Kisah Abdullah Bin Amr yang Dikhawatirkan Rasulullah SAW Bosan dengan Al-Qur'an
Minggu, 17 Juli 2022 - 18:28 WIB
loading...
Abdullah bin Amr dikenal sebagai seorang yang patuh, suka bertaubat, rajin beribadah, dan sangat taat. Bila ayahnya menjadi guru dalam kecerdasan, kelihaian, dan siasat yang luas, Foto/Ilustrasi: Ist
A
A
A
Dia adalah Abdullah bin Amr bin Al-Ash . Dia dikenal sebagai seorang yang patuh, suka bertaubat, rajin beribadah, dan sangat taat. Bila ayahnya menjadi guru dalam kecerdasan, kelihaian, dan siasat yang luas, Abdullah justru menjadi teladan yang memiliki kedudukan tinggi di antara ahli ibadah yang zuhud dan terbuka.
Khalid Muhammad Khalid dalam bukunya berjudul "Rijalun haular Rasul" dan telah diterjemahkan Agus Suwandi menjadi "Kisah 60 Sahabat Nabi" menceritakan seluruh waktu dan hidup beliau dipergunakannya untuk beribadah. "Ia berhasil mengecap manisnya iman, hingga waktu siang dan malam itu tidak cukup untuk menampung ibadah dan ketaatannya," tutur Khalid.
Baca juga: Amr Bin Al-Ash: Arthabon Arab yang Taklukkan Arthabon Romawi
Beliau lebih dulu masuk Islam daripada ayahnya. Sejak ia berbaiat dengan menaruh telapak tangan kanannya di telapak kanan Rasulullah SAW , sementara hatinya yang terang bagai cahaya subuh yang cemerlang diterangi oleh cahaya Ilahi dan cahaya ketaatannya, pertama-tama Abdullah memusatkan perhatiannya terhadap Al-Qur'an yang diturunkan secara berangsur-angsur.
Setiap turun ayat, ia menghafalnya dan berupaya memahaminya, hingga setelah semuanya selesai dan sempurna, ia pun telah hafal secara keseluruhan.
Ia menghafal Al-Qur'an bukan sekadar mengingat hingga ingatannya seolah-olah menjadi museum bagi sebuah buku tebal, melainkan menghafal dengan tujuan memupuk jiwanya, dan agar ia menjadi hamba Allah yang taat, menghalalkan apa yang dihalalkan oleh-Nya dan mengharamkan apa yang diharamkan-Nya, dan memenuhi setiap seruannya.
Kemudian, ia selalu membaca, melagukan dan merenungkan isinya, menjelajahi taman-tamannya yang indah, berbahagia saat melewati ayat-ayat yang mulia itu menceritakan kesenangan, dan menangis bila ayat-ayat yang dibaca membangkitkan hal-hal yang menakutkan.
Baca juga: Siasat Licik Amr bin Al-Ash Membuat Terjadinya Pembelotan Pasukan Ali bin Abu Thalib
Abdullah telah ditakdirkan Allah menjadi seorang suci dan rajin beribadah. Tidak ada satu pun kekuatan di dunia ini yang mampu mengalihkannya dari takdirnya itu dan petunjuk yang anugerahkan kepadanya.
Apabila tentara Islam maju ke medan perang untuk menghadapi orang-orang musyrik yang melancarkan peperangan dan permusuhan, kita akan menjumpainya berada di barisan terdepan, merindukan kesyahidan dengan semangat cinta dan rintihan rindu.
Khalid Muhammad Khalid dalam bukunya berjudul "Rijalun haular Rasul" dan telah diterjemahkan Agus Suwandi menjadi "Kisah 60 Sahabat Nabi" menceritakan seluruh waktu dan hidup beliau dipergunakannya untuk beribadah. "Ia berhasil mengecap manisnya iman, hingga waktu siang dan malam itu tidak cukup untuk menampung ibadah dan ketaatannya," tutur Khalid.
Baca juga: Amr Bin Al-Ash: Arthabon Arab yang Taklukkan Arthabon Romawi
Beliau lebih dulu masuk Islam daripada ayahnya. Sejak ia berbaiat dengan menaruh telapak tangan kanannya di telapak kanan Rasulullah SAW , sementara hatinya yang terang bagai cahaya subuh yang cemerlang diterangi oleh cahaya Ilahi dan cahaya ketaatannya, pertama-tama Abdullah memusatkan perhatiannya terhadap Al-Qur'an yang diturunkan secara berangsur-angsur.
Setiap turun ayat, ia menghafalnya dan berupaya memahaminya, hingga setelah semuanya selesai dan sempurna, ia pun telah hafal secara keseluruhan.
Ia menghafal Al-Qur'an bukan sekadar mengingat hingga ingatannya seolah-olah menjadi museum bagi sebuah buku tebal, melainkan menghafal dengan tujuan memupuk jiwanya, dan agar ia menjadi hamba Allah yang taat, menghalalkan apa yang dihalalkan oleh-Nya dan mengharamkan apa yang diharamkan-Nya, dan memenuhi setiap seruannya.
Kemudian, ia selalu membaca, melagukan dan merenungkan isinya, menjelajahi taman-tamannya yang indah, berbahagia saat melewati ayat-ayat yang mulia itu menceritakan kesenangan, dan menangis bila ayat-ayat yang dibaca membangkitkan hal-hal yang menakutkan.
Baca juga: Siasat Licik Amr bin Al-Ash Membuat Terjadinya Pembelotan Pasukan Ali bin Abu Thalib
Abdullah telah ditakdirkan Allah menjadi seorang suci dan rajin beribadah. Tidak ada satu pun kekuatan di dunia ini yang mampu mengalihkannya dari takdirnya itu dan petunjuk yang anugerahkan kepadanya.
Apabila tentara Islam maju ke medan perang untuk menghadapi orang-orang musyrik yang melancarkan peperangan dan permusuhan, kita akan menjumpainya berada di barisan terdepan, merindukan kesyahidan dengan semangat cinta dan rintihan rindu.
Lihat Juga :