Mewujudkan Negeri Baldatun Thoyyibah
Kamis, 17 Desember 2020 - 14:02 WIB
loading...
A
A
A
Pembangunan itu harusnya berlandaskan kepada "kesadaran sosial" yang tinggi. Yaitu adanya rasa tanggung jawab untuk bersama-sama merawat kebaikan dan kesalehan (Al-Ma'ruf) dan melawan kebatilan dan penyelewengan (Al-Mungkar). Kesadaran Amar Ma'ruf dan Nahi Mungkar menjadi tuntutan mendasar dalam kehidupan publik. Dan karenanya pembangunan tidak boleh mengesampingkan kesadaran tersebut. Satu di antara bentuk kesadaran sosial itu adalah semangat masyarakat untuk meluruskan yang salah dari pemerintahnya. Jika tidak maka pemerintah dapat melakukan kesemenaan yang akan merugikan warganya.
Pembangunan dalam Islam itu memiliki orientasi ukhrawi (akhirah oriented development). Pandangan ini sekaligus merupakan antithesis dari konsep pembangunan yang sekedar berorientasi material. Islam memandang bahwa pembangunan yang bertujuan ukhrawi akan memperkokoh semangat dan tanggung jawab membangun dunia. Dengan wawasan akhirat dunia dengan sendirinya akan mengikut. Tapi memburu dunia justeru rentang menelantarkan akhirat. Karenanya akhirat harus menjadi tujuan mendasar dari pembangunan.
Pembangunan dalam Islam itu terbangun di atas asas kebenaran dengan kesadaran tanggung jawab. Kebenaran dan tanggung jawab itulah yang terangkum dalam terminologi publik yang dikenal dengan integritas. Karenanya pembangunan dalam Islam harus memiliki karakter integritas. Integritas inilah yang dikenal dalam agama dengan "moral ground" (landasan moral) atau akhlak mulia.
Pembangunan dalam Islam harus berorientasi "the excellence" (terbaik atau the best). Dalam istilah Al-Qur'an membangun masyarakat itu berwawasan "Khaer Ummah". Inilah yang kemudian harus diterjemahkan Ke dalam pembangunan yang bercirikan "the excellence" itu.
Untuk mewujudkan pembangunan yang berorientasi "Khaer" atau "excellence" itu perlu dibangun wawasan global yang menjadi karakter dasar dunia kita saat ini. Wawasan global ini minimal diterjemahkan dalam bentuk kesadaran akan dunia yang "interconnnected" (saling tergantung) dan kompetitif (persaingan ketat).
Di dunia yang saling bergantung itu semua harus menyadari bahwa untuk survive (mampu bertahan) diperlukan komitmen untuk membangun kerjasama dengan siapa saja. Dalam dunia global manusia hidup dalam satu rumah, di bawah atap yang sama. Jalan satu-satunya untuk menjaga kenyamanan dan kedamaian hidup adalah dengan kerjasama (partnership).
Selain itu untuk mampu bertahan (survive) dalam dunia global saat ini kita dipaksa untuk masuk dalam arena kompetisi yang dahsyat. Itulah satu-satunya pilihan. Siap dan mengambil bagian dalam kompetisi dunia dan menang. Atau menjadi penonton yang pada akhirnya akan tergilas dan menjadi korban kompetisi yang ganas dan kerap kali kejam itu. Semoga Allah menguatkan dan menjaga!
(Baca Juga: Cara Rasulullah Memimpin Pemerintahan Kedepankan Tawazun)
Bandara Macazzart, 17 Desember 2020
*Ringkasan presentasi pada acara refleksi akhir tahun Gubernur Sulsel, Selasa 15 Desember 2020 lalu.
Pembangunan dalam Islam itu memiliki orientasi ukhrawi (akhirah oriented development). Pandangan ini sekaligus merupakan antithesis dari konsep pembangunan yang sekedar berorientasi material. Islam memandang bahwa pembangunan yang bertujuan ukhrawi akan memperkokoh semangat dan tanggung jawab membangun dunia. Dengan wawasan akhirat dunia dengan sendirinya akan mengikut. Tapi memburu dunia justeru rentang menelantarkan akhirat. Karenanya akhirat harus menjadi tujuan mendasar dari pembangunan.
Pembangunan dalam Islam itu terbangun di atas asas kebenaran dengan kesadaran tanggung jawab. Kebenaran dan tanggung jawab itulah yang terangkum dalam terminologi publik yang dikenal dengan integritas. Karenanya pembangunan dalam Islam harus memiliki karakter integritas. Integritas inilah yang dikenal dalam agama dengan "moral ground" (landasan moral) atau akhlak mulia.
Pembangunan dalam Islam harus berorientasi "the excellence" (terbaik atau the best). Dalam istilah Al-Qur'an membangun masyarakat itu berwawasan "Khaer Ummah". Inilah yang kemudian harus diterjemahkan Ke dalam pembangunan yang bercirikan "the excellence" itu.
Untuk mewujudkan pembangunan yang berorientasi "Khaer" atau "excellence" itu perlu dibangun wawasan global yang menjadi karakter dasar dunia kita saat ini. Wawasan global ini minimal diterjemahkan dalam bentuk kesadaran akan dunia yang "interconnnected" (saling tergantung) dan kompetitif (persaingan ketat).
Di dunia yang saling bergantung itu semua harus menyadari bahwa untuk survive (mampu bertahan) diperlukan komitmen untuk membangun kerjasama dengan siapa saja. Dalam dunia global manusia hidup dalam satu rumah, di bawah atap yang sama. Jalan satu-satunya untuk menjaga kenyamanan dan kedamaian hidup adalah dengan kerjasama (partnership).
Selain itu untuk mampu bertahan (survive) dalam dunia global saat ini kita dipaksa untuk masuk dalam arena kompetisi yang dahsyat. Itulah satu-satunya pilihan. Siap dan mengambil bagian dalam kompetisi dunia dan menang. Atau menjadi penonton yang pada akhirnya akan tergilas dan menjadi korban kompetisi yang ganas dan kerap kali kejam itu. Semoga Allah menguatkan dan menjaga!
(Baca Juga: Cara Rasulullah Memimpin Pemerintahan Kedepankan Tawazun)
Bandara Macazzart, 17 Desember 2020
*Ringkasan presentasi pada acara refleksi akhir tahun Gubernur Sulsel, Selasa 15 Desember 2020 lalu.
(rhs)
Lihat Juga :