Ketika Pendiri Agama Sikh Akui Berutang Budi pada Sufisme
Rabu, 24 Agustus 2022 - 19:08 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Cerita Ajaran Pengetahuan tentang Sufisme: Orang Dermawan
Menurut riwayat, 300 penyihir pengikut Yogi dan Pandit itu tidak dapat membuka mulut ketika mereka beradu pandang sekilas dengan Muinuddin dan akhirnya mereka menjadi pengikutnya. Namun menurut legenda yang paling populer, sang penyihir Hindu yang kondang, Jaypal Yogi telah mengadu kesaktian dengan sang Sufi Fakir (Muinuddin).
Menurut legenda Chisyti tersebut, Jaypal bersama ribuan pengikut Yoginya membendung sungai-sungai yang menuju Danau Anasagar. Namun semua aliran sungai dan sumber air di wilayah itu menjadi kering hanya karena salah seorang pengikut baru Muinuddin mengambil seember air dari danau tersebut atas petunjuk-petunjuknya.
Setelah itu Jaypal memerintahkan ratusan makhluk jadi-jadian, termasuk singa dan harimau, untuk menyerang orang suci itu beserta para pengikutnya.
Mereka semua binasa saat menyentuh lingkaran ajaib yang telah dibuat sebelumnya oleh Muinuddin sebagai perlindungan.
Setelah Jaypal mengulangi beberapa kali tindakan serupa (dan selalu gagal), ia menyerah dan menjadi salah seorang murid Chisyti yang sangat terkenal dengan julukan Abdullah sang (Penjelajah) Belantara, karena selalu mengembara sampai tiba di kuil agung dekat Ajmer.
Baca juga: Sufisme Bekerja dengan Bahan-Bahan yang Terlihat dan Tidak
Kesamaan Esensial
Menurut Idries Shah, ada tiga jenis hubungan yang sangat jelas antara para sufi dan Hindu atau Sikh. Kesalahpahaman terhadap tiga jenis hubungan tersebut menjadi penyebab utama timbulnya kerancuan.
Menurut konteks sejarah dan budaya maupun metafisik, semua aliran mistik tersebut mempunyai pengertian yang sama tentang peran mistisisme dalam pengembangan spiritualitas manusia.
Jadi, mereka pada dasarnya mempunyai kesamaan esensial. Hanya saja ada pergeseran-pergeseran sangat jelas dalam ritus-ritus yang kaku dan hampa, dogma yang memfosil dan kultus individu.
Idries Shah mengatakan orang yang berpandangan sempit, terutama ahli hukum Islam yang hanya mengikuti langkah sufi secara dangkal akan senantiasa bertentangan dengan seterunya, yaitu pendeta Hindu pertapa yang biasa menjalankan sebuah tradisi yang merosot.
Menurut riwayat, 300 penyihir pengikut Yogi dan Pandit itu tidak dapat membuka mulut ketika mereka beradu pandang sekilas dengan Muinuddin dan akhirnya mereka menjadi pengikutnya. Namun menurut legenda yang paling populer, sang penyihir Hindu yang kondang, Jaypal Yogi telah mengadu kesaktian dengan sang Sufi Fakir (Muinuddin).
Menurut legenda Chisyti tersebut, Jaypal bersama ribuan pengikut Yoginya membendung sungai-sungai yang menuju Danau Anasagar. Namun semua aliran sungai dan sumber air di wilayah itu menjadi kering hanya karena salah seorang pengikut baru Muinuddin mengambil seember air dari danau tersebut atas petunjuk-petunjuknya.
Setelah itu Jaypal memerintahkan ratusan makhluk jadi-jadian, termasuk singa dan harimau, untuk menyerang orang suci itu beserta para pengikutnya.
Mereka semua binasa saat menyentuh lingkaran ajaib yang telah dibuat sebelumnya oleh Muinuddin sebagai perlindungan.
Setelah Jaypal mengulangi beberapa kali tindakan serupa (dan selalu gagal), ia menyerah dan menjadi salah seorang murid Chisyti yang sangat terkenal dengan julukan Abdullah sang (Penjelajah) Belantara, karena selalu mengembara sampai tiba di kuil agung dekat Ajmer.
Baca juga: Sufisme Bekerja dengan Bahan-Bahan yang Terlihat dan Tidak
Kesamaan Esensial
Menurut Idries Shah, ada tiga jenis hubungan yang sangat jelas antara para sufi dan Hindu atau Sikh. Kesalahpahaman terhadap tiga jenis hubungan tersebut menjadi penyebab utama timbulnya kerancuan.
Menurut konteks sejarah dan budaya maupun metafisik, semua aliran mistik tersebut mempunyai pengertian yang sama tentang peran mistisisme dalam pengembangan spiritualitas manusia.
Jadi, mereka pada dasarnya mempunyai kesamaan esensial. Hanya saja ada pergeseran-pergeseran sangat jelas dalam ritus-ritus yang kaku dan hampa, dogma yang memfosil dan kultus individu.
Idries Shah mengatakan orang yang berpandangan sempit, terutama ahli hukum Islam yang hanya mengikuti langkah sufi secara dangkal akan senantiasa bertentangan dengan seterunya, yaitu pendeta Hindu pertapa yang biasa menjalankan sebuah tradisi yang merosot.
Lihat Juga :