Bahayanya Mabuk Cinta dan Perintah Bertaubat

Senin, 13 Juli 2020 - 08:30 WIB
loading...
A A A
Bahaya mabuk cinta begitu besar, begitu pula dengan dosa yang melakukannya. Mereka yang telah telah terjerumus ke dalam perangkap maksiat ini, baik pelakunya, orang yang dicintai, maupun orang yang membantu, wajib hukumnya untuk bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Cara Bertaubat dari Mabuk Cinta

Dinukil dari kitab "At-Taubah Wadziifatul 'Umur" yang ditulis Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd menjelaskan,
apabila pelaku kemaksiatan ini ingin bertaubat, ia dapat melakukannya dengan cara meninggalkan perbuatan itu, berkeinginan kuat dan berusaha keras untuk menjalaninya, serta hendaklah ia tidak menceritakan masalahnya kepada orang yang dicintainya.

Janganlah ia mengingat, menyanjung, menemui, ataupun membantunya. Ia harus memutuskan setiap perkara yang dapat mengingatkan kepada kekasihnya. Hendaklah ia melakukan perkara-perkara yang sabar terhadap cobaan yang dialaminya, terutama pada awal-awal bertaubat.

Apabila orang yang dijadikan sebagai kekasihnya itu ikut membantu atau menjadi penyebab terjadinya kemaksiatan tersebut, hendaklah ia bertaubat kepada Allah. Bila ia seorang wanita, harus bertaubat kepada Allah dari perbuatan merayu dan berhias untuk yang dicintainya, bertaubat dari bercinta dengannya, bertaubat untuk bertemu dengannya atau berbicara dan mengobrol bersamanya, serta bertaubat untuk tidak mengirim surat kepadanya.

Sedang bagi orang-orang yang membantu terjalinnya hubungan cinta itu, hendaklah mereka pun bertaubat kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan meninggalkan apa yang pernah dilakukan. Hendaklah setiap diri menyadari bahwa apa yang dilakukannya itu termasuk dalam kategori tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan. Karena dengan melakukan itu, berarti ia telah menyulut api kerinduan dan mengobarkan baranya.

Dengan perbuatan tersebut, ia lebih banyak merusak daripada memperbaiki. Apa yang dilakukannya merupakan dosa dan perbuatan tidak terpuji, tidak termasuk perbuatan baik dan bukan pula perbuatan yang mengandung dua kemudharatan sehingga boleh diambil mudharat yang lebih ringan dari keduanya. Bahkan, kerusakan ini dapat mengarah pada kerusakan hati dan hancurnya agama.

Adakah kerusakan yang lebih besar daripadanya? Dijelaskan Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd, kerusakan paling berbahaya akibat melakukan kemaksiatan itu adalah kesengsaraan jiwa atau kematian, sebagai akibat melakukan apa yang diharamkan. Kalau tidak demikian, maka menahan diri dari perbuatan ini dapat membuahkan kesuksesan dan keselamatan.

Meskipun masalah mabuk asmara ini merupakan masalah pelik dan sulit untuk dapat terlepas dari jeratannya, namun untuk bisa bebas dan terlepas darinya bukanlah perkara yang tidak mungkin atau mustahil. Sebab, setiap penyakit pasti ada obatnya dan setiap obat tidak akan bermanfaat kecuali apabila sesuai dengan penggunaannya.

Oleh karena itu, apabila orