karena itu aku pergi menemui Syeikh Shafiyyuddin al-Qusyasyi. Aku menceritakan keadaanku dan berkata, Aku beriktikaf di Madinah, tetapi kemudian aku mengalami kesulitan untuk melanjutkan perjalanan, sampai Allah memberi kelapangan."

Syeikh Shafiyuddin diam sejenak, lalu berkata: "Pergilah sekarang juga ke makam Sayyidina Hamzah, paman Nabi Muhammad SAW. Bacalah ayat-ayat Al-Qur'an yang paling mudah dan ceritakan keadaanmu dari awal hingga akhir, seperti yang baru kau ceritakan kepadaku, lakukan itu sambil berdiri di sisi makamnya yang mulia."



Aku ikuti anjuran Syeikh Shafiyyuddin. Aku segera pergi pada waktu dhuha ke makam Sayyidina Hamzah. Aku membaca ayat-ayat Al-Qur'an, lalu menceritakan keadaanku seperti yang diperintahkan Syeikh Shafiyuddin. Aku segera kembali sebelum zuhur, lalu memasuki tempat suci Babu Rahmah. Aku berwudhu, lalu masuk ke dalam masjid. Tiba-tiba ibuku yang berada di dalam masjid berkata kepadaku, "Ada seorang laki-laki menanyakanmu, temuilah dia!" Aku bertanya, "Di mana dia?" Ibu menjawab: "Lihatlah di ujung masjid."
halaman ke-1 dari 3
cover top ayah
يٰۤـاَيُّهَا النَّاسُ اِنۡ كُنۡـتُمۡ فِىۡ رَيۡبٍ مِّنَ الۡبَـعۡثِ فَاِنَّـا خَلَقۡنٰكُمۡ مِّنۡ تُرَابٍ ثُمَّ مِنۡ نُّـطۡفَةٍ ثُمَّ مِنۡ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنۡ مُّضۡغَةٍ مُّخَلَّقَةٍ وَّغَيۡرِ مُخَلَّقَةٍ لِّـنُبَيِّنَ لَـكُمۡ‌ ؕ وَنُقِرُّ فِى الۡاَرۡحَامِ مَا نَشَآءُ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّى ثُمَّ نُخۡرِجُكُمۡ طِفۡلًا ثُمَّ لِتَبۡلُغُوۡۤا اَشُدَّكُمۡ ‌ۚ وَمِنۡكُمۡ مَّنۡ يُّتَوَفّٰى وَمِنۡكُمۡ مَّنۡ يُّرَدُّ اِلٰٓى اَرۡذَلِ الۡعُمُرِ لِكَيۡلَا يَعۡلَمَ مِنۡۢ بَعۡدِ عِلۡمٍ شَيۡــًٔـا‌ ؕ وَتَرَى الۡاَرۡضَ هَامِدَةً فَاِذَاۤ اَنۡزَلۡنَا عَلَيۡهَا الۡمَآءَ اهۡتَزَّتۡ وَرَبَتۡ وَاَنۡۢبَـتَتۡ مِنۡ كُلِّ زَوۡجٍۢ بَهِيۡجٍ
Wahai manusia! Jika kamu meragukan (hari) kebangkitan, maka sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu; dan Kami tetapkan dalam rahim menurut kehendak Kami sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampai kepada usia dewasa, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dikembalikan sampai usia sangat tua (pikun), sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air (hujan) di atasnya, hiduplah bumi itu dan menjadi subur dan menumbuhkan berbagai jenis pasangan tetumbuhan yang indah.

(QS. Al-Hajj:5)
cover bottom ayah
preload video