Sholat Jum’at Online Saat Darurat, Begini Pendapat Muhammadiyah

Kamis, 04 Maret 2021 - 15:42 WIB
loading...
A A A
Selain itu Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam mempertegas wajibnya shalat Jum‘at dalam sebuah hadis,

عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِي جَمَاعَةٍ إِلَّا أَرْبَعَةً عَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَوِ امْرَأَةٌ أَوْ صَبِيٌّ أَوْ مَرِيضٌ ]رواه أبو داود[.

Artinya: “Dari Thāriq bin Syihāb (diriwayatkan) dari Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam beliau bersabda: Shalat Jum‘at itu wajib bagi setiap Muslim dengan berjamaah, kecuali empat golongan, yaitu; hamba sahaya, wanita, anak-anak dan orang yang sakit” [H.R. Abū Dāwūd].

Wajibnya melaksanakan shalat Jum‘at ini juga disertai dengan beberapa ancaman Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam bagi orang yang meninggalkannya, sebagaimana dijelaskan dalam hadis,

عَنْ عَبْدِ اللهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِقَوْمٍ يَتَخَلَّفُونَ عَنِ الْجُمُعَةِ: لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ رَجُلًا يُصَلِّي بِالنَّاسِ، ثُمَّ أُحَرِّقَ عَلَى رِجَالٍ يَتَخَلَّفُونَ عَنِ الْجُمُعَةِ بُيُوتَهُمْ [رواه أحمد].

Artinya: “Dari ‘Abdullāh (diriwayatkan) bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda kepada kaum yang meninggalkan shalat Jum‘at: Sungguh aku berkeingian untuk memerintahkan kepada salah seorang shalat bersama orang-orang, kemudian aku bakar rumah-rumah dari orang-orang yang meninggalkan (shalat) Jum‘at” [H.R. Aḥmad].

حَدَّثَنِي الْحَكَمُ بْنُ مِينَاءَ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ وَأَبَا هُرَيْرَةَ حَدَّثَاهُ أَنَّهُمَا سَمِعَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ عَلَى أَعْوَادِ مِنْبَرِهِ لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمْ الْجُمُعَاتِ أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ ثُمَّ لَيَكُونُنَّ مِنْ الْغَافِلِينَ [رواه مسلم].

Artinya: “Telah menceritakan kepadaku al-Ḥakam bin Minā’ bahwa ‘Abdullāh bin ‘Umar dan Abū Hurairah keduanya telah menceritakan kepadanya (diriwayatkan), bahwa keduanya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda di atas mimbarnya: Hendaklah orang yang suka meninggalkan shalat Jum‘at menghentikan perbuatannya, ataukah mereka ingin Allah membutakan hati mereka, dan sesudah itu mereka benar-benar menjadi orang yang lalai” [H.R. Muslim].

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَرَكَ الْجُمُعَةَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ [رواه أبو داود والترمذي].

Artinya: “Dari Muḥammad bin ‘Amr (diriwayatkan) ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda: Barangsiapa yang meninggalkan shalat Jum‘at sebanyak tiga kali karena meremehkannya, maka Allah akan menutup hatinya” [H.R. Abū Dāwūd dan at-Tirmidzī].

Dari hadis-hadis di atas dapat dipahami bahwa shalat Jum‘at termasuk perkara penting yang diungkapkan dalam bentuk perintah maupun ancaman.

Di antara ancaman tersebut adalah akan ditutup hati orang yang meninggalkan sholat Jum‘at dengan sengaja dan meremehkannya. Imam Malik mengatakan bahwa yang dimaksud meninggalkan Jum‘at dengan sengaja adalah meninggalkan karena malas atau tidak ada uzur yang dibenarkan oleh syariat.

مَنْ تَرَكَ الْجُمُعَةَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ وَلَا عِلَّةٍ طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ.

Artinya: “Barangsiapa meninggalkan Jum‘at tiga kali tanpa ada uzur atau sebab (yang dibenarkan), maka Allah mengunci hatinya” [al-Muntaqā Syarḥu al-Muwaṭṭa’, 1/204].

Ancaman meninggalkan sholat Jum‘at ini tentunya tidak berlaku bagi mereka yang tidak termasuk golongan yang wajib melaksanakan sholat Jum‘at, seperti hamba sahaya, anak kecil, wanita dan orang sakit.

Ancaman ini juga tidak berlaku bagi orang yang meninggalkan Jum‘at karena sebab yang dibenarkan syariat seperti adanya bencana atau kondisi lainnya yang dapat membahayakan keselamatan jiwa. Dikaitkan dengan kondisi yang melanda dunia termasuk umat Islam sekarang, yakni pandemi Covid-19 yang dapat membahayakan keselamatan jiwa, maka orang yang meninggalkan sholat Jum‘at tidak termasuk kategori dalam ancaman hadis ini.

Bagi orang yang tidak dapat melaksanakan sholat Jum‘at karena sebab tersebut, diperbolehkan tidak melaksanakan sholat Jum‘at, tetapi diwajibkan untuk melaksanakan sholat Zuhur sebagai pengganti sholat Jum‘at sebagai hukum asal (‘azīmah) bagi orang yang tidak melaksanakan sholat Jum‘at (lihat TJA Jilid 4 halaman 123), dan baginya tetap mendapatkan pahala Jum‘at.

عن أَبى بُرْدَةَ سَمِعْتُ أَبَا مُوسَى مِرَارًا يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا [رواه البخاري].

Artinya: “Dari Abū Burdah (diriwayatkan), aku mendengar Abū Mūsā beberapa kali berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda: Apabila seorang hamba sakit atau melakukan perjalanan maka dicatat (pahala) baginya seperti apa yang dilakukan orang yang mukim dan sehat” [H.R. al-Bukhārī].

Selain itu sholat Jum‘at memiliki beberapa keutamaan khusus yang tidak ada pada sholat fardu lainnya, seperti keutamaan mandi janabah menjelang sholat Jum‘at, hadir lebih awal pada sholat Jum‘at, terdapat kafarat dosa antara Jum‘at satu dengan Jum‘at lainnya. Salah satu hadis yang menyebut keutamaan sholat Jum‘at tersebut adalah,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ، ثُمَّ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْأُولَى، فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً، فَإِذَا خَرَجَ الْإِمَامُ حَضَرَتِ الْمَلَائِكَةُ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ [رواه مالك].

Artinya: “Dari Abū Hurairah (diriwayatkan), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda: Barangsiapa mandi janabah pada hari Jum‘at lalu pergi untuk melaksanakan Jum‘at pada waktu pertama seolah-olah ia berkurban unta, barangsiapa datang pada waktu kedua seperti berkurban sapi, barangsiapa datang pada waktu ketiga seperti kurban seekor kibas yang bertanduk, barangsiapa datang pada waktu keempat seperti berkurban ayam dan barangsiapa datang pada waktu kelima seperti berkurban sebutir telur. Apabila imam sudah datang maka para malaikat hadir ikut mendengarkan khutbah” [H.R. Mālik].

Baca juga: Tak Sekadar Gerakan Sholat, Sujud Bermanfaat Bagi Kesehatan

Tata Cara Shalat Jum‘at
Sholat Jum‘at ini merupakan ibadah maḥḍah, sedangkan prinsip ibadah maḥḍah adalah terlarang kecuali ada perintah. Oleh karenanya tata cara sholat Jum‘at harus mengikuti petunjuk dan sesuai dengan tuntunan berdasarkan al-Qur’an dan hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam. Hal ini didasarkan kepada firman Allah swt,

… وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ.

Artinya: “… Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah, dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah sangat keras siksa-Nya” [Q.S. al-Ḥasyr: 7].

Prinsip umum tata cara sholat Jum‘at sama dengan sholat fardu lainnya, yakni dilakukan secara berjamaah, menghadap kiblat, pengaturan shaf dan aturan lainnya dalam ketentuan sholat berjamaah. Semua ketentuan sholat berjamaah pada shalat lima waktu berlaku pula pada aturan sholat Jum‘at. Ada beberapa hal penting berkaitan dengan tata cara sholat Jum‘at yang perlu dijelaskan, di antaranya adalah,

Shalat Jum‘at Dilaksanakan di Masjid

Para ulama banyak merumuskan tentang syarat sahnya shalat Jum‘at, Wahbah az-Zuhailī merumuskan ada sebelas syarat sahnya Jum‘at di antaranya shalat Jum‘at dilaksanakan di masjid dengan berjamaah (lihat al-Fiqh al-Islāmī wa Adillatuh II/1291, bāb Syurūṭ ṣiḥḥah al-Jumu‘ah: Iḥdā ‘Asyrata).

Dalam kondisi tertentu dibenarkan pelaksanaan shalat Jum‘at tidak di masjid, yakni dapat dilaksanakan di tempat selain masjid. Kebolehan ini bisa disebabkan karena tidak ada masjid yang dapat dipergunakan shalat Jum‘at seperti di ruang sekolah, kantor atau ruang publik lainnya. Sebab lain dibolehkan shalat Jum‘at di luar masjid karena kapasitas masjid tidak dapat menampung banyak jamaah sehingga harus melebar ke ruangan lain di luar masjid (lihat Tanya Jawab Agama jilid II/92 dan III/92).

Sebagai contoh shalat Jum‘at yang dilaksanakan di Masjidil Haram pada musim haji, hampir selalu meluber sampai ke luar masjid seperti halaman masjid, di hotel-hotel sekitarnya hingga ke jalan-jalan. Dalam keadaan ini, shalat Jum’at tetap sah karena masih adanya ketersambungan antara jamaah yang di luar masjid dengan jamaah yang di dalam masjid dan kesatuan tempat antara imam dengan makmum meski terhalang dinding atau yang lain.

Peristiwa seperti ini pernah terjadi pada masa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wassallam, beliau menjadi imam shalat di balik tabir sedangkan makmum terpisah dengan tabir dan makmum mengikuti imam dari suara Nabi shallallahu ‘alaihi wassallam, sebagaimana diterangkan dalam hadis berikut.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانَتْ لَنَا حَصِيرَةٌ نَبْسُطُهَا بِالنَّهَارِ، وَنَحْتَجِرُهَا بِاللَّيْلِ، فَصَلَّى فِيهَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَسَمِعَ الْمُسْلِمُونَ قِرَاءَتَهُ، فَصَلَّوْا بِصَلَاتِهِ … [رواه أحمد].

Artinya: “Dari ‘Āisyah (diriwayatkan) ia berkata: Kami mempunyai sehelai tikar yang kami bentangkan di siang hari dan kami jadikan dinding di malamnya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam shalat pada suatu malam di tempat yang didindingi tikar itu, seketika kaum muslimin mendengar bacaannya dan mereka pun shalat dengan mengikuti shalatnya Nabi (dari balik tabir) …” [H.R. Aḥmad].

Hal ini juga terjadi pada masa sahabat yang dilakukan oleh Anas bin Malik, peristiwa ini digambarkan dalam riwayat berikut,

عَنْ صَالِحِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ قَالَ: رَأَيْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ صَلَّى الْجُمُعَةَ فِي بُيُوتِ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفِ، فَصَلَّى بِهِمْ بِصَلَاةِ الْإِمَامِ فِي الْمَسْجِدِ، وَبَيْنَ بُيُوتِ حُمَيْدٍ وَالْمَسْجِدِ الطَّرِيقُ [رواه الشافعي].

Artinya: “Dari Shālih bin Ibrāhīm (diriwayatkan) ia berkata: Aku melihat Anas bin Mālik shalat Jum‘at di rumah Humaid bin ‘Abdurraḥmān bin ‘Auf, maka ia shalat bersama mereka mengikuti shalat imam yang berada di masjid, sedangkan di antara rumah-rumah Humaid dan masjid adalah jalan” [H.R. asy-Syāfi‘ī].

