Di Manakah Keberadaan Wali Berpangkat Al-Ghauts?
Selasa, 05 April 2022 - 18:11 WIB
loading...
A
A
A
Imam Al Khatib di dalam Kitab "Tarikhul Baghdad" dari Imam Al-Kanani berkata bahwa Wali Nuqaba berjumlah 300 orang, Wali Nujaba berjumlah 70 orang, Wali Budala' (wali abdal) berjumlah 40 orang, Wali al-Akhyar berjumlah 7 orang, Wali al-Amd berjumlah 4 orang, sedangkan wali Al-Ghauts berjumlah 1 orang.
• Wali Nuqaba' terbanyak di Maghrib/di Barat.
• Wali Nujaba' terbanyak di Mesir.
• Wali Abdal terbanyak di Syam.
• Wali Al-Akhyar berkelana di muka bumi.
• Wali Al-'Amd berada di pojok Bumi.
• Wali Al-Ghauts berada di Makkah al-Mukarramah.
Jadi, jelaslah bahwa menurut keterangan dari para ulama yang masyhur menyatakan bahwa tugas dan kedudukan tempat tinggal Wali Quthub al-Qhauts itu bertempat tinggal Makkah al-Mukarramah, bukan di Jakarta.
Kebanyakan Qutb tersembunyi atau hanya dikenal oleh wali tertentu, dan hanya sebagian kecil Qutb atau Sulthan al-Awliya yang masyhur dan dikenal banyak orang awam. Kadang-kadang Qutb baru dikenal banyak orang setelah dia meninggal dunia.
Sekali lagi, terkadang-kadang Wali Qutb baru dikenal banyak orang setelah beliau wafat. Ada pula memang kedudukan Wali Quthub ini diketahui semasa hidupnya sebagai seorang wali Qutb, seperti maqam kewalian Quthub Al-Alimul Allamah KH Zaini Abdul Ghani atau yang lebih dikenal dengan sebutan Abah Guru Sekumpul. Namun, kepangkatan itu bukan atas pengakuan beliau sendiri, melainkan pengakuan dari wali-wali besar di zamannya.
Kadang-kadang Qutb terang-terangan menyatakan diri sebagai Qutb kepada murid tertentu, atau ketahuan sebagai Qutb oleh murid tertentu.
Misalnya, Kiyai Kholil dari Bangkalan, Madura, pernah mengaku secara terus-terang kepada Kiyai Ridwan bahwa dirinya ialah Qutb. Namun beliau berpesan agar kedudukan ini tidak disebarluaskan ke khalayak umum sebelum dirinya meninggal. Hal yang sama juga terjadi dalam kasus Kiyai As'ad Syamsul Arifin dari Situbondo.
Dalam kasus ini kedudukannya "ketahuan" oleh salah seorang muridnya setelah sang murid bertemu dengan seorang wali di Makkah yang menyuruhnya membacakan ayat tertentu (Surah an-Nisaa' [4]: 41) kepada Kiai As'ad.
Ayat ini membuat Kiyai menangis selama hampir sejam, dan terbukalah kedudukan sesungguhnya dari kiyai As'ad. Tetapi, beliau juga berpesan agar rahasia ini tidak diungkapkan sebelum dirinya meninggal.
Walhasil, memang tidaklah mudah mengetahui secara persis dan pasti keberadaan para Wali Allah ini. Sebab mereka termasuk para kekasih Allah yang memang sejatinya keberadaan mereka disembunyikan oleh Allah, ditambah tabiat para Wali itu sejatinya merupakan para hamba Allah yang senang menyembunyikan ibadah, maqam serta ahwal mereka. Mereka para hamba Allah yang mukhlisin.
Jadi, jelaslah dengan demikian tidaklah para Wali Allah itu ada di antara mereka yang mendakwakan diri atau mengklaim sebagai Wali Allah, sebab mereka memiliki keharusan menjaga rahasia-rahasia alam semesta ini dalam setiap tugas dan kepangkatan mereka.
Wallahu A'lam
Baca Juga: Bolehkah Mengaku Wali Malamatiyyah dan Apa Itu Thariqah Malamatiyyah?
• Wali Nuqaba' terbanyak di Maghrib/di Barat.
• Wali Nujaba' terbanyak di Mesir.
• Wali Abdal terbanyak di Syam.
• Wali Al-Akhyar berkelana di muka bumi.
• Wali Al-'Amd berada di pojok Bumi.
• Wali Al-Ghauts berada di Makkah al-Mukarramah.
Jadi, jelaslah bahwa menurut keterangan dari para ulama yang masyhur menyatakan bahwa tugas dan kedudukan tempat tinggal Wali Quthub al-Qhauts itu bertempat tinggal Makkah al-Mukarramah, bukan di Jakarta.
Kebanyakan Qutb tersembunyi atau hanya dikenal oleh wali tertentu, dan hanya sebagian kecil Qutb atau Sulthan al-Awliya yang masyhur dan dikenal banyak orang awam. Kadang-kadang Qutb baru dikenal banyak orang setelah dia meninggal dunia.
Sekali lagi, terkadang-kadang Wali Qutb baru dikenal banyak orang setelah beliau wafat. Ada pula memang kedudukan Wali Quthub ini diketahui semasa hidupnya sebagai seorang wali Qutb, seperti maqam kewalian Quthub Al-Alimul Allamah KH Zaini Abdul Ghani atau yang lebih dikenal dengan sebutan Abah Guru Sekumpul. Namun, kepangkatan itu bukan atas pengakuan beliau sendiri, melainkan pengakuan dari wali-wali besar di zamannya.
Kadang-kadang Qutb terang-terangan menyatakan diri sebagai Qutb kepada murid tertentu, atau ketahuan sebagai Qutb oleh murid tertentu.
Misalnya, Kiyai Kholil dari Bangkalan, Madura, pernah mengaku secara terus-terang kepada Kiyai Ridwan bahwa dirinya ialah Qutb. Namun beliau berpesan agar kedudukan ini tidak disebarluaskan ke khalayak umum sebelum dirinya meninggal. Hal yang sama juga terjadi dalam kasus Kiyai As'ad Syamsul Arifin dari Situbondo.
Dalam kasus ini kedudukannya "ketahuan" oleh salah seorang muridnya setelah sang murid bertemu dengan seorang wali di Makkah yang menyuruhnya membacakan ayat tertentu (Surah an-Nisaa' [4]: 41) kepada Kiai As'ad.
Ayat ini membuat Kiyai menangis selama hampir sejam, dan terbukalah kedudukan sesungguhnya dari kiyai As'ad. Tetapi, beliau juga berpesan agar rahasia ini tidak diungkapkan sebelum dirinya meninggal.
Walhasil, memang tidaklah mudah mengetahui secara persis dan pasti keberadaan para Wali Allah ini. Sebab mereka termasuk para kekasih Allah yang memang sejatinya keberadaan mereka disembunyikan oleh Allah, ditambah tabiat para Wali itu sejatinya merupakan para hamba Allah yang senang menyembunyikan ibadah, maqam serta ahwal mereka. Mereka para hamba Allah yang mukhlisin.
Jadi, jelaslah dengan demikian tidaklah para Wali Allah itu ada di antara mereka yang mendakwakan diri atau mengklaim sebagai Wali Allah, sebab mereka memiliki keharusan menjaga rahasia-rahasia alam semesta ini dalam setiap tugas dan kepangkatan mereka.
Wallahu A'lam
Baca Juga: Bolehkah Mengaku Wali Malamatiyyah dan Apa Itu Thariqah Malamatiyyah?
(rhs)
Lihat Juga :