Kisah Bijak Para Sufi: Namus Si Agas dan Gajah

Rabu, 10 Juni 2020 - 06:34 WIB
loading...
Kisah Bijak Para Sufi:...
Gajah itu menengadahkan kepalanya yang besar itu dan mendengus pelan. Foto/Ilustrasi/Ist
A A A
PADA suatu saat hiduplah seekor agas, sejenis serangga yang menyerupai nyamuk tetapi lebih kecil dan biasanya terdapat di tepi laut, sungai dan kawasan semak. Agas itu bernama Namus. Ia dikenal, oleh sebab perasaannya yang halus, sebagai Namus Si Cerdik.

Setelah menimbang-nimbang keadaannya, dan untuk sejumlah alasan yang baik serta masuk akal, Namus memutuskan pindah rumah. Tempat yang dirasa cocok dijadikan sarang baru adalah telinga seekor gajah. (Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Orang yang Menyadari Kematian )

Namus hanya perlu terbang dan tak lama kemudian sudah mendiami tempat tinggal yang luas dan cukup menarik. Waktu pun berlalu. Agas itu membesarkan beberapa keluarga agas, dan dikirimnya mereka ke dunia luar. Seiring bergantinya tahun, Namus mengalami saat-saat tegang dan santai, perasaan senang dan sedih, tantangan dan juga raihan yang lazim dijalani oleh seekor agas di berbagai tempat.

Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Tiga Kebenaran

Telinga gajah itu adalah rumahnya; dan bukanlah hal yang mengejutkan bila ia merasa (perasaan itu terus menguat) bahwa terdapat hubungan yang sangat dekat antara kehidupannya, masa lalunya, hakikat dirinya, dan tempat itu. Telinga itu sungguh hangat, nyaman, benar-benar luas, latar dari sekian banyak pengalamannya.

Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Cara Mendapat Pengetahuan

Tentu saja, Namus tidak pindah ke rumah itu tanpa permisi dan sebelumnya ia meneliti dahulu situasi di sekitarnya. Pada hari pertama, tepat ketika ia hendak memasuki telinga gadjah itu, ia sudah berseru sekeras mungkin, dengan suaranya yang kecil, tentang keputusannya.

"Wahai Gajah!" teriaknya, "ketahuilah bahwa aku, Namus Si Agas, yang dikenal sebagai Namus Si Cerdik, memohon untuk menjadikan tempat ini sebagai kediamanku. Karena ini telingamu, aku bersopan santun menyampaikan niatku ini kepadamu," pekiknya.

Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Tuan Rumah dan Tamu

Gajah itu tidak keberatan.

Tetapi, Namus tidak tahu bahwa gajah itu sebenarnya tidak mendengar suaranya. Sedikit pun tuan rumah itu tidak sadar akan kehadiran, atau bahkan keluar masuknya, Namus beserta segenap keluarganya. Dengan kata lain, tidak terpikirkan sama sekali oleh gajah itu bahwa ada agas di telinganya.

Dan ketika tiba pula saatnya ketika Namus Si Cerdik hendak pindah rumah lagi, kali ini juga dengan alasan yang penting dan mendesak, ia merasa berkepentingan untuk berpamitan kepada gajah, pemilik rumahnya itu, sebagai bagian dari kesantunan. Ia menyiapkan dirinya untuk mengumumkan secara resmi tentang kepergiannya dari telinga gajah itu. (Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Kisah Api )

Dan begitulah, sesudah memutuskan dengan mantap dan melatih seperlunya apa yang harus ia katakan, Namus berseru sekali lagi di bawah telinga gajah itu. Ia berteriak sekali, dan tak ada jawaban. Kedua kali, gajah tetap diam.

Kali ketiga, dengan sekuat tenaga dalam hasratnya yang sudah di ubun-ubun untuk menyampaikan kata-kata fasihnya, ia berteriak: "Wahai gajah, ketahuilah bahwa aku, Namus Si Cerdik, pamit untuk pergi dari rumahku dan tungku perapianku, meninggalkan kediamanku di telingamu ini yang telah kutempati sekian lama. Dan kepergianku ini karena alasan yang penting dan mendesak yang akan kukatakan juga kepadamu."

Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Kisah Pasir

Sekarang akhirnya suara agas itu menyentuh saraf-saraf pendengaran gajah tersebut, dan seruan agas itu pun terdengar olehnya. Sementara gajah itu mencerna perkataan itu, Namus berteriak lagi: "Apa jawabmu atas beritaku ini? Bagaimana perasaanmu tentang keberangkatanku sebentar lagi?"

Gajah itu menengadahkan kepalanya yang besar itu dan mendengus pelan. Dalam dengusan itu terkandung kata-kata: "Pergilah dalam damai --sebab sesungguhnya kepergianmu sama menarik dan pentingnya bagiku seperti kedatanganmu." (Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Putri yang Tidak Patuh )


====

Kisah Namus Si Cerdik sekilas barangkali tampak sebagai ilustrasi tajam tentang kesia-siaan hidup. Bagi seorang Sufi, penafsiran semacam itu hanya bisa muncul karena ketidakpekaan pembaca.

Yang hendak ditekankan di sini adalah kurangnya kesadaran manusia bahwa segala sesuatu dalam hidup ini memiliki arti penting yang relatif.

Manusia memperlakukan hal-hal yang penting sebagai tidak penting, dan segala yang remeh sebagai hal yang sangat perlu.

Dinukil dari Idries Shah "Tales of The Dervishes" diterjemahkan Ahmad Bahar menjadi Harta Karun dari Timur Tengah - Kisah Bijak Para Sufi . (Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Fatimah Si Pemintal dan Tenda )
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Kisah Uwais Al-Qarni,...
Kisah Uwais Al-Qarni, Teladan Berbakti kepada Orang Tua yang Dijamin Doanya Mustajab
Kisah Nabi Muhammad...
Kisah Nabi Muhammad SAW Sujud Sangat Lama, Ternyata Ini Penyebabnya
Kisah Hikmah : Tidak...
Kisah Hikmah : Tidak Melakukan Ibadah Haji Tapi Dapat Pahala Haji, Kok Bisa?
Kisah Bulan Zulhijjah...
Kisah Bulan Zulhijjah : Diijabahnya Doa Nabi Zakaria Mendapatkan Keturunan di Umur 90 Tahun
Kisah Uwais Al Qarni...
Kisah Uwais Al Qarni : Menggendong Ibunya dari Yaman ke Makkah untuk Melaksanakan Haji
Kisah Hikmah : Laki-laki...
Kisah Hikmah : Laki-laki yang Selamat dari Neraka karena Zikir Laa Ilaaha Illallaah
Rekomendasi
Dikaitkan dengan Kehidupan...
Dikaitkan dengan Kehidupan di Mars, Fosil Air Berusia 6 Juta Tahun Ditemukan di Italia
Fenomena Langka, Muncul...
Fenomena Langka, Muncul Quasar Merah yang Lebih Besar dari Matahari
Detak Jantung Misterius...
Detak Jantung Misterius dari Dalam Perut Bumi Bakal Membelah Afrika
Artikel Terkini
Komisi VIII DPR Beri...
Komisi VIII DPR Beri Sinyal Ongkos Haji 2027 Naik
Tata Cara Menguburkan...
Tata Cara Menguburkan Jenazah Sesuai Syariat Islam, Lengkap dari Awal hingga Akhir
Salat Jenazah, Pahala...
Salat Jenazah, Pahala dan Keutamaan 2 Qirath Beserta Bacaan Niat Lengkap
6 Adab Syariyah Mengurus...
6 Adab Syar'iyah Mengurus Orang yang Baru Meninggal Dunia
Mengawetkan Jenazah...
Mengawetkan Jenazah dalam Islam, Bolehkah Dilakukan? Ini Penjelasan Ulama
Hukum Menunda Penguburan...
Hukum Menunda Penguburan Jenazah dalam Islam, Kapan Diperbolehkan?
Infografis
Penemuan-penemuan Ilmuwan...
Penemuan-penemuan Ilmuwan Muslim yang Mengubah Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved