Lembah Keheranan dan Kebingungan: Sang Putri yang Mencintai Hambanya
Rabu, 23 September 2020 - 06:57 WIB
loading...
A
A
A
"Tetapi," katanya, "bila kukatakan padanya tentang cintaku, tak sangsi lagi dia akan melakukan sesuatu yang kurang pikir. Jika diketahui orang bahwa aku telah bermesraan dengan seorang hamba, maka dia maupun aku tentu akan menderita. Sebaliknya, bila ia tak memiliki aku, aku akan mati merana di balik tirai sanastri. Aku telah membaca seratus buku tentang kesabaran, namun aku tetap tak memiliki kesabaran itu. Apa dayaku! Aku harus mendapatkan jalan untuk menikmati cinta dari pohon saru yang lampai ini, sehingga gairah jasmaniku akan sejalan dengan kerinduan jiwaku - dan ini harus dilakukan tanpa setahu dia." (Baca juga: Sepercik Kisah Nabi Yusuf dan Zulaikha, Serta Permadani Nabi )
Kemudian dayang-dayang yang bersuara merdu itu berkata, "Janganlah Tuanku Puteri bersedih. Malam nanti kami akan membawa dia ke mari tanpa setahu siapa pun, bahkan dia sendiri tak akan tahu sedikit pun tentang itu."
Segera salah seorang gadis remaja itu pergi dengan diam-diam mendapatkan hamba itu, dan seperti bermain-main, dimintanya hamba itu membawa dua piala anggur. Ke dalam salah satu piala itu dimasukkannya obat, sambil dicari-carinya akal agar hamba itu mau meminumnya. Segera hamba itu pun tertidur, sehingga si dayang dapat melaksanakan rencananya, dan orang muda yang berdada perak itu tetap tak kabarkan dirinya.(Baca juga: Doa Rabiah, Kisah Sultan Mahmud Sampai Sabda Tuhan kepada Nabi Daud )
Ketika malam tiba, dayang-dayang kehormatan itu datang mengendap-endap ke tempat si hamba terbaring, lalu menaruh orang itu di atas tandu dan membawanya ke tempat tuan puteri. Kemudian mereka dudukkan hamba itu di atas singgasana kencana dan mereka kenakan rangkaian mutiara di kepalanya.
Pada tengah malam, masih sedikit terbius oleh obat itu, si hamba membuka mata dan melihat istana seindah surga, sedang di sekelilingnya tempat-tempat duduk dari kencana. Tempat itu diterangi dengan sepuluh lilin besar yang diberi wangian damar-harum, sedang kayu cendana yang semerbak terbakar dalam bejana-bejana. (Baca juga: Kisah Syaikh Abubakar, Jangggut Panjang, dan Nasihat Iblis kepada Nabi Musa )
Dara-dara itu mulai menyanyi dengan lagu-lagu yang demikian merdu sehingga pikiran seakan mengucapkan selamat tinggal pada jiwa, dan jiwa pada raga. Kemudian matahari anggur pun berputar-putar sekeliling nyala lilin-lilin itu.
Bingung karena kegembiraan di seputarnya dan silau karena kecantikan puteri raja, orang muda itu kehilangan kesadarannya. Ia benar-benar tidak lagi ada di atas dunia ini dan tidak pula di dunia lain.
Dengan hati penuh cinta, dan raga dikuasai gairah damba, di tengah segala keriangan ini ia pun tenggelam dalam haru-gembira. Matanya terpancang pada kecantikan puteri raja itu dan telinganya pada bunyi seruling-seruling bambu. (Baca juga: Bila Kau Mencintai Tuhan, Berusahalah Pula untuk Dicintai-Nya )
Lubang hidungnya menghirup wangian damar harum, dan anggur di mulutnya menjadi serupa api cair. Puteri raja itu menciumnya, dan si hamba mengucurkan air mata kegirangan, sementara sang puteri menyatukan airmatanya dengan air mata hamba itu.
Kadang sang puteri menekankan ciuman manis di mulut si hamba, kadang ciuman itu dibumbui rasa garam; kadang sang puteri mengusutmasaikan rambut si hamba yang panjang itu, kadang kehilangan dirinya sendiri di mata si hamba. (Baca juga: Sepercik Kisah Imam Hambal, Raja India, Perang Salib, dan Nabi Yusuf )
Hamba itu memiliki sang puteri; dan demikianlah mereka lewatkan waktu itu hingga fajar terbit di Timur. Ketika sepoi pagi berembus, hamba muda itu merasa sedih, tetapi mereka buat lagi dia tidur lalu mereka bawa kembali ke tempat kawan-kawannya.
