Kisah Umar Bin Khattab

Pengakuan Umar Bin Khattab Tentang Kisah Dirinya Masuk Islam

loading...
Pengakuan Umar Bin Khattab Tentang Kisah Dirinya Masuk Islam
Umar masuk Islam karena doa Nabi. Foto/ilustrasi/Ist
Muhammad Husain Haekal dalam buku “Umar bin Khattab” menyajikan kisah masuknya Islam Umar bin Khattab sebagaimana dituturkan Umar sendiri yang ternyata berbeda sama sekali dengan versi yang selama ini ditulis banyak sejarawan.

Para sejarawan sepakat bahwa mulanya, Umar bin Khattab adalah laki-laki Makkah yang paling keras menentang dan memerangi Islam . Ibn Hisyam menuturkan bahwa suatu hari Abu Bakar melihat Umar sedang menghajar seorang budak perempuan supaya meninggalkan Islam. Demikian rupa ia menghajar, karena sudah terlalu banyak ia memukul, hingga ia merasa bosan sendiri.

“Aku memaafkan kau! Kutinggalkan kau hanya karena sudah bosan,” ujar Umar meninggalkan budak itu.

“Itulah yang dilakukan Allah kepadamu,” jawab hamba sahaya itu. Kemudian hamba sahaya itu dibeli oleh Abu Bakar lalu dibebaskan.

Baca juga: Ibadah Haji 2020 Dibatalkan, Pemerintah Harus Serius Pikirkan Nasib Jamaah

Perlawanan Umar terhadap Nabi Muhammad dan dakwah nya bukan karena fanatik atau karena tidak mengerti. “Kita sudah tahu dia termasuk penduduk Makkah yang paling mantap dan paling banyak pengetahuannya,” tulis Haekal.



Umar bin Khattab masuk Islam menurut berita yang sudah umum diketahui, sesudah ada empat puluh lima orang laki-laki dan dua puluh perempuan. Beberapa sumber menyebutkan bahwa jumlahnya lebih dari itu, ada pula yang mengatakan kurang. Menurut peninjauan Ibn Kasir dalam al-Bidayah wan-Nihayah Umar masuk Islam sesudah Muslimin hijrah ke Abisinia, dan jumlah orang yang hijrah itu hampir mencapai sembilan puluh orang laki-laki dan perempuan.

Baca juga: Kisah Leluhur Rasulullah dan Jabatan Pemegang Kunci Ka'bah

Sesudah mereka hijrah Umar bermaksud akan mendatangi Nabi Muhammad dan sahabat-sahabatnya serta Muslimin yang lain di Darul Arqam di Safa, dan jumlah mereka laki-laki dan perempuan empat puluh orang. Dengan demikian kita bebas menyebutkan bahwa mereka yang sudah mendahului Umar masuk Islam sekitar seratus tiga puluh orang, walaupun kita tak dapat menyebutkan jumlah yang pasti melebihi perkiraan yang berlawanan dengan pendapat yang sudah umum itu.

Mengenai sebabnya ia masuk Islam beberapa sumber masih saling berbeda. Berita yang paling terkenal menyebutkan bahwa Umar - sudah tidak tahan lagi melihat seruan Rasululullah itu ternyata telah memecah belah keutuhan Quraisy, dan mendorong orang semacam dia sampai menyiksa orang-orang yang masuk Islam agar keluar meninggalkan agama itu dan memaksa kembali kepada agama masyarakat mereka.

Sesudah Rasulullah memberi isyarat kepada sahabat-sahabatnya supaya terpencar ke beberapa tempat dan berlindung kepada Allah dengan agama yang mereka yakini, dan menasihati mereka agar pergi ke Abisinia, dan setelah Umar melihat mereka sudah pergi, ia merasa sangat terharu dan merasa kesepian berpisah dengan mereka.

Baca juga: Ka'bah: Kisah Nazar Abdul Muthalib Menyembelih Anaknya

Sumber yang mengenai Umm Abdullah binti Abi Hismah menyebutkan bahwa ia berkata: "Kami sudah akan berangkat tatkala Umar bin Khattab datang dan berhenti di depan kami, yang ketika itu ia masih dalam syirik. Kami menghadapi berbagai macam gangguan dan siksaan dari dia. Ia berhenti dan berkata kepada kami: 'Jadi juga berangkat, Umm Abdullah?'

