Kisah Mullah Nashruddin yang Diklaim Sebagai Warisan Kebudayaan Yunani
Sabtu, 20 Agustus 2022 - 09:36 WIB
loading...
A
A
A
Namun, kata Idries Shah, secara dangkal kisah-kisah Nashruddin lebih sering dikenal sebagai kisah humor atau bahan lelucon. Kisah-kisah itu diceritakan kembali tanpa henti di warung-warung teh dan di rombongan-rombongan pertunjukan, di rumah-rumah dan di siaran-siaran radio Asia.
"Tetapi dalam cerita Nashruddin itu inheren untuk dipahami adanya kedalaman makna. Terdapat lelucon, moral dan kelebihan lainnya yang membawa kesadaran sedikit lebih jauh menuju proses penyadaran dari kekuatan spiritual yang potensial," tutur Idries Shah.
Baca juga: Mullah Nashruddin, Cerita Menuju Awal Pencerahan
Menurut Idries Shah, karena Sufisme merupakan sesuatu yang dijalani dan juga dipahami, cerita Nashruddin tidak bisa menghasilkan pencerahan utuh kepada dirinya sendiri.
Di sisi lain, ia menjembatani celah antara kehidupan duniawi dan suatu perubahan bentuk kesadaran dalam cara yang tidak bisa dicapai oleh bentuk kesusastraan lainnya.
Manuskrip "Kepelikan" (the Subtleties) belum pernah dihadirkan secara utuh bagi pembaca Barat. Kemungkinan karena cerita-cerita tersebut tidak bisa diterjemahkan secara tepat oleh non-Sufi, atau dipelajari di luar konteksnya, dan mempertahankan dampak esensialnya.
Di Timur, tulis Idries Shah, kumpulan cerita tersebut rata-rata digunakan untuk maksud kajian semata oleh para Sufi pemula. Lelucon-lelucon dari kumpulan tersebut secara individual telah menyebar ke hampir setiap kepustakaan dunia. Dan sejumlah lelucon tertentu dari perhatian skolastik telah dilekatkan pada cerita-cerita tersebut.
Dalam penilaian ini sebagian sebagai sebuah contoh gelombang kebudayaan, atau untuk mendukung argumen-argumen yang menguntungkan identitas-dasar humor di mana saja.
Tetapi jika karena daya tarik humor perenialnya cerita-cerita itu telah membuktikan kekuatannya, maka hal ini secara menyeluruh merupakan hal kedua bagi tujuan kumpulan cerita tersebut, yang dimaksudkan untuk menyediakan suatu dasar bagi tersedianya sikap Sufi terhadap kehidupan, dan memungkinkan pada pencapaian penyadaran Sufisme dan pengalaman mistis.
Baca juga: Na'udzubillah, Gelar Timur Lank dari Nashruddin
"Tetapi dalam cerita Nashruddin itu inheren untuk dipahami adanya kedalaman makna. Terdapat lelucon, moral dan kelebihan lainnya yang membawa kesadaran sedikit lebih jauh menuju proses penyadaran dari kekuatan spiritual yang potensial," tutur Idries Shah.
Baca juga: Mullah Nashruddin, Cerita Menuju Awal Pencerahan
Menurut Idries Shah, karena Sufisme merupakan sesuatu yang dijalani dan juga dipahami, cerita Nashruddin tidak bisa menghasilkan pencerahan utuh kepada dirinya sendiri.
Di sisi lain, ia menjembatani celah antara kehidupan duniawi dan suatu perubahan bentuk kesadaran dalam cara yang tidak bisa dicapai oleh bentuk kesusastraan lainnya.
Manuskrip "Kepelikan" (the Subtleties) belum pernah dihadirkan secara utuh bagi pembaca Barat. Kemungkinan karena cerita-cerita tersebut tidak bisa diterjemahkan secara tepat oleh non-Sufi, atau dipelajari di luar konteksnya, dan mempertahankan dampak esensialnya.
Di Timur, tulis Idries Shah, kumpulan cerita tersebut rata-rata digunakan untuk maksud kajian semata oleh para Sufi pemula. Lelucon-lelucon dari kumpulan tersebut secara individual telah menyebar ke hampir setiap kepustakaan dunia. Dan sejumlah lelucon tertentu dari perhatian skolastik telah dilekatkan pada cerita-cerita tersebut.
Dalam penilaian ini sebagian sebagai sebuah contoh gelombang kebudayaan, atau untuk mendukung argumen-argumen yang menguntungkan identitas-dasar humor di mana saja.
Tetapi jika karena daya tarik humor perenialnya cerita-cerita itu telah membuktikan kekuatannya, maka hal ini secara menyeluruh merupakan hal kedua bagi tujuan kumpulan cerita tersebut, yang dimaksudkan untuk menyediakan suatu dasar bagi tersedianya sikap Sufi terhadap kehidupan, dan memungkinkan pada pencapaian penyadaran Sufisme dan pengalaman mistis.
Baca juga: Na'udzubillah, Gelar Timur Lank dari Nashruddin
Lihat Juga :