Canda Ala Sufi: Bulan Lama, Sapi dan Kotoran Anjing
Sabtu, 19 Desember 2020 - 13:22 WIB
loading...
Nashruddin Hoja. Foto/Ilustrasi/Ist
A
A
A
Beriku ceria kocak ala sufi yang dinukil dari karya Nashruddin dengan judul asli Nawadhir Juha al-Kubra dan diterjemahkan oleh Muhdor Assegaf dengan judul " Canda Ala Sufi Nashruddin "
Baca juga: Anak Masjid, Air yang Sombong, dan Peti Jenazah
Bulan yang Lama
Suatu hari, Nashruddin berjalan menuju sebuah lembah. Dia lalu dihadang oleh seorang penggembala yang berkata padanya, "Wahai tuan, apakah Anda orang yang pandai?"
Nashruddin menjawab, "Ya."
Baca juga: Ingat Almarhumah Ibumu dan Karena Rindu, Lupa Pakaianku
Penggembala itu berkata, "Lihatlah ke lembah itu, orang-orang bergelimpangan di sana. Akulah yang membunuh mereka itu, karena mereka tidak dapat menjawab sebuah pertanyaanku ini."
Nashruddin lalu bertanya padanya, "Apa pertanyanmu itu."
Penggembala itu berkata, "Bulan, ketika berupa sabit, kita melihatnya kecil. Kemudian, dia menjadi besar seperti roda. Lalu, dia berubah menjadi kecil lagi dan kemudian menghilang serta yang tampak adalah lainnya. Lantas, apa yang mereka perbuat dengan bulan yang lama?"
Nashruddin menundukkan kepalanya dan berkata, "Kasihan mereka orang-orang bodoh itu... Bulan yang lama itu bersembunyi karena musim hujan dan dia sedang membuat kilat."
Baca juga: Canda Ala Sufi: Menjatuhkan Hukuman dengan Pengalaman
Penggembala itu lalu memeluk Nashruddin dan mencium tangannya. Dan dia berkata kepada Nashruddin, "Demi Allah, inilah jawaban yang terlintas dalam benakku."
Sapi yang Bersalah
Suatu saat, seekor anak sapi mengambil rumput milik Nashruddin, lalu dia lari dan membawanya pergi. Melihat kejadian itu, Nashruddin marah dan segera menemui induk anak sapi itu. Lalu Nashruddin memukulinya dengan tongkatnya.
Melihat perbuatan Nashruddin itu, tetangganya bertanya, "Mengapa engkau memukulinya? Apakah dia telah bersalah?"
Nashruddin menjawab, "Ya, dia bersalah, bukan anaknya. Karena dialah yang mendidik dan mengajari anaknya."
Baca juga: Isyarat Mati dari Keledai: Andai Aku Hidup ...
Di Hadapan Hakim
Suatu hari, seekor anjing membuang cotoran di jalan, di antara dua rumah. Kedua pemilik rumah itu berselisih, siapa orang yang harus membersihkan kotoran itu? Kedua orang itu pun pergi ke hakim untuk menyelesaikan permasalahan mereka itu. Kebetulan, Nashruddin berada di rumah hakim itu.
Setelah keduanya menceritakan masalahnya, hakim itu bertanya kepada Nashruddin sembari bergurau, "Apakah kamu dapat menyelesaikan masalah ini?" Maka dengan tegas Nashruddin menjawab, "Karena kotoran itu jatuh di jalan umum, tidak ada yang berkewajiban membersihkan kotoran itu. Menurutku, yang wajib membersihkannya adalah hakim ini." (Baca juga: Canda Ala Sufi: Minta Ongkos untuk Sepuluh Hari )
Baca juga: Anak Masjid, Air yang Sombong, dan Peti Jenazah
Bulan yang Lama
Suatu hari, Nashruddin berjalan menuju sebuah lembah. Dia lalu dihadang oleh seorang penggembala yang berkata padanya, "Wahai tuan, apakah Anda orang yang pandai?"
Nashruddin menjawab, "Ya."
Baca juga: Ingat Almarhumah Ibumu dan Karena Rindu, Lupa Pakaianku
Penggembala itu berkata, "Lihatlah ke lembah itu, orang-orang bergelimpangan di sana. Akulah yang membunuh mereka itu, karena mereka tidak dapat menjawab sebuah pertanyaanku ini."
Nashruddin lalu bertanya padanya, "Apa pertanyanmu itu."
Penggembala itu berkata, "Bulan, ketika berupa sabit, kita melihatnya kecil. Kemudian, dia menjadi besar seperti roda. Lalu, dia berubah menjadi kecil lagi dan kemudian menghilang serta yang tampak adalah lainnya. Lantas, apa yang mereka perbuat dengan bulan yang lama?"
Nashruddin menundukkan kepalanya dan berkata, "Kasihan mereka orang-orang bodoh itu... Bulan yang lama itu bersembunyi karena musim hujan dan dia sedang membuat kilat."
Baca juga: Canda Ala Sufi: Menjatuhkan Hukuman dengan Pengalaman
Penggembala itu lalu memeluk Nashruddin dan mencium tangannya. Dan dia berkata kepada Nashruddin, "Demi Allah, inilah jawaban yang terlintas dalam benakku."
Sapi yang Bersalah
Suatu saat, seekor anak sapi mengambil rumput milik Nashruddin, lalu dia lari dan membawanya pergi. Melihat kejadian itu, Nashruddin marah dan segera menemui induk anak sapi itu. Lalu Nashruddin memukulinya dengan tongkatnya.
Melihat perbuatan Nashruddin itu, tetangganya bertanya, "Mengapa engkau memukulinya? Apakah dia telah bersalah?"
Nashruddin menjawab, "Ya, dia bersalah, bukan anaknya. Karena dialah yang mendidik dan mengajari anaknya."
Baca juga: Isyarat Mati dari Keledai: Andai Aku Hidup ...
Di Hadapan Hakim
Suatu hari, seekor anjing membuang cotoran di jalan, di antara dua rumah. Kedua pemilik rumah itu berselisih, siapa orang yang harus membersihkan kotoran itu? Kedua orang itu pun pergi ke hakim untuk menyelesaikan permasalahan mereka itu. Kebetulan, Nashruddin berada di rumah hakim itu.
Setelah keduanya menceritakan masalahnya, hakim itu bertanya kepada Nashruddin sembari bergurau, "Apakah kamu dapat menyelesaikan masalah ini?" Maka dengan tegas Nashruddin menjawab, "Karena kotoran itu jatuh di jalan umum, tidak ada yang berkewajiban membersihkan kotoran itu. Menurutku, yang wajib membersihkannya adalah hakim ini." (Baca juga: Canda Ala Sufi: Minta Ongkos untuk Sepuluh Hari )
(mhy)
Lihat Juga :