Mahkota Sufi Maulana Jalaluddin Rumi (9)

Makanan Khas Sufi Tidak Sama dengan Makanan Biasa

loading...
Makanan Khas Sufi Tidak Sama dengan Makanan Biasa
Ilustrasi/Ist
SUFISME tentu saja mempunyai terminologi teknis yang khas, dan puisi-puisi Maulana Jalaluddin Rumi kaya akan jenis-jenis umum dan khusus dari istilah-istilah dasar itu.

Sebagai contoh, ia menggambarkan dalam kitab ketiganya, Diwan asy-Syams at-Tabriz, beberapa konsep pikiran dan aktivitas yang diproyeksikan dalam suatu pertemuan rahasia para darwis. (Baca juga: Sufisme Bekerja dengan Bahan-Bahan yang Terlihat dan Tidak)

Diramu dengan puisi rapsodik (penuh semangat), ajaran-ajaran sufi "dalam pemikiran dan tindakan" disampaikan melalui metode yang secara khusus dirancang proyeksinya:

Baca juga: Jalaluddin Rumi: Jawaban untuk Seseorang yang Bodoh Adalah Diam

Bergabunglah dengan komunitas Sufi, jadilah seperti mereka, maka lihatlah kebahagiaan dari kehidupan sejati. Pergilah sepanjang jalan yang runtuh dan lihatlah orang-orangyang merana (para pemilik rumah yang runtuh). Minumlah anggur, agar engkau tidak mempunyai rasa malu. Tutuplah kedua mata lahirmu, sehingga engkau bisa melihat dengan mata batin. Bukalah kedua tanganmu, jika engkau mengharap pelukan. Hancurkan berhala bumi untuk melihat wajah banyak berhala. Mengapa seorang perempuan tua begitu senang menerima sebuah mahar -- dan karena tiga potong roti, mengapa engkau menerima kewajiban militer?

Baca juga: Rumi: Kitab Sang Sufi Bukanlah Huruf-Huruf yang Kelam



Sahabat kembali di malam hari; malam ini jangan minum -- tutuplah mulutmu dari makanan, hingga engkau memperoleh makanan mulut. Di Majelis sang Pembawa Cawan yang ramah, berputarlah -- masuklah ke dalam lingkaran. Berapa lama engkau mengitarinya? Inilah tawarannya -- tinggalkan satu kehidupan, raihlah keramahan Pengembala... Hentikan pikiran kecuali bagi pencipta pikiran -- berpikir tentang "kehidupan" lebih baik dibandingkan berpikir tentang roti. Di keluasan bumi Tuhan, mengapa engkau tertidur di sebuah penjara? Abaikan pemikiran-pemikiran rumit -- untuk melihat jawaban jawaban yang tersembunyi. Diamlah untuk meraih kalam abadi. Tinggalkan "kehidupan" dan "dunia" untuk menyaksikan "Kehidupan Dunia".

Baca juga:Rumi: Apa yang Tampak Sebuah Batu bagi Orang Biasa, Adalah Mutiara bagi Sang Alim

Idries Shah dalam The Sufis menjelaskan meskipun aktualitas sufi tidak bisa diuji kemurniannya oleh kriteria yang lebih terbatas dari pemikiran diskursif, puisi ini bisa dilihat sebagai suatu perakitan faktor-faktor utama dalam metode Rumi. (Baca juga: Rumi: Di Musim Dingin, Sebuah Pohon Tengah Mengumpulkan Makanan)

Ia mendeskripsikan arti penting komunitas yang dicurahkan untuk memahami realitas, di mana realitas hanyalah sebagai suatu pengganti. Pengetahuan ini hadir melalui hubungan dengan orang lain, dengan terlibat dalam kegiatan kelompok, begitu pula dalam pemikiran dan kegiatan personal. (Baca juga: Jalaluddin Rumi dan Asal-Usul Tarekat Darwis Berputar)

Suatu yang mendasar hanya hadir jika pola-pola pemikiran tertentu telah direduksi dengan perspektif yang tepat. Sang Salik harus "membuka tangannya" untuk menerima sebuah pelukan, bukan mengharap sebuah pemberian sementara ia berdiri pasif menunggunya.



"Perempuan tua yang lemah" adalah semua bentuk pengalaman duniawi sebagai pantulan dari suatu realitas terakhir yang hampir tidak mungkin dibandingkan dengan apa yang tampak sebagai kebenaran. Untuk "tiga potong roti" dalam kehidupan biasa, orang rela menjual potensialitasnya.
halaman ke-1 dari 2
cover top ayah
اِنَّا خَلَقۡنَا الۡاِنۡسَانَ مِنۡ نُّطۡفَةٍ اَمۡشَاجٍۖ نَّبۡتَلِيۡهِ فَجَعَلۡنٰهُ سَمِيۡعًۢا بَصِيۡرًا
Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.

(QS. Al-Insan:2)
cover bottom ayah
preload video