Usamah bin Zaid, Panglima Perang Termuda Umat Islam, Porak-porandakan Bizantium

loading...
Usamah bin Zaid, Panglima Perang Termuda Umat Islam, Porak-porandakan Bizantium
Usamah bin Zaid, panglima perang termuda umat Islam yang porak-porandakan Bizantium. Foto/Ilustrasi: Ist
Usamah bin Zaid panglima perang termuda umat Islam, porak porandakan Bizantium pada awalnya penuh kontroversi. Bagaimana tidak, tatkala Rasulullah SAW menunjuk Usamah bin Zaid bin Harisah usianya belum lagi 20 tahun. Di sisi lain, anggota pasukan yang dipimpin adalah para senior sahabat Nabi dari kalangan Muhajirin dan Ansor, termasuk Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab .

Baca juga: Pertempuran Fihl, Puluhan Ribu Pasukan Romawi Tewas

Sekadar mengingatkan, pasukan yang dipimpin Usamah ini untuk menghadapi Bizantium atau Romawi. Pengiriman pasukan ini didasari rasa khawatir Nabi, akan kemungkinan Romawi menyerbu daerah Muslimin.

Apalagi kala itu, pihak Romawi telah menghasut orang-orang Yahudi yang pindah ke Palestina setelah dikeluarkan oleh Nabi dari Madinah, Taima', Fadak dan daerah-daerah lain yang dulu mereka tempati.

Muhammad Husain Haikal dalam bukunya yang berjudul "Sejarah Hidup Muhammad" memaparkan sebelumnya juga sempat terjadi perang di Mu'tah dan Tabuk antara pasukan muslim dengan Romawi. Itu sebabnya, Rasulullah merasa perlu meningkatkan pengamanan perbatasan Arab-Romawi. Ketika pasukan Muslimin berada di Mu'tah itu, banyak pimpinan militer yang gugur, seperti Zaid bin Harisah, Ja'far bin Abi Thalib dan Abdullah bin Rawahah.

Khalid bin al-Walid sempat menarik mundur pasukannya hingga selamat kembali ke Madinah tanpa membawa kemenangan.

Dalam perang Tabuk Rasulullah sendiri yang memimpin pasukan Muslimin. Perjalanannya ini sudah merupakan peringatan, sehingga membuat musuh menarik mundur pasukannya ke luar perbatasan, tanpa terjadi pertempuran.

Tidak heran jika kedua peperangan yang terjadi antara Muslimin dengan Romawi itu membuat Nabi segera menyiapkan pasukan Usamah bin Zaid bin Harisah, dan persiapan itu merupakan salah satu politik Nabi dalam mengamankan perbatasan Semenanjung Arab dari serangan pasukan Romawi, yang ketika itu merupakan adikuasa.

Baca juga: Kaum Munafik Menghindari Seruan Nabi Melawan Romawi

Usamah bin Zaid ketika itu masih sangat muda. Tetapi Rasulullah mengangkatnya memimpin pasukan agar kemenangannya kelak menjadi kebanggaan atas gugurnya ayahnya sebagai syahid di Mu'tah.

Sejak hari pertama penunjukan Usamah, kaum Muhajirin dan Ansar terkemuka banyak yang menggerutu. Sejak kecil Usamah sudah menjadi kesayangan Nabi, sehingga karenanya ia dijuluki "Kesayangan Nabi dan putra kesayangannya."

Begitu besar kecintaan Nabi kepada Usamah sehingga ia pernah didudukkan sekendaraan ketika Rasulullah pergi ke Mekkah dalam tahun kedelapan Hijriyah dan diajaknya ia masuk ke dalam Kakbah.

Sejak kecil Usamah sudah punya keberanian dan tidak kenal takut, sehingga ia ikut bergabung dengan pasukan Muslimin ke Uhud, namun dikembalikan ke Madinah karena usianya yang masih terlalu muda.

Setelah itu ia pernah juga ikut dalam pertempuran di Hunain dan berjuang mati-matian seperti seorang pahlawan perang. Tetapi orang-orang yang mengeluh itu melihatnya tidak sama.

Keluhan mereka itu sampai juga kepada Nabi ketika beliau dalam sakitnya yang terakhir sementara pasukan Usamah sudah berada di Jurf, siap akan berangkat.

"Saudara-saudara, laksanakanlah keberangkatan Usamah. Demi hidupku, kalau kamu telah berbicara tentang kepemimpinannya, tentang kepemimpinan ayahnya dulu pun juga kamu sudah berbicara. Dia sudah pantas memegang pimpinan, seperti ayahnya dulu juga pantas memegang pimpinan," ujar Nabi.

Setelah sakit Rasulullah bertambah berat, pasukan Usamah tidak bergerak di Jurf. Disebutkan bahwa Usamah berkata: "Setelah sakit Rasulullah makin berat, saya dan yang lain turun ke Madinah. Ketika saya masuk hendak menemui Rasulullah, Nabi sudah tak dapat berbicara. Ia mengangkat tangannya ke atas dan kemudian meletakkannya kepada saya. Tahulah saya bahwa ia mendoakan saya."

Ketika Nabi sadar sesaat sebelum wafat pagi hari itu, Usamah meminta izin akan berangkat dengan pasukannya. Nabi mengizinkan. Tetapi tak seberapa lama tersiar berita Rasulullah wafat, Usamah dan pasukannya kembali lagi ke Madinah.

Kemudian Usamah bersama-sama dengan keluarga bertugas menyiapkan pemakaman. Dia dan Syuqran pembantu Nabi menuangkan air ke tubuh Rasulullah dan Ali memandikannya, berikut baju yang dipakainya.

Baca juga: Ketakutan Dengan Pasukan Muslim, Pihak Romawi Menarik Diri
halaman ke-1
preload video