Ramadhan Bulan Berjihad dari Keburukan untuk Menciptakan Perdamaian
Minggu, 03 April 2022 - 04:38 WIB
loading...
Ketua Dewan Pimpinan Pusat PITI H Denny Sanusi BA menyatakan Ramadhan menjadi latihan bagi umat Islam untuk membersihkan diri dari keburukan dengan menahan diri dari hawa nafsu. Foto/Ist
A
A
A
JAKARTA - Bulan Ramadhan menjadi latihan bagi umat Islam untuk membersihkan diri dari keburukan dengan menahan diri dari hawa nafsu negatif yang membatalkan puasa semata dan perbuatan lain yang merusak harmoni sosial.
Karena itu, Ramadhan adalah bulan yang tepat untuk berjihad menahan diri dari keburukan sehingga dapat menciptakan perdamaian.
Baca juga: Arti Marhaban Ya Ramadhan
“Ramadhan adalah momen yang tepat yang harus kita maksimalkan untuk hal positif, baik itu berkaitan dengan ibadah agama, maupun untuk lingkungan dan komunitas kita. Dalam berpuasa itu kita jihad menahan diri, tidak hanya menahan lapar dan haus, tapi juga menahan diri dari hal atau perbuatan negatif,” ujar Ketua Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) H Denny Sanusi BA di Jakarta dikutip Minggu (3/4/22).
Ia melanjutkan, bulan suci Ramadhan adalah bulan mulia yang dapat dimanfaatkan umat untuk menebar kebaikan. Juga menjadi ajang berbagi serta melatih kepekaan sosial baik kepekaan terhadap kondisi sekitar, maupun peka terhadap narasi radikal yang tersebar di dunia maya.
“Kita bisa manfaatkan kepada hal-hal positif di bulan yang mulia ini. Dengan dakwah bil-hal, kita bisa menerapkan bakti sosial, dalam konteks untuk membantu saudara kita yang membutuhkan, proaktif terhadap konten negatif radikal, berlomba-lomba berbuat kebaikan,” ungkap Denny.
Dewasa ini, lanjut dia, sebaran konten negatif radikal yang semakin masif melalui produksi hoaks, hatespeech dan fitnah yang mengganggu ketentraman dan mengancam keutuhan persatuan bangsa.
“Sekaligus ada sebuah peningkatan, saat ini memang konten negatif tetap beredar di sekeliling kita, mereka yang sudah tercuci otak ini (kelompok radikal) tidak peduli akan hadirnya bulan Ramadhan. Kita yang harus proaktif,” jelasnya.
Baca juga: 6 Keistimewaan Bulan Suci Ramadhan
Menurutnya, akan menjadi serius dikemudian hari jika media tetap dibiarkan diisi oleh kelompok radikal. Masyarakat akan menjadi lebih percaya terhadap berita hoaks, jika kelompok moderat tidak mengambil peran, tentunya hal ini sangat mengancam kehidupan harmonis bangsa.
“Kalau diam, nanti media mereka kuasai dan akhirnya masyarakat terbiasa menelan berita yang mereka propagandakan, nah itu berbahaya, nanti masyarakat akan percaya kepada berita itu,” tegas Denny.
Sekretaris Jenderal Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) ini mendorong agar di bulan suci Ramadhan selain memperbanyak ibadah kepada Allah SWT, umat juga dapat berperan dalam melawan sebaran narasi radikal intoleran di media. Caranya menggnakan kemampuan dan keahliannya masing-masing.
“Harus masif dan militan melawan kelompok mereka, jika mereka menyerang dengan konten maka kita serang kembali dengan konten, sesuai maqomnya kalau jaman sekarang in. Kalau mereka menyerang melalui media kita serang balik melalui media,” tegas Denny.
Karena itu, Ramadhan adalah bulan yang tepat untuk berjihad menahan diri dari keburukan sehingga dapat menciptakan perdamaian.
Baca juga: Arti Marhaban Ya Ramadhan
“Ramadhan adalah momen yang tepat yang harus kita maksimalkan untuk hal positif, baik itu berkaitan dengan ibadah agama, maupun untuk lingkungan dan komunitas kita. Dalam berpuasa itu kita jihad menahan diri, tidak hanya menahan lapar dan haus, tapi juga menahan diri dari hal atau perbuatan negatif,” ujar Ketua Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) H Denny Sanusi BA di Jakarta dikutip Minggu (3/4/22).
Ia melanjutkan, bulan suci Ramadhan adalah bulan mulia yang dapat dimanfaatkan umat untuk menebar kebaikan. Juga menjadi ajang berbagi serta melatih kepekaan sosial baik kepekaan terhadap kondisi sekitar, maupun peka terhadap narasi radikal yang tersebar di dunia maya.
“Kita bisa manfaatkan kepada hal-hal positif di bulan yang mulia ini. Dengan dakwah bil-hal, kita bisa menerapkan bakti sosial, dalam konteks untuk membantu saudara kita yang membutuhkan, proaktif terhadap konten negatif radikal, berlomba-lomba berbuat kebaikan,” ungkap Denny.
Dewasa ini, lanjut dia, sebaran konten negatif radikal yang semakin masif melalui produksi hoaks, hatespeech dan fitnah yang mengganggu ketentraman dan mengancam keutuhan persatuan bangsa.
“Sekaligus ada sebuah peningkatan, saat ini memang konten negatif tetap beredar di sekeliling kita, mereka yang sudah tercuci otak ini (kelompok radikal) tidak peduli akan hadirnya bulan Ramadhan. Kita yang harus proaktif,” jelasnya.
Baca juga: 6 Keistimewaan Bulan Suci Ramadhan
Menurutnya, akan menjadi serius dikemudian hari jika media tetap dibiarkan diisi oleh kelompok radikal. Masyarakat akan menjadi lebih percaya terhadap berita hoaks, jika kelompok moderat tidak mengambil peran, tentunya hal ini sangat mengancam kehidupan harmonis bangsa.
“Kalau diam, nanti media mereka kuasai dan akhirnya masyarakat terbiasa menelan berita yang mereka propagandakan, nah itu berbahaya, nanti masyarakat akan percaya kepada berita itu,” tegas Denny.
Sekretaris Jenderal Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) ini mendorong agar di bulan suci Ramadhan selain memperbanyak ibadah kepada Allah SWT, umat juga dapat berperan dalam melawan sebaran narasi radikal intoleran di media. Caranya menggnakan kemampuan dan keahliannya masing-masing.
“Harus masif dan militan melawan kelompok mereka, jika mereka menyerang dengan konten maka kita serang kembali dengan konten, sesuai maqomnya kalau jaman sekarang in. Kalau mereka menyerang melalui media kita serang balik melalui media,” tegas Denny.
Lihat Juga :