Dari kedua riwayat tersebut dapat dipahami bahwa shalat Jum‘at dapat dilakukan di luar masjid dengan tetap mengikuti induk shalat dan pada kesatuan tempat. Oleh karena itu shalat Jum‘at yang dilaksanakan mengikuti induk jamaah, meskipun terhalang dinding, ruang, jalan atau sungai, selama masih terkoneksi atau terhubung dengan jamaah induknya, maka shalat Jum‘atnya tetap sah. Dalam kondisi tertentu untuk membantu ketertiban shalat Jum‘at berjamaah dapat pula digunakan alat penghubung antara imam dan makmum berupa media layar yang menampilkan gambar seperti LCD/LED dan media lain dalam bentuk suara seperti loud speaker atau lainnya.

Baca juga: Benarkah Waktu Terbaik Mengerjakan Sholat Isya di Akhir Malam?

Kesatuan tempat antara imam shalat Jum‘at beserta makmumnya merupakan bagian dari syarat sah shalat Jum‘at. Hal ini dilakukan secara hakiki (nyata), bukan dalam bentuk lainnya, yakni seorang imam shalat di bagian depan dan makmum shalat di sudut lainnya di dalam masjid atau seorang shalat di luar masjid dengan tetap mengikuti imam di dalam masjid, maka sah shalat Jum‘atnya. (lihat al-Hāwī al-Kabīr II/343, al-Fiqh al-Islamī wa Adillatuh II/1299).
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Tak Disangka! 2 Salat...
Tak Disangka! 2 Salat Ini Pahalanya Seperti Ibadah Haji
Gelar Salat Idulfitri...
Gelar Salat Idulfitri 1447 H, Gedung PP Muhammadiyah Menteng Dipadati Jemaah
Dukung Pendidikan Diri...
Dukung Pendidikan Diri di Bulan Ramadan, Sinar Mas Wakafkan 1.000 Mushaf Al-Qur'an
Kapan Puasa Ramadan...
Kapan Puasa Ramadan 2026 Dimulai? Ini Jadwal Sidang Isbat Kemenag dan Versi Muhammadiyah
Jarang Diketahui, Jual...
Jarang Diketahui, Jual Beli Setelah Salat Jumat Banyak Keutamaannya!
Amalan Sunnah: Doa dan...
Amalan Sunnah: Doa dan Zikir Setelah Salat Jumat Disertai Bahasa Arab dan Artinya
Rekomendasi
Penemuan Mengejutkan...
Penemuan Mengejutkan Menunjukan Adanya Lautan Tersembunyi di Tata Surya
Lukisan Rembrandt yang...
Lukisan Rembrandt yang Hilang Selama 65 Tahun Tiba-tiba Muncul Kembali
Berbentuk Aneh, Fosil...
Berbentuk Aneh, Fosil Pohon Seuss Berusia 350 Juta Tahun Ditemukan
Artikel Terkini
Surat Al Ankabut Ayat...
Surat Al Ankabut Ayat 2-3, Mengingatkan Bahayanya Fitnah Akhir Zaman
Perilaku Manusia Modern...
Perilaku Manusia Modern dan Tanda Dekatnya Fitnah Dajjal
Jemaah Gelombang Kedua...
Jemaah Gelombang Kedua Tiba di Madinah, Wamenhaj Dahnil Minta KKHI Siaga Penuh
29.344 Jemaah Haji Indonesia...
29.344 Jemaah Haji Indonesia dari 75 Kloter Telah Kembali ke Tanah Air
Kemenhaj Ingatkan Jemaah...
Kemenhaj Ingatkan Jemaah Haji Tak Bawa Air Zamzam dalam Koper
21.948 Jemaah Haji Reguler...
21.948 Jemaah Haji Reguler dan 7.702 Haji Khusus Sudah Tiba di Indonesia
Infografis
Tri Mumpuni, Ilmuwan...
Tri Mumpuni, Ilmuwan Muslim Indonesia Paling Berpengaruh di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved