7 Keutamaan Puasa Ramadhan, Nomor 1 Banyak yang Mendambakan
Sabtu, 26 Maret 2022 - 17:36 WIB
loading...
A
A
A
Dalam konteks ini, yang dimaksudkan dengan “lapar dan haus” adalah yang disertai niat karena ibadah kepada Allah SWT. Dengan niat tersebut, maka lapar dan haus menjadi madrasah untuk menempa diri manusia, mengendalikan nafsu libidinal dan mampu kapan ia untuk mengegas dan mengerem.
Keempat, memperbanyak sedekah atau taktsir al-shadaqat
Menurut Syekh Izzuddin Abdil Aziz, sedekah berimplikasi pada pembentukan karakter diri manusia. “Sesungguhnya orang berpuasa ketika dia merasakan lapar, lalu ia mengingat rasa lapar itu, maka hal itulah yang memberikan dorongan kepadanya untuk memberi makan pada orang yang lapar,” ujarnya.
Kelima, penyempurnaan ketaatan atau taufir al-tha’at
Menurut Syekh Izzuddin Abdil Aziz, puasa mengingatkan akan rasa lapar dan hausnya ahli neraka. Karena itulah yang mendorong orang berpuasa untuk memperbanyak ketaatan kepada Allah SWT agar selamat dari api neraka.
Baca juga: Niat Ganti Puasa Ramadhan karena Haid
Keenam, mensyukuri kenikmatan yang tidak disadari atau syukr ‘alim al-khafiyyat
Acapkali manusia lalai terhadap nikmat Allah SWT. Sampai-sampai Nabi SAW pernah menyinggungnya bahwa ada dua kenikmatan yang seringkali dilupakan manusia, yaitu nikmat kesehatan (shihhah) dan kesempatan (al-faragh).
Syekh Izzuddin Abdil Aziz mengatakan, jika seseorang berpuasa maka ia menjadi tahu akan nikmat Allah SWT yang diberikannya berupa rasa kenyang dan rasa segar, maka bersyukurlah atas nikmat itu. "Karena nikmat tersebut baru mempunyai arti penting tatkala nikmat itu telah hilang,” katanya.
Ketujuh, mencegah keinginan untuk bermaksiat dan mempertajam perselisihan.
Syekh Izzuddin Abdil Aziz menjelaskan bahwa orang yang kenyang mempunyai probabilitas tinggi untuk bermaksiat (thamahat ila al-ma’ashy). Hal ini jauh berbeda ketika manusia terasa lapar dan haus, maka ia akan mencari sesuatu yang mampu memenuhi keduanya sehingga berdampak pada pengurangan keinginan untuk berbuat buruk atau maksiat.
Sederhananya, puasa menjadi ajang preventif untuk menahan diri dari segala hawa nafsu, baik syahwat seks maupun hasrat materialisme sehingga diharapkan ia meraih derajat yang tinggi, yakni muttaqin (orang-orang yang bertakwa di sisi-Nya). Ini adalah tingkatan tertinggi dalam prestasi manusia.
Baca juga: Cara Memperkenalkan Puasa Ramadhan pada Anak
Keempat, memperbanyak sedekah atau taktsir al-shadaqat
Menurut Syekh Izzuddin Abdil Aziz, sedekah berimplikasi pada pembentukan karakter diri manusia. “Sesungguhnya orang berpuasa ketika dia merasakan lapar, lalu ia mengingat rasa lapar itu, maka hal itulah yang memberikan dorongan kepadanya untuk memberi makan pada orang yang lapar,” ujarnya.
Kelima, penyempurnaan ketaatan atau taufir al-tha’at
Menurut Syekh Izzuddin Abdil Aziz, puasa mengingatkan akan rasa lapar dan hausnya ahli neraka. Karena itulah yang mendorong orang berpuasa untuk memperbanyak ketaatan kepada Allah SWT agar selamat dari api neraka.
Baca juga: Niat Ganti Puasa Ramadhan karena Haid
Keenam, mensyukuri kenikmatan yang tidak disadari atau syukr ‘alim al-khafiyyat
Acapkali manusia lalai terhadap nikmat Allah SWT. Sampai-sampai Nabi SAW pernah menyinggungnya bahwa ada dua kenikmatan yang seringkali dilupakan manusia, yaitu nikmat kesehatan (shihhah) dan kesempatan (al-faragh).
Syekh Izzuddin Abdil Aziz mengatakan, jika seseorang berpuasa maka ia menjadi tahu akan nikmat Allah SWT yang diberikannya berupa rasa kenyang dan rasa segar, maka bersyukurlah atas nikmat itu. "Karena nikmat tersebut baru mempunyai arti penting tatkala nikmat itu telah hilang,” katanya.
Ketujuh, mencegah keinginan untuk bermaksiat dan mempertajam perselisihan.
Syekh Izzuddin Abdil Aziz menjelaskan bahwa orang yang kenyang mempunyai probabilitas tinggi untuk bermaksiat (thamahat ila al-ma’ashy). Hal ini jauh berbeda ketika manusia terasa lapar dan haus, maka ia akan mencari sesuatu yang mampu memenuhi keduanya sehingga berdampak pada pengurangan keinginan untuk berbuat buruk atau maksiat.
Sederhananya, puasa menjadi ajang preventif untuk menahan diri dari segala hawa nafsu, baik syahwat seks maupun hasrat materialisme sehingga diharapkan ia meraih derajat yang tinggi, yakni muttaqin (orang-orang yang bertakwa di sisi-Nya). Ini adalah tingkatan tertinggi dalam prestasi manusia.
Baca juga: Cara Memperkenalkan Puasa Ramadhan pada Anak
(mhy)
Lihat Juga :