7 Keutamaan Puasa Ramadhan, Nomor 1 Banyak yang Mendambakan
Sabtu, 26 Maret 2022 - 17:36 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Bacaan Zikir Sebelum Berbuka Puasa Ramadhan
Kedua, menghapus kesalahan atau takfir al-khathi’at. Hal ini didasarkan pada hadits Nabi Muhammad SAW:
رَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفَّرَاتٌ مَابَيْنَهُنَّ، إِذَا اجْتَنَبَتَ الْكَبَائِرَ
“Ramadhan satu ke Ramadhan yang lain sebagai bentuk kafarat (dosa) di antara keduanya jika kamu menjauhkan diri dari dosa-dosa besar”. (HR Ahmad 2/400 dan HR Muslim No. 233 dalam Bab Thaharah).
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR Bukhari dan Muslim)
Syekh Izzuddin Abdil Aziz memaknai kata “imanan” adalah biwujubihi (meyakini adanya kewajiban puasa dan berkewajiban menjalankannya). Sedangkan ihtisaban, bermaka merendahkan diri sembari berharap pahala dari Tuhannya (li ajrihi ‘inda rabbihi).
Ketiga, mengendalikan syahwat atau kasru al-syahawat.
Umat Islam hendaknya mampu mengendalikan atau menaklukkan syahwat. Ia berdikari atas syahwatnya, bukan justru ditunggangi oleh syahwatnya. Sebagaimana sabda Nabi SAW:
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ, فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ, وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ, وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ, فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
“Wahai para pemuda, barangsiapa yang mampu untuk menikah, maka menikahlah. Sesungguhnya menikah lebih bisa menundukan pandangan dan lebih mudah menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu menikah, maka berpuasalah, sesungguhnya puasa itu adalah benteng syahwatnya.” (HR Imam Ahmad dan Imam Bukhari)
Baca juga: Membersihkan Telinga Saat Puasa Ramadhan, Batalkah?
Jadi, dengan berpuasa Ramadhan, tidak makan dan minum itu dapat menjadi sarana untuk mampu mengalahkan syahwat. Beliau menuturkan,
فَإِنَّ الْجُوْعَ وَالظَّمَأَ يُكَسِّرَانِ شَهْوَةَ الْمَعَاصِي
“Sesungguhnya lapar dan haus dapat mengalahkan syahwat bermaksiat”
Kedua, menghapus kesalahan atau takfir al-khathi’at. Hal ini didasarkan pada hadits Nabi Muhammad SAW:
رَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفَّرَاتٌ مَابَيْنَهُنَّ، إِذَا اجْتَنَبَتَ الْكَبَائِرَ
“Ramadhan satu ke Ramadhan yang lain sebagai bentuk kafarat (dosa) di antara keduanya jika kamu menjauhkan diri dari dosa-dosa besar”. (HR Ahmad 2/400 dan HR Muslim No. 233 dalam Bab Thaharah).
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR Bukhari dan Muslim)
Syekh Izzuddin Abdil Aziz memaknai kata “imanan” adalah biwujubihi (meyakini adanya kewajiban puasa dan berkewajiban menjalankannya). Sedangkan ihtisaban, bermaka merendahkan diri sembari berharap pahala dari Tuhannya (li ajrihi ‘inda rabbihi).
Ketiga, mengendalikan syahwat atau kasru al-syahawat.
Umat Islam hendaknya mampu mengendalikan atau menaklukkan syahwat. Ia berdikari atas syahwatnya, bukan justru ditunggangi oleh syahwatnya. Sebagaimana sabda Nabi SAW:
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ, فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ, وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ, وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ, فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
“Wahai para pemuda, barangsiapa yang mampu untuk menikah, maka menikahlah. Sesungguhnya menikah lebih bisa menundukan pandangan dan lebih mudah menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu menikah, maka berpuasalah, sesungguhnya puasa itu adalah benteng syahwatnya.” (HR Imam Ahmad dan Imam Bukhari)
Baca juga: Membersihkan Telinga Saat Puasa Ramadhan, Batalkah?
Jadi, dengan berpuasa Ramadhan, tidak makan dan minum itu dapat menjadi sarana untuk mampu mengalahkan syahwat. Beliau menuturkan,
فَإِنَّ الْجُوْعَ وَالظَّمَأَ يُكَسِّرَانِ شَهْوَةَ الْمَعَاصِي
“Sesungguhnya lapar dan haus dapat mengalahkan syahwat bermaksiat”
Lihat Juga :