Baca juga: Respon Para Raja Terhadap Ajakan Rasulullah Memeluk Islam

Saya jawab: 'Ya! Kami akan keluar dari bumi Allah ini. Kalian mengganggu kami dan memaksa kami dengan kekerasan. Semoga Allah memberi jalan keluar kepada kami.'
Dia berkata lagi: 'Allah akan menyertai kalian.'

Saya lihat dia begitu terharu, yang memang belum pernah saya lihat. Kemudian dia pergi, dan saya lihat dia sangat sedih karena kepergian kami ini."

Setelah itu suaminya datang. Diceritakannya percakapannya dengan Umar itu dan dia sangat mengharapkan Umar akan masuk Islam. Tetapi jawab suaminya: "Orang ini tidak akan masuk Islam sebelum keledai Khattab lebih dulu masuk Islam."

Baca juga
: Ka'bah: Kisah Paganisme Pasca-Nabi Ismail dan Pra-Islam

Sumber-sumber selanjutnya menyebutkan bahwa Umar memang sangat sedih karena sesama anggota masyarakatnya telah pergi meninggalkan tanah air, sesudah mereka disiksa dan dianiaya. Selalu ia memikirkan hendak mencari jalan untuk menyelamatkan mereka dari keadaan demikian.

Ia berpendapat keadaan ini baru akan dapat diatasi apabila ia segera mengambil tindakan tegas. Ketika itulah ia mengambil keputusan akan membunuh Rasulullah. Selama ia masih ada, Quraisy tak akan bersatu. Suatu pagi ia pergi dengan pedang terhunus di tangan hendak membunuh Rasulullah dan beberapa orang sahabatnya yang sudah diketahuinya mereka sedang berkumpul di Darul Arqam di Safa. Jumlah mereka hampir empat puluh orang laki-laki dan perempuan.

Sementara dalam perjalanan itu ia bertemu dengan Nu'aim bin Abdullah yang lalu menanyakan: "Mau ke mana?" dan dijawab oleh Umar: "Saya sedang mencari Muhammad, itu orang yang sudah meninggalkan kepercayaan leluhur dan memecah belah Quraisy, menistakan lembaga hidup kita, menghina agama dan sembahan kita. Akan saya bunuh dia!"

"Kamu menipu diri sendiri, Umar. Kamu kira Abdu-Manaf akan membiarkan kamu bebas berjalan di bumi ini jika sudah membunuh Muhammad? Tidakkah lebih baik kamu pulang dulu menemui keluargamu dan luruskan mereka!"

"Keluarga saya yang mana?" tanya Umar.

Baca juga: Ketakutan Dengan Pasukan Muslim, Pihak Romawi Menarik Diri

"Ipar dan sepupumu Sa'id bin Zaid bin Amr, dan adikmu Fatimah binti Khattab. Kedua mereka sudah masuk Islam dan menjadi pengikut Muhammad. Mereka itulah yang harus kamu hadapi," jawab kawannya itu.

Umar kembali pulang hendak menemui adik perempuannya dan iparnya. Ketika itu di sana Khabbab bin al-Arat yang sedang memegang lembaran-lembaran Qur'an membacakan kepada mereka Surah Ta-Ha. Begitu mereka merasa ada Umar datang, Khabbab bersembunyi di kamar mereka dan Fatimah menyembunyikan kitab itu. Setelah berada dekat dari rumah itu ia masih mendengar bacaan Khabbab tadi, dan sesudah masuk langsung ia menanyakan: "Saya mendengar suara bisik-bisik apa itu?"

"Saya tidak mendengar apa-apa," Fatimah menjawab.

"Tidak!" kata Umar lagi, "Saya sudah mendengar bahwa kamu berdua sudah menjadi pengikut Muhammad dan agamanya!" Ia berkata begitu sambil menghantam Sa'id bin Zaid keras-keras. Fatimah, yang berusaha hendak melindungi suaminya, juga mendapat pukulan keras.

Baca Juga: Perang Khaibar (1): Upaya Menaklukkan Kaum Yahudi di Jazirah Arab

Melihat tindakan Umar yang demikian, mereka berkata: "Ya, kami sudah masuk Islam, dan kami beriman kepada Allah dan kepada Rasul-Nya. Sekarang lakukan apa saja sekehendak Anda!"

Melihat darah di wajah adiknya itu Umar merasa menyesal, dan menyadari apa yang telah diperbuatnya. "Kemarikan kitab yang saya dengar kalian baca tadi," katanya. "Akan saya lihat apa yang diajarkan Muhammad!"

Fatimah berkata: "Kami khawatir akan Anda sia-siakan."

"Jangan takut," kata Umar melemah. Lalu ia bersumpah demi dewa-dewanya bahwa ia akan mengembalikannya bilamana sudah selesai membacanya. Kitab itu diberikan oleh Fatimah.

Sesudah sebagian dibacanya, ia berkata: "Sungguh indah dan mulia sekali kata-kata ini!"

Mendengar kata-kata itu Khabbab yang sejak tadi bersembunyi keluar dan katanya kepada Umar: "Umar, demi Allah saya sangat mengharapkan Allah akan memberi kehormatan kepada Anda dengan ajaran Rasul-Nya ini. Kemarin saya mendengar ia berkata: 'Allahumma ya Allah, perkuatlah Islam dengan Abul-Hakam bin Hisyam' atau dengan Umar bin Khattab.' Berhati-hatilah, Umar!'"

Baca juga: Perang Khaibar (2): Abu Bakar dan Umar Gagal, Ali Menembus Benteng

Ketika itu Umar berkata: "Khabbab, antarkan saya kepada Muhammad. Saya akan menemuinya dan akan masuk Islam," dijawab oleh Khabbab dengan mengatakan: "Dia dengan beberapa orang sahabatnya di sebuah rumah di Safa."

Umar mengambil pedangnya dan pergi langsung mengetuk pintu di tempat Rasulullah dan sahabat-sahabatnya berada.

Mendengar suaranya, salah seorang di antara mereka mengintip dari celah pintu. Dilihatnya Umar yang sedang menyandang pedang. "Rasulullah, Umar bin Khattab datang membawa pedang,” ujarnya.

Baca juga: Menangis dan Tertawa Sendiri, Khalifah Umar Sempat Dianggap Gila

Hamzah bin Abdul-Muttalib menyela: "Izinkan dia masuk. Kalau kedatangannya dengan tujuan yang baik, kita sambut dengan baik; kalau bertujuan jahat, kita bunuh dia dengan pedangnya sendiri”.

"Izinkan dia masuk," ujar Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam pula.

Sesudah diberi izin, Rasulullah berdiri menemuinya di sebuah ruangan. Digenggamnya baju Umar kemudian ditariknya kuat-kuat seraya katanya: "Ibn Khattab, apa maksud kedatanganmu? Rupanya Anda tidak akan berhenti sebelum Allah mendatangkan bencana kepada Anda!"

"Rasulullah," kata Umar, "saya datang untuk menyatakan keimanan kepada Allah dan kepada Rasul-Nya serta segala yang datang dari Allah."

Ketika itu juga Rasulullah bertakbir, yang oleh sahabat-sahabatnya sudah dipahami bahwa Umar masuk Islam.

Pengakuan Umar
Demikian sumber-sumber yang lebih terkenal mengenai keislaman Umar. Di samping itu ada beberapa sumber lain, yang menurut Haekal, paling terkenal yang didasarkan kepada Umar sendiri tatkala ia berkata: "Saya memang jauh dari Islam. Saya pecandu minuman keras di zaman jahiliah, saya sangat menyukainya dan saya menjadi peminum. Kami mempunyai tempat sendiri, tempat kami berkumpul dengan pemuka-pemuka Quraisy. Suatu malam saya keluar akan menemui teman-teman duduk itu. Tetapi tak seorang pun yang ada di tempat itu.

Baca juga: Demi Allah, Lihatlah Tetangga, Jangan-jangan Dia Masak Batu

Dalam hati saya berkata: Sebaiknya saya mendatangi si polan, pedagang khamar itu. Dia di Makkah berdagang khamar; kalau-kalau di tempat itu ada khamar, saya ingin minum. Saya pun pergi ke sana. Tetapi tak ada orang. Dalam hati saya berkata lagi: Sebaiknya saya ke Ka'bah, berkeliling tujuh kali atau tujuh puluh kali. Maka saya pergi ke Masjid akan bertawaf di Ka'bah.

Tetapi ternyata di sana ada Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam sedang salat. Ketika itu jika ia salat menghadap ke Syam, dan Ka'bah berada di antara dia dengan Syam, tempat salatnya di antara dua sudut hajar aswad dengan sudut Yamani. Ketika kulihat kataku: Sungguh, saya sangat mengharap malam ini dapat menguping Muhammad sampai saya dapat mendengar apa yang dikatakannya.

Saya khawatir dia akan terkejut kalau saya dekati. Maka saya datang dari arah Hijr. Saya masuk ke balik kain Ka'bah; saya berjalan perlahan hingga saya berdiri di depannya berhadap-hadapan; antara saya dengan dia hanya dibatasi kain Ka'bah. Sementara Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam sedang salat dengan membaca Qur'an. Setelah saya dengar Qur'an itu dibacanya, hati saya rasa tersentuh. Saya menangis; Islam sudah masuk ke dalam hati saya. Sementara saya masih tegak berdiri menunggu sampai Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam selesai salat.

Baca juga
: Umar bin Khattab: Si Kidal Penggembala Unta dengan Ayah yang Pemarah

Kemudian ia pergi pulang menuju rumahnya. Saya ikuti dia, hingga sudah dekat ke rumahnya saya dapat menyusulnya. Mendengar suara gerak-gerik saya ia sudah mengenal saya dan dikiranya saya menyusul hendak menyakitinya. Ia menghardikku seraya katanya: Ibn Khattab, apa maksud kedatangan Anda?!

Saya menjawab: Kedatangan saya hendak beriman kepada Allah dan kepada Rasul-Nya serta kepada segala yang datang dari Allah.

Setelah menyatakan alhamdulillah beliau berkata: Umar, Allah telah memberi petunjuk kepada Anda. Kemudian ia mengusap dada saya dan mendoakan saya agar tetap tabah. Setelah itu saya pun pergi meninggalkan Rasulullah sebagai orang yang sudah beriman kepada agamanya."

Menurut Haekal, sumber yang dihubungkan kepada Umar ini merupakan sebuah gambaran yang terdapat dalam Musnad Imam Ahmad bin Hanbal yang menyebutkan bahwa Umar berkata: “Saya pergi hendak menghadang Rasulullah Sallallahu 'alaihi wa sallam sebelum saya masuk Islam. Saya lihat dia sudah mendahului saya ke masjid. Saya berdiri di belakangnya. Ia memulai bacaannya dengan surah al-Haqqah.”

Baca juga: Anggap Galak dan Pelit, Dua Perempuan Ini Tolak Lamaran Umar bin Khattab

Saya sungguh kagum dengan susunan Qur'an itu. Dalam hati saya berkata: Sungguh dia memang seorang penyair seperti dikatakan Quraisy. Kemudian dibacanya:

"Bahwa ini sungguh perkataan Rasul yang mulia. Itu bukanlah perkataan seorang penyair; sedikit sekali kamu percaya!" (Qur'an, 69:40-41). Kata saya, dia seorang dukun. Kemudian dibacanya:

"Juga bukan perkataan seorang peramal; sedikit sekali kamu mau menerima peringatan. (Ini adalah wahyu) yang diturunkan dari Tuhan semesta alam. Dan kalau dia mengada-adakan perkataan atas nama Kami, pasti Kami tangkap dia dengan tangan kanan, kemudian pasti Kami potong pembuluh jantungnya. Maka tak seorang pun dari kamu dapat mempertahankannya." (Qur'an, 69:42-47) sampai akhir surah. Maka Islam sungguh menyentuh hati saya begitu dalam.

Inilah sumber yang juga terkenal sesudah yang pertama tadi. Ibn Ishaq memperkuat kedua sumber itu dan menempatkannya berurutan demikian dengan mengatakan: "Yang mana pun hanya Allah Yang Mahatahu."

Tak Masuk Akal
Kedua sumber itu dan yang semacamnya yang biasanya dikutip oleh kitab-kitab sekitar Islamnya Umar, menurut Haekal, melukiskan saat Umar meninggalkan agama nenek moyangnya. Rasulullah telah menyaksikan keimanannya kepada Allah, kepada Rasul-Nya dan kepada segala yang datang dari Allah. Tetapi semua itu tak ada yang melukiskan suatu gambaran dari segi psikologi, apa yang menyebabkan sampai ia memeluk Islam.

Baca juga: Preman Pasar Ukaz yang Jago Gulat dan Pacuan Kuda Itu Bernama Umar

Adakah kejadian itu tiba-tiba begitu saja? Sudah begitu jauhkah Umar menjauhi dan memusuhi Islam sampai dia tidak mau lagi memikirkan dan merenungkannya, kemudian Allah menanamkan iman ke dalam hatinya melalui kitab yang dibacakan Khabbab kepada adiknya atau Qur'an yang dibaca Rasulullah dalam salatnya, oleh Yang Mahakuasa dijadikan jalan untuk memberi petunjuk kepada orang yang paling keras memusuhi agama-Nya itu?

Ataukah tidak demikian adanya, Umar sudah pernah mendengar pembacaan Qur'an sebelum yang dibacakan dalam kitab Khabbab, dan sebelum bersembunyi di balik kain Ka'bah lalu mendengarkannya dari Rasulullah, dan bahwa dia mengkaji kembali antara dirinya dengan Rasulullah, kemudian ia berbalik pikir tentang diri lalu merenungkan keadaan dirinya dengan Nabi Muhammad dan pengikut-pengikutnya, lalu dengan lama merenungkan itu lelah mengantarkannya kepada Islam, dengan izin Allah?

Yang biasanya diceritakan menurut sumber yang masyhur, bahwa Umar keluar hendak membunuh Nabi Muhammad saat ia dan sahabat- sahabatnya sedang berada di Safa kalau tidak karena Allah telah memberi petunjuk kepadanya waktu ia membaca kitab yang dibacakan Khabbab kepada ipar dan adiknya.

Baca juga: Sebelum Kenabian, Sepupu Umar bin Khattab Sudah Berakidah Tauhid

Menurut Haekal tak masuk akal bahwa dengan pedangnya Umar bermaksud membunuh Nabi Muhammad yang sedang di tengah-tengah empat puluh orang sahabatnya, di antaranya ada Hamzah bin Abdul-Muttalib dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah serta pahlawan-pahlawan Makkah lainnya, apalagi mau beranggapan bahwa ia mampu melaksanakan maksudnya itu.

Dapat saja ia memutuskan ingin bebas dari Rasulullah dengan jalan membunuhnya, dan sedang memikirkan cara-cara pelaksanaannya, tetapi sementara ia membaca Qur'an itu dan melihat isinya yang begitu indah ia surut dari niatnya dan kemudian masuk Islam.

“Tetapi bahwa dia akan membunuhnya dengan cara seperti yang dilukiskan oleh cerita yang sudah terkenal tentang Islamnya Umar itu, adalah hal yang tak masuk akal, dan saya cenderung demikian. Yang lebih dapat diterima, ialah sumber kedua dari penuturan Umar sendiri dan yang diperkuat oleh Ibn Hanbal dalam Musnad-nya,” tulis Haekal.

Baca Juga: Biografi Umar Bin Khattab, Khalifah Kedua yang Menaklukkan Romawi dan Persia

Hal ini dapat diterima karena lebih sesuai dengan apa yang sudah umum diketahui tentang pribadi dan psikologi Umar. Dia asli dari masyarakatnya sendiri, sangat fanatik terhadap mereka, ingin sekali melihat ketertiban dan kedudukan kota mereka yang kuat. Di samping itu ia laki-laki yang praktis, suka bekerja.

Nilai pikiran baginya ialah dampaknya yang nyata dalam kehidupan. Tetapi merenung hanya untuk merenung, berpikir semata-mata hanya untuk berpikir dan berlama-lama menimang-nimang untuk mencari kebenaran di balik itu, kendati untuk kebenaran dan pemikiran itu tak memberi kesan yang berpengaruh dalam kehidupan mereka, maka tidaklah dia sendiri akan tertarik atau akan dapat melepaskan diri dari kebiasaan masyarakatnya.

Itulah pandangannya sekitar masalah-masalah duniawi secara keseluruhan, bahkan yang berhubungan dengan masalah-masalah rasa simpati itu sendiri. Ia tidak senang melihat pemuda yang menghabiskan waktunya hanya untuk bercumbu dengan perempuan atau mendendangkan kecantikannya, dengan maksud hendak menggodanya. Baginya, yang demikian hanya memperlihatkan kelemahan, yang tak patut bagi seorang laki-laki yang sudah cukup dewasa. Karenanya, ia tak pernah bersimpati kepada orang-orang yang bercinta-cinta dengan jalan menyanyi-nyanyikan nyanyian rindu asmara sebagai profesinya.

