Taubat Nasuha: Perlu Tekad Kuat agar Taubatnya Tidak Batal
Jum'at, 10 Juni 2022 - 18:28 WIB
loading...
Unsur taubat nasuha salah satunya adalah tekad untuk meninggalkan maksiat dan bertaubat darinya secara total, dan tidak akan kembali melakukannya selama-lamanya. Foto/Ilustrasi: Ist
A
A
A
Salah satu unsur taubat nasuha adalah unsur hati dan keinginan. Syaikh Yusuf al-Qardhawi menjelaskan unsur ini yakni unsur jiwa, yang berhubungan dengan hati dan keinginan diri. Atau dengan kata lain: emosi dan inklinasi.
"Dari unsur ini ada yang berhubungan dengan masa lalu, dan ada yang berhubungan dengan masa depan," ujarnya dalam bukunya berjudul "at Taubat Ila Allah"
Baca juga: Taubat Nasuha: Unsur Hati dan Keinginan, Penyesalan adalah Taubat
Menurutnya, yang berkaitan dengan masa lalu adalah apa yang kita kenal dengan penyesalan. Tentang ini terdapat hadis: "penyesalan adalah taubat".
Jika penyesalan itu berkaitan dengan masa lalu dan kesalahan yang telah ia perbuat; ada dimensi dalam taubat yang berkaitan dengan masa depan, dan tentang probabilitas ia melakukan pengulangan perbuatan dosa itu kembali, serta bagaimana mengganti kesalahan yang telah ia perbuat. Yaitu dengan bertekad untuk meninggalkan maksiat itu dan bertaubat darinya secara total, dan tidak akan kembali melakukannya selama-lamanya.
"Seperti susu yang tidak mungkin kembali ke puting hewan setelah diperah. Ini semua berpulang pada keinginan dan tekad orang itu. Dan tekad itu harus kuat betul, bukan keinginan yang dilandasi oleh keragu-raguan. Tidak seperti mereka yang pada pagi harinya bertaubat sementara pada sore harinya kembali mengulangi lagi dosanya!" tutur Syaikh Yusuf al-Qardhawi.
Menurut dia, yang terpenting dalam masalah tekadnya ini adalah agar tekad itu kuat dan betul-betul, saat bertaubat. Dengan tanpa disertai oleh keraguan atau kerinduan untuk kembali melakukan kemaksiatan, atau juga berpikir untuk mengerjakannya kembali.
Taubat itu tidak batal jika suatu saat tekadnya itu sedikit melemah kemudian ia terlena oleh dirinya, tertipu oleh setan sehingga ia terpeleset, dan kembali melakukan kemaksiatan.
Dalam kasus seperti ini, ia harus segera melakukan taubat, menyesal dan menyusun tekad lagi. Dan ia tidak perlu putus-asa takut taubatnya tidak diterima jika memang tekadnya tulus. Allah SWT berfirman:
"Maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat" [ QS. al Isra : 25].
Baca juga: 9 Tanda Diterimanya Taubat Nasuha
"Dari unsur ini ada yang berhubungan dengan masa lalu, dan ada yang berhubungan dengan masa depan," ujarnya dalam bukunya berjudul "at Taubat Ila Allah"
Baca juga: Taubat Nasuha: Unsur Hati dan Keinginan, Penyesalan adalah Taubat
Menurutnya, yang berkaitan dengan masa lalu adalah apa yang kita kenal dengan penyesalan. Tentang ini terdapat hadis: "penyesalan adalah taubat".
Jika penyesalan itu berkaitan dengan masa lalu dan kesalahan yang telah ia perbuat; ada dimensi dalam taubat yang berkaitan dengan masa depan, dan tentang probabilitas ia melakukan pengulangan perbuatan dosa itu kembali, serta bagaimana mengganti kesalahan yang telah ia perbuat. Yaitu dengan bertekad untuk meninggalkan maksiat itu dan bertaubat darinya secara total, dan tidak akan kembali melakukannya selama-lamanya.
"Seperti susu yang tidak mungkin kembali ke puting hewan setelah diperah. Ini semua berpulang pada keinginan dan tekad orang itu. Dan tekad itu harus kuat betul, bukan keinginan yang dilandasi oleh keragu-raguan. Tidak seperti mereka yang pada pagi harinya bertaubat sementara pada sore harinya kembali mengulangi lagi dosanya!" tutur Syaikh Yusuf al-Qardhawi.
Menurut dia, yang terpenting dalam masalah tekadnya ini adalah agar tekad itu kuat dan betul-betul, saat bertaubat. Dengan tanpa disertai oleh keraguan atau kerinduan untuk kembali melakukan kemaksiatan, atau juga berpikir untuk mengerjakannya kembali.
Taubat itu tidak batal jika suatu saat tekadnya itu sedikit melemah kemudian ia terlena oleh dirinya, tertipu oleh setan sehingga ia terpeleset, dan kembali melakukan kemaksiatan.
Dalam kasus seperti ini, ia harus segera melakukan taubat, menyesal dan menyusun tekad lagi. Dan ia tidak perlu putus-asa takut taubatnya tidak diterima jika memang tekadnya tulus. Allah SWT berfirman:
"Maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat" [ QS. al Isra : 25].
Baca juga: 9 Tanda Diterimanya Taubat Nasuha
Lihat Juga :