Ketika dia yang berdada perak itu sadar, tanpa tahu kenapa, dia pun menangis. Orang boleh mengatakan bahwa peristiwa itu sudah selesai, maka apa gunanya diratapi. Hamba itu merobek-robek pakaiannya, menarik-narik rambutnya dan mengotori kepalanya dengan tanah.
Kemudian dayang-dayang yang bersuara merdu itu berkata, "Janganlah Tuanku Puteri bersedih. Malam nanti kami akan membawa dia ke mari tanpa setahu siapa pun, bahkan dia sendiri tak akan tahu sedikit pun tentang itu."
Segera salah seorang gadis remaja itu pergi dengan diam-diam mendapatkan hamba itu, dan seperti bermain-main, dimintanya hamba itu membawa dua piala anggur. Ke dalam salah satu piala itu dimasukkannya obat, sambil dicari-carinya akal agar hamba itu mau meminumnya. Segera hamba itu pun tertidur, sehingga si dayang dapat melaksanakan rencananya, dan orang muda yang berdada perak itu tetap tak kabarkan dirinya.(Baca juga: Doa Rabiah, Kisah Sultan Mahmud Sampai Sabda Tuhan kepada Nabi Daud )
Ketika malam tiba, dayang-dayang kehormatan itu datang mengendap-endap ke tempat si hamba terbaring, lalu menaruh orang itu di atas tandu dan membawanya ke tempat tuan puteri. Kemudian mereka dudukkan hamba itu di atas singgasana kencana dan mereka kenakan rangkaian mutiara di kepalanya.
Pada tengah malam, masih sedikit terbius oleh obat itu, si hamba membuka mata dan melihat istana seindah surga, sedang di sekelilingnya tempat-tempat duduk dari kencana. Tempat itu diterangi dengan sepuluh lilin besar yang diberi wangian damar-harum, sedang kayu cendana yang semerbak terbakar dalam bejana-bejana. (Baca juga: Kisah Syaikh Abubakar, Jangggut Panjang, dan Nasihat Iblis kepada Nabi Musa )
Dara-dara itu mulai menyanyi dengan lagu-lagu yang demikian merdu sehingga pikiran seakan mengucapkan selamat tinggal pada jiwa, dan jiwa pada raga. Kemudian matahari anggur pun berputar-putar sekeliling nyala lilin-lilin itu.
Bingung karena kegembiraan di seputarnya dan silau karena kecantikan puteri raja, orang muda itu kehilangan kesadarannya. Ia benar-benar tidak lagi ada di atas dunia ini dan tidak pula di dunia lain.
Dengan hati penuh cinta, dan raga dikuasai gairah damba, di tengah segala keriangan ini ia pun tenggelam dalam haru-gembira. Matanya terpancang pada kecantikan puteri raja itu dan telinganya pada bunyi seruling-seruling bambu. (Baca juga: Bila Kau Mencintai Tuhan, Berusahalah Pula untuk Dicintai-Nya )
Lubang hidungnya menghirup wangian damar harum, dan anggur di mulutnya menjadi serupa api cair. Puteri raja itu menciumnya, dan si hamba mengucurkan air mata kegirangan, sementara sang puteri menyatukan airmatanya dengan air mata hamba itu.
Kadang sang puteri menekankan ciuman manis di mulut si hamba, kadang ciuman itu dibumbui rasa garam; kadang sang puteri mengusutmasaikan rambut si hamba yang panjang itu, kadang kehilangan dirinya sendiri di mata si hamba. (Baca juga: Sepercik Kisah Imam Hambal, Raja India, Perang Salib, dan Nabi Yusuf )
Hamba itu memiliki sang puteri; dan demikianlah mereka lewatkan waktu itu hingga fajar terbit di Timur. Ketika sepoi pagi berembus, hamba muda itu merasa sedih, tetapi mereka buat lagi dia tidur lalu mereka bawa kembali ke tempat kawan-kawannya.
Ketika dia yang berdada perak itu sadar, tanpa tahu kenapa, dia pun menangis. Orang boleh mengatakan bahwa peristiwa itu sudah selesai, maka apa gunanya diratapi. Hamba itu merobek-robek pakaiannya, menarik-narik rambutnya dan mengotori kepalanya dengan tanah.
Lihat Juga :