Kisah Rasulullah SAW: Ditawari Anak Kunci Isi Dunia dan Hidup Kekal Jelang Sakaratul Maut
Jum'at, 19 Agustus 2022 - 13:46 WIB
loading...
Kisah Rasulullah SAW ditawari anak kunci isi dunia dan hidup kekal atau menghadap Tuhan dan surga, terjadi beberapa hari sebelum Rasulullah wafat. Foto/Ilustrasi: Ist
A
A
A
Kisah Rasulullah SAW ditawari anak kunci isi dunia dan hidup kekal atau menghadap Tuhan dan surga, terjadi beberapa hari sebelum Rasulullah wafat. Ini terjadi setelah Rasul memilih kembali menghadap Tuhan dan surga .
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Sejarah Hidup Muhammad" meriwayatkan pada malam pertama saat Rasulullah SAW merasa sakit beliau tak dapat tidur. Beliau berniat keluar dari rumah pada malam musim panas yang disertai embusan angin di sekitar kota Madinah.
Ketika Nabi keluar, hanya ditemani oleh pembantunya, Abu Muwayhiba. Malam itu, beliau pergi ke pemakaman Baqi, pekuburan Muslim di dekat Masjid Nabawi, Madinah. Di sini banyak terdapat keluarga serta sahabat Nabi Muhammad SAW yang dikuburkan.
Sesampainya di pekuburan itu beliau berbicara kepada penghuni kubur. "Salam sejahtera bagimu, wahai penghuni kubur! Semoga kamu selamat akan apa yang terjadi atas dirimu, seperti atas diri orang lain. Fitnah telah datang seperti malam gelap-gulita, yang kemudian menyusul yang pertama, dan yang kemudian lebih jahat dari yang pertama."
Baca juga: Pesan Rasulullah SAW Saat Beliau Menghadapi Sakaratul Maut
Menurut Haekal, Abu Muwayhiba juga bercerita, bahwa ketika pertama kali sampai di Baqi', Nabi berkata kepadanya: "Aku mendapat perintah memintakan ampun untuk penghuni Baqi, ini. Baiklah engkau berangkat bersama aku!"
Setelah memintakan ampun dan tiba saatnya akan kembali, ia menghampiri Abu Muwayhiba seraya katanya: "Abu Muwayhiba, aku telah diberi anak kunci isi dunia ini serta kekekalan hidup di dalamnya, sesudah itu surga. Aku disuruh memilih ini atau bertemu dengan Tuhan dan surga."
Kata Abu Muwayhiba: "Demi ayah bundaku! Ambil sajalah kunci isi dunia ini dan hidup kekal di dalamnya, kemudian surga."
"Tidak, Abu Muwayhiba," jawab Rasulullah SAW. "Aku memilih kembali menghadap Tuhan dan surga."
Abu Muwayhiba bercerita apa yang telah dilihat dan apa yang telah didengarnya; sebab Nabi mulai menderita sakit ialah keesokan harinya setelah malam itu ia pergi ke Baqi'.
A. Said dalam bukunya berjudul "Riwayat Nabi Muhammad SAW" juga mengisahkan hal serupa. Setelah peristiwa di Baqi itu, sakit Rasulullah semakin parah. Pada saat itu Rasulullah juga mendengar ekspedisi yang dipimpin Usamah bin Zaid ditunda.
Haekal mengatakan hadis yang dibawa melalui Abu Muwayhiba ini oleh beberapa ahli sejarah diterima dengan agak sangsi. Disebutkan bahwa bukan karena sakit Nabi Muhammad itu saja yang membuat pasukan tidak jadi bergerak ke Palestina, tetapi karena banyaknya orang yang menggerutu, yang disebabkan oleh penunjukan Usamah dalam usia semuda itu sebagai pemimpin pasukan yang terdiri dari orang-orang penting dalam kalangan Anshar dan Muhajirin yang mula-mula.
Kepergian Nabi ke Baqi dan memintakan ampunan buat penghuni kubur, diterjemahkan Haekal karena adanya perasaan yang kuat akan dekatnya waktu, yaitu waktu menghadap Tuhan.
"Ilmu pengetahuan masa kita sekarang ini pun tidak menolak adanya spiritisma sebagai salah satu gejala psychis," ujar Haekal.
Perasaan yang kuat akan dekatnya ajal itu sudah banyak dialami orang, sehingga siapa saja tidak sedikit orang yang dapat menceritakan apa yang diketahuinya tentang peristiwa-peristiwa itu. Juga adanya hubungan antara yang hidup dengan yang mati, antara kesatuan masa lampau dengan masa datang, kesatuan yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu, dewasa ini sudah pula dapat ditentukan, meskipun --menurut kodrat bentuk kita-- masih terbatas sekali kita akan dapat mengungkapkan keadaan sebenarnya.