Baca juga: Pesan Nabi, Teladanilah Dua Orang Ini Sepeninggalku

Mengenai pandangannya tentang keyakinannya itu, terlihat dari keberangannya yang luar biasa terhadap saudara sepupunya, Zaid bin Amr, sebab dia meninggalkan agama masyarakatnya, dan pergi mencari agama benar itu dari yang lain.

Buat Umar semua itu khayal belaka yang tak ada artinya dalam hidup, dan tidak sesuai dengan wataknya yang ingin melihat ketertiban umum serta kedudukan Makkah yang kuat di mata semua orang Arab.

Kecenderungan berpikir demikian memang sejalan dengan sosok Umar — bertubuh kuat dan kekar. Oleh karena itu ia percaya kepada kekuatan dalam segala sikapnya. Kepercayaannya kepada kekuatan yang paling menonjol tampak pada permulaan kerasulan Nabi, saat ia sedang berada di puncak keperkasaannya dengan segala kekerasan watak dan semangatnya sebagai pemuda yang belum merasakan asam garamnya kehidupan.

Baca juga: Sebelum Dipancung, Dua Anak Muda Lukai Tubuh Abu Jahal

Itu pula sebabnya ia menyiksa siapa saja pengikut Nabi yang dapat disiksanya, supaya keluar dari agamanya. Kalau ia mampu memerangi mereka semua, niscaya akan diperanginya. Tetapi dia tahu bahwa kabilah-kabilah Quraisy melarang yang demikian, dan kabilahnya sendiri — Banu Adi — tidak sependapat dengan dia.

Itu sebabnya, seperti yang dilakukan oleh orang-orang Quraisy lainnya, kemampuannya terbatas hanya sampai pada penyiksaan kaum dhuafa atau orang-orang yang lemah, tanpa dapat melakukan kekerasan terhadap Abu Bakar, Usman bin Affan, Abu Ubaidah bin al-Jarrah dan yang lain, yang akan dilindungi oleh kabilah-kabilah mereka. Tetapi yang masih dapat dilakukannya, mengadakan pemboikotan dan menyakiti siapa saja yang dapat dijangkaunya.

Sungguhpun begitu, di samping semua itu sebenarnya Umar orang yang berhati lembut, berperasaan halus dalam arti keadilan.

Salah satu bukti kelembutan hatinya tatkala adiknya hendak melindungi suaminya dipukulnya sekeras-kerasnya. Setelah dilihatnya adiknya sampai berdarah, ia menyesal dan menyadari kesalahannya sendiri.

Baca juga
: Kisah Syahidnya Umar bin Khattab dan Kenaikan Pajak

Kelembutan demikian sering kita jumpai pada orang-orang yang kuat dan bertangan besi tatkala mereka sudah melampaui batas dalam berpegang pada kekuatan.

Percakapannya dengan Umm Abdullah binti Abi Hismah ketika siap akan berangkat hijrah ke Abisinia, memperlihatkan sikap yang sangat lemah lembut kepadanya. Umm Abdullah pun begitu terharu melihat sikapnya yang demikian sehingga ia berkata kepada suaminya yang ketika itu baru datang: "Kalau saja tadi Anda melihat Umar dan sikapnya yang begitu lemah lembut serta kesedihannya melihat kami, sampai-sampai saya mengharapkan ia masuk Islam."

Sifat-sifat demikian ini dapat menerjemahkan kepada kita mengapa Umar bin Khattab kemudian masuk Islam. (Baca Juga: Kisah Umar bin Khattab, Khalifah Kedua yang Ditakuti Setan )
(mhy)
cover top ayah
كَلَّا لَٮِٕنۡ لَّمۡ يَنۡتَهِ ۙ لَنَسۡفَعًۢا بِالنَّاصِيَةِۙ
Sekali-kali tidak! Sungguh, jika dia tidak berhenti berbuat demikian niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, ke dalam neraka.

(QS. Al-'Alaq:15)
cover bottom ayah
preload video