Mempertahankan Ketaatan Setelah Ramadhan

Rabu, 12 Mei 2021 - 10:00 WIB
loading...
Mempertahankan Ketaatan Setelah Ramadhan
Agar tetap istiqamah dalam ketaatan, Kita dekatkan lagi hubungan dengan Allah melalui untaian doa-doa yang kita langitkan di waktu dan tempat terbaik dan mustajab untuk berdoa. Foto ilustrasi/ist
A A A
Ramadhan akan segera berlalu, dan merupakan karunia besar bagi hamba-hamba yang beriman adalah bisa bertemu dengan Ramadhan serta dapat menyempurnakan ibadah di dalamnya hingga akhir bulan Ramadhan. Namun, yang menjadi pertanyaan, apakah kualitas ketaatan kita selama Ramadhan itu bisa istiqamah? Apakah pengaruh kebaikan pada diri masih akan terlihat ataukah sudah memudar setelah Ramadhan berakhir?

Baca juga: Hati-hati, 2 Perkara Ini Bisa Menghancurkan Amal

Imam Bisyr bin Al-Harits Al-Hafi pernah ditanya tentang orang-orang yang sungguh-sungguh dan rajin ibadah hanya di bulan Ramadhan, maka beliau menjawab,

بِئْسَ الْقَوْمُ لاَ يَعْرِفُوْنَ للهَ حَقاًّ إِلاَّ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ إِنَّ الصَّالِحَ الَّذِي يَتَعَبَّدُ وَيَجْتَهِدُ السَّنَةَ كُلَّهَا

“Mereka adalah seburuk-buruk kaum, karena tidak mengenal Allah kecuali hanya di bulan Ramadhan. Sesungguhnya hamba yang saleh adalah yang rajin dan sungguh-sungguh dalam ibadah dalam setahun penuh.” (Lathaiful Ma’arif, Ibnu Rajab al-Hambali, 313)

Ustadz Abdul Halim Tri Hantoro, S.Pd.I, aktivis dakwah ini menjelaskan, semestinya kualitas taat yang sempat kita tingkatkan selama bulan Ramadhan kemarin tetap kita lanjutkan di bulan-bulan berikutnya meskipun Ramadhan telah berlalu.

Bukankah kita membutuhkan rahmat Allah baik di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan? Bukankah kita membutuhkan pertolongan Allah baik di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan? Dan bukankah kita membutuhkan rezeki Allah di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan?

Baca juga: Hindari Kesalahan Ini Saat Merayakan Idul Fitri

Menurutnya, ada dua aspek istiqamah dalam ketaatan yang perlu dipertahankan setelah Ramadhan, yakni:

1. Istiqamah lisan

Pertanda keistiqamahan seseorang yang paling tampak dan paling kentara adalah istiqamahnya lisan. Karena dengan lurusnya lisan maka akan ikut luruslah amalan anggota badannya.

Disebutkan dalam sebuah hadis dari Abu Sa’id Al’Khudri radhiyallahu ‘anhu yang dinilai hasan oleh Syaikh Al-Albani, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانَ فَتَقُولُ اتَّقِ اللَّهَ فِينَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ فَإِنِ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنِ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا

“Jika waktu pagi tiba seluruh anggota badan menyatakan ketundukannya terhadap lisan dengan mengatakan, ‘Bertakwalah kepada Allah terkait dengan kami karena kami hanyalah mengikutimu. Jika engkau baik maka kami akan baik. Sebaliknya jika kamu melenceng maka kami pun akan ikut melenceng.” (HR. At-Tirmidzi)

Baca juga: Membayar Zakat Fitrah Secara Online, Sahkah?

Jika di bulan Ramadhan kita mampu menahan lisan untuk berkata kotor, keji apalagi berdusta atau memfitnah orang lain, maka setelah ini kita juga harus mampu menjaganya. Sehingga dengan selamatnya lisan kita dari kemaksiatan, akan membawa keselamatan anggota badan dari kemaksiatan.

2. Istiqamah Jawarih (Anggota Badan)

Jika hati telah tetap dalam keistiqamahan maka anggota badan lain akan mengikutinya. Anggota badan kita hendaknya dijauhkan dari segala macam kemaksiatan. Sebagaimana di bulan Ramadhan kita mampu menahan lapar padahal makanan dan minuman itu halal, maka untuk meninggalkan yang haram di luar bulan Ramadhan hendaknya kita mampu.

Istiqamah dalam Ketaatan Setelah Ramadhan

Bertahan untuk istiqamah dalam ketaatan setelah Ramadhan itu memang berat. Bagaimana tidak, bulan-bulan setelah Ramadhan tidak memiliki jaminan dibelenggunya setan sebagaimana ketika bulan Ramadhan. Selain itu tidak ada jaminan juga pintu Jannah dibuka selebar-lebarnya dan pintu Neraka ditutup serapat-rapatnya sebagaimana ketika bulan Ramadhan.

Baca juga: 121.026 Narapidana Terima Remisi Khusus Lebaran, 550 Orang Langsung Bebas

"Namun, jika kita renungi pelan-pelan, kita akan menemukan bahwa justru di situlah letak hikmah yang sangat luar biasa. Melalui bulan Ramadhan dengan segala kemudahan ketaatan di dalamnya, Allah subhanahu wata’ala memberi kesempatan kepada hamba-Nya untuk mendongkrak kembali kualitas ketaatan dan ketakwaannya setelah sekian bulan tertatih-tatih mengupayakannya dengan kondisi yang serba berat,"ungkap Ustadz Abdul Halim.

Lalu kemudian Allah subhanahu wata’ala menguji kembali kualitas taat dan takwa itu di hari-hari setelah Ramadhan. Perbuatan baik dan berbagai ketaatan yang terus berlanjut itulah yang tampak sebagai indikator istiqamah dalam ketaatan setelah Ramadhan.

Seorang salaf berkata,

“Sesungguhnya ganjaran perbuatan baik adalah (mendapat taufiq Allah) melakukan kebaikan lagi setelahnya. Maka barang siapa yang mengerjakan amal kebaikan, lalu dia mengerjakan amal kebaikan lagi setelahnya, maka itu merupakan tanda diterimanya amal kebaikan yang pertama.” (Lathaiful Ma’arif, Ibnu Rajab al-Hambali, 311)

Baca juga: Kerepotan Dihujani Roket Gaza, Kota di Israel Malah Perang Saudara

Istiqamah dalam ketaatan ini juga merupakan tanda kejujuran iman seseorang kepada Allah subhanahu wata’ala. Sama saja apakah amalan itu hukumnya wajib ataupun sunnah.

Contoh terbaik tentang istiqamah dalam ketaatan ini ada pada Nabi kita, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah suri teladan kita Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana diterangkan oleh ibunda Aisyah radhiyallahu ‘anha.

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا عَمِلَ عَمَلًا أَثْبَتَهُ – يَعْنِي: جَعَلَهُ ثَابِتًا غَيْرَ مَتْرُوكٍ -، وَكَانَ إِذَا نَامَ مِنَ اللَّيْلِ، أَوْ مَرِضَ، صَلَّى مِنَ النَّهَارِ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً.

“Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila beliau melakukan suatu amalan maka beliau berusaha untuk meneguhkannya (tidak meninggalkannya). Apabila beliau tertidur dari shalat malam atau karena sakit, maka beliau menunaikannya di siang hari sebanyak dua belas rakaat.” (HR. Muslim)

Baca juga: Maknyus! Ikan Kembung Indonesia Diekspor ke Thailand

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya oleh salah seorang sahabat dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim,

يَا رَسُول الله، قُلْ لي في الإسْلامِ قَولًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا غَيْرَكَ.

“Wahai Rasulullah, katakan kepadaku satu perkataan dalam Islam yang tidak adakn saya tanyakan kepada selain engkau.”

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

‌قُلْ: ‌آمَنْتُ ‌بِاللهِ، ‌ثُمَّ ‌اسْتَقِمْ

“Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah.”

Lebih dari itu, orang yang mantap sepenuh hati mengikrarkan diri untuk komitmen istiqamah dalam ketaatan setelah Ramadhan atau secara umum, Allah subhanahu wata’ala akan beri jaminan yang tidak tanggung-tanggung.

Baca juga: Yuk, Pelajari dan Pahami Pengertian Hilal dalam Ilmu Sains

Allah subhanahu wata’ala berfirman,

اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Rabb kami adalah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.” (QS. Fushshilat: 30)

Oleh sebab itu, beratnya perjuangan untuk tetap istiqamah dalam ketaatan setelah Ramadhan ini perli kita dorong dengan kekuatan ruh. Kita dekatkan lagi hubungan kita dengan Allah subhanahu wata’ala melalui untaian doa-doa yang kita langitkan di waktu dan tempat terbaik dan mustajab untuk berdoa.

Baca juga: 3 Artis Ini Rayakan Lebaran Perdana Setelah Mualaf

Salah satu doa memohon istiqamah dalam ketaatan setelah Ramadhan yang dapat kita panjatkan sebagaimana berikut ini:

اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ القُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى دِيْنِكَ، وَيَا مُصَرِّفَ القُلُوْبِ صَرِّفْ قُلُوْبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

“Ya Allah Dzat Yang Maha Membolakbalikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu. Ya Allah Dzat Yang Maha Mengarahkan hati, arahkanlah hati kami untuk selalu taat kepada-Mu.”

Wallahu A'lam
(wid)
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.3590 seconds (11.252#12.26)