Baca juga: Dahsyatnya Sakaratul Maut Seperti Tusukan Pedang 300 Kali
Haekal mengatakan kalau sudah itu yang dapat kita lihat sekarang dan sudah diakui oleh ilmu pengetahuan, tidak ada alasan kita akan menolak dasar peristiwa seperti apa yang diceritakan oleh Abu Muwayhiba itu, juga tak ada alasan kita dapat menolak adanya apa yang sudah dapat dipastikan mengenai komunikasi Nabi Muhammad dalam arti rohani dan spiritual dengan alam semesta ini demikian rupa, sehingga ia dapat menangkap persoalan itu sekian kali lipat daripada yang biasa ditangkap oleh para ahli dalam bidang ini.
Bergurau dengan Aisyah
Keesokan harinya bila tiba waktunya Rasulullah SAW ke tempat Aisyah. Beliau melihat Aisyah sedang mengeluh karena sakit kepala: "Aduh kepalaku!" Rasulullah kemudian menjawab, "Tetapi akulah, Aisyah, yang merasa sakit kepala."
Hanya saja, kala itu, sakitnya belum begitu keras dalam arti beliau harus berbaring di tempat tidur atau akan merintanginya pergi kepada keluarga dan isteri-isterinya untuk sekadar mencumbu dan bergurau. Setiap didengarnya beliau mengeluh Aisyah juga mengulangi lagi mengeluh sakit kepala.
Lalu kata Nabi, "Apa salahnya kalau engkau yang mati lebih dulu sebelum aku. Aku yang akan mengurusmu, mengafanimu, menyembahyangkan kau dan menguburkan kau!"
Lantaran senda-gurau itu cemburu kewanitaan Aisyah timbul dalam hati Aisyah yang masih muda itu, sekaligus cintanya akan gairah hidup ini, lalu katanya:
"Dengan begitu yang lain mendapat nasib baik. Demi Allah, dengan apa yang sudah kaulakukan itu seolah engkau menyuruh aku pulang ke rumah dan dalam pada itu kau akan berpengantin baru dengan istri-istrimu."
Nabi tersenyum, meskipun rasa sakitnya tidak mengizinkan beliau terus bergurau.
Setelah rasa sakitnya terasa agak berkurang, Rasulullah SAW mengunjungi istri-istrinya seperti biasa. Tetapi kemudian sakitnya terasa kambuh lagi, dan terasa lebih keras lagi. Ketika beliau sedang berada di rumah Sayyidah Maimunah, beliau sudah tidak dapat lagi mengatasinya.
Beliau merasa perlu mendapat perawatan. Ketika itu dipanggilnya istri-istri beliau ke rumah Maimunah. Dimintanya izin kepada mereka, setelah melihat keadaannya begitu, bahwa beliau akan dirawat di rumah Aisyah. Para istri Rasul mengizinkan beliau pindah.
Dengan berikat kepala, beliau keluar sambil bertopang dalam jalannya itu kepada Ali bin Abi Thalib dan kepada 'Abbas pamannya. Beliau sampai di rumah Sayyidah Aisyah dengan kaki yang sudah terasa lemah sekali.
Pada hari-hari pertama beliau jatuh sakit, demamnya sudah terasa makin keras, sehingga ia merasa seolah seperti dibakar.
Baca juga: Saat Rasulullah Merasakan Sakaratul Maut, Begini Kata Beliau
Sungguh pun begitu, ketika demamnya menurun beliau pergi berjalan ke masjid untuk memimpin sholat. Hal ini dilakukannya selama berhari-hari. Tapi tidak lebih dari sholat saja. Beliau sudah tidak kuat duduk bercakap-cakap dengan sahabat-sahabatnya.
Meski begitu apa yang dibisikkan orang bahwa beliau menunjuk anak yang masih muda belia di atas kaum Muhajirin dan Anshar yang terkemuka untuk menyerang Romawi, terdengar juga oleh Nabi.
Meskipun dari hari ke hari sakitnya bertambah juga, tapi dengan adanya bisik-bisik demikian itu rasanya perlu beliau bicara dan berpesan kepada mereka. Dalam hal ini beliau berkata kepada istri-istri dan keluarganya:
"Tuangkan kepadaku tujuh kirbat air dari pelbagai sumur, supaya aku dapat menemui mereka dan berpesan kepada mereka."
Lalu dibawakan air dari beberapa sumur, dan setelah oleh istri-istri beliau. Kemudian beliau didudukkan di dalam pasu kepunyaan Hafshah. Ketujuh kirbat air itu disiramkan ke Rasulullah SAW. "Cukup... Cukup..." ujar Rasulullah.
Lalu beliau mengenakan pakaian kembali, dan dengan berikat kepala ia pergi ke masjid. Setelah duduk di atas mimbar, beliau mengucapkan puji dan syukur kepada Allah, kemudian mendoakan dan memintakan ampunan buat sahabat-sahabatnya yang telah gugur di Uhud. Banyak sekali beliau mendoakan mereka itu. Kemudian kata beliau:
Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "Sejarah Hidup Muhammad" meriwayatkan pada malam pertama saat Rasulullah SAW merasa sakit beliau tak dapat tidur. Beliau berniat keluar dari rumah pada malam musim panas yang disertai embusan angin di sekitar kota Madinah.
Ketika Nabi keluar, hanya ditemani oleh pembantunya, Abu Muwayhiba. Malam itu, beliau pergi ke pemakaman Baqi, pekuburan Muslim di dekat Masjid Nabawi, Madinah. Di sini banyak terdapat keluarga serta sahabat Nabi Muhammad SAW yang dikuburkan.
Sesampainya di pekuburan itu beliau berbicara kepada penghuni kubur. "Salam sejahtera bagimu, wahai penghuni kubur! Semoga kamu selamat akan apa yang terjadi atas dirimu, seperti atas diri orang lain. Fitnah telah datang seperti malam gelap-gulita, yang kemudian menyusul yang pertama, dan yang kemudian lebih jahat dari yang pertama."
Baca juga: Pesan Rasulullah SAW Saat Beliau Menghadapi Sakaratul Maut
Menurut Haekal, Abu Muwayhiba juga bercerita, bahwa ketika pertama kali sampai di Baqi', Nabi berkata kepadanya: "Aku mendapat perintah memintakan ampun untuk penghuni Baqi, ini. Baiklah engkau berangkat bersama aku!"
Setelah memintakan ampun dan tiba saatnya akan kembali, ia menghampiri Abu Muwayhiba seraya katanya: "Abu Muwayhiba, aku telah diberi anak kunci isi dunia ini serta kekekalan hidup di dalamnya, sesudah itu surga. Aku disuruh memilih ini atau bertemu dengan Tuhan dan surga."
Kata Abu Muwayhiba: "Demi ayah bundaku! Ambil sajalah kunci isi dunia ini dan hidup kekal di dalamnya, kemudian surga."
"Tidak, Abu Muwayhiba," jawab Rasulullah SAW. "Aku memilih kembali menghadap Tuhan dan surga."
Abu Muwayhiba bercerita apa yang telah dilihat dan apa yang telah didengarnya; sebab Nabi mulai menderita sakit ialah keesokan harinya setelah malam itu ia pergi ke Baqi'.
A. Said dalam bukunya berjudul "Riwayat Nabi Muhammad SAW" juga mengisahkan hal serupa. Setelah peristiwa di Baqi itu, sakit Rasulullah semakin parah. Pada saat itu Rasulullah juga mendengar ekspedisi yang dipimpin Usamah bin Zaid ditunda.
Haekal mengatakan hadis yang dibawa melalui Abu Muwayhiba ini oleh beberapa ahli sejarah diterima dengan agak sangsi. Disebutkan bahwa bukan karena sakit Nabi Muhammad itu saja yang membuat pasukan tidak jadi bergerak ke Palestina, tetapi karena banyaknya orang yang menggerutu, yang disebabkan oleh penunjukan Usamah dalam usia semuda itu sebagai pemimpin pasukan yang terdiri dari orang-orang penting dalam kalangan Anshar dan Muhajirin yang mula-mula.
Kepergian Nabi ke Baqi dan memintakan ampunan buat penghuni kubur, diterjemahkan Haekal karena adanya perasaan yang kuat akan dekatnya waktu, yaitu waktu menghadap Tuhan.
"Ilmu pengetahuan masa kita sekarang ini pun tidak menolak adanya spiritisma sebagai salah satu gejala psychis," ujar Haekal.
Perasaan yang kuat akan dekatnya ajal itu sudah banyak dialami orang, sehingga siapa saja tidak sedikit orang yang dapat menceritakan apa yang diketahuinya tentang peristiwa-peristiwa itu. Juga adanya hubungan antara yang hidup dengan yang mati, antara kesatuan masa lampau dengan masa datang, kesatuan yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu, dewasa ini sudah pula dapat ditentukan, meskipun --menurut kodrat bentuk kita-- masih terbatas sekali kita akan dapat mengungkapkan keadaan sebenarnya.
Baca juga: Dahsyatnya Sakaratul Maut Seperti Tusukan Pedang 300 Kali
Haekal mengatakan kalau sudah itu yang dapat kita lihat sekarang dan sudah diakui oleh ilmu pengetahuan, tidak ada alasan kita akan menolak dasar peristiwa seperti apa yang diceritakan oleh Abu Muwayhiba itu, juga tak ada alasan kita dapat menolak adanya apa yang sudah dapat dipastikan mengenai komunikasi Nabi Muhammad dalam arti rohani dan spiritual dengan alam semesta ini demikian rupa, sehingga ia dapat menangkap persoalan itu sekian kali lipat daripada yang biasa ditangkap oleh para ahli dalam bidang ini.
Bergurau dengan Aisyah
Keesokan harinya bila tiba waktunya Rasulullah SAW ke tempat Aisyah. Beliau melihat Aisyah sedang mengeluh karena sakit kepala: "Aduh kepalaku!" Rasulullah kemudian menjawab, "Tetapi akulah, Aisyah, yang merasa sakit kepala."
Hanya saja, kala itu, sakitnya belum begitu keras dalam arti beliau harus berbaring di tempat tidur atau akan merintanginya pergi kepada keluarga dan isteri-isterinya untuk sekadar mencumbu dan bergurau. Setiap didengarnya beliau mengeluh Aisyah juga mengulangi lagi mengeluh sakit kepala.
Lalu kata Nabi, "Apa salahnya kalau engkau yang mati lebih dulu sebelum aku. Aku yang akan mengurusmu, mengafanimu, menyembahyangkan kau dan menguburkan kau!"
Lantaran senda-gurau itu cemburu kewanitaan Aisyah timbul dalam hati Aisyah yang masih muda itu, sekaligus cintanya akan gairah hidup ini, lalu katanya:
"Dengan begitu yang lain mendapat nasib baik. Demi Allah, dengan apa yang sudah kaulakukan itu seolah engkau menyuruh aku pulang ke rumah dan dalam pada itu kau akan berpengantin baru dengan istri-istrimu."
Nabi tersenyum, meskipun rasa sakitnya tidak mengizinkan beliau terus bergurau.
Setelah rasa sakitnya terasa agak berkurang, Rasulullah SAW mengunjungi istri-istrinya seperti biasa. Tetapi kemudian sakitnya terasa kambuh lagi, dan terasa lebih keras lagi. Ketika beliau sedang berada di rumah Sayyidah Maimunah, beliau sudah tidak dapat lagi mengatasinya.
Beliau merasa perlu mendapat perawatan. Ketika itu dipanggilnya istri-istri beliau ke rumah Maimunah. Dimintanya izin kepada mereka, setelah melihat keadaannya begitu, bahwa beliau akan dirawat di rumah Aisyah. Para istri Rasul mengizinkan beliau pindah.
Dengan berikat kepala, beliau keluar sambil bertopang dalam jalannya itu kepada Ali bin Abi Thalib dan kepada 'Abbas pamannya. Beliau sampai di rumah Sayyidah Aisyah dengan kaki yang sudah terasa lemah sekali.
Pada hari-hari pertama beliau jatuh sakit, demamnya sudah terasa makin keras, sehingga ia merasa seolah seperti dibakar.
Baca juga: Saat Rasulullah Merasakan Sakaratul Maut, Begini Kata Beliau
Sungguh pun begitu, ketika demamnya menurun beliau pergi berjalan ke masjid untuk memimpin sholat. Hal ini dilakukannya selama berhari-hari. Tapi tidak lebih dari sholat saja. Beliau sudah tidak kuat duduk bercakap-cakap dengan sahabat-sahabatnya.
Meski begitu apa yang dibisikkan orang bahwa beliau menunjuk anak yang masih muda belia di atas kaum Muhajirin dan Anshar yang terkemuka untuk menyerang Romawi, terdengar juga oleh Nabi.
Meskipun dari hari ke hari sakitnya bertambah juga, tapi dengan adanya bisik-bisik demikian itu rasanya perlu beliau bicara dan berpesan kepada mereka. Dalam hal ini beliau berkata kepada istri-istri dan keluarganya:
"Tuangkan kepadaku tujuh kirbat air dari pelbagai sumur, supaya aku dapat menemui mereka dan berpesan kepada mereka."
Lalu dibawakan air dari beberapa sumur, dan setelah oleh istri-istri beliau. Kemudian beliau didudukkan di dalam pasu kepunyaan Hafshah. Ketujuh kirbat air itu disiramkan ke Rasulullah SAW. "Cukup... Cukup..." ujar Rasulullah.
Lalu beliau mengenakan pakaian kembali, dan dengan berikat kepala ia pergi ke masjid. Setelah duduk di atas mimbar, beliau mengucapkan puji dan syukur kepada Allah, kemudian mendoakan dan memintakan ampunan buat sahabat-sahabatnya yang telah gugur di Uhud. Banyak sekali beliau mendoakan mereka itu. Kemudian kata beliau:
Lihat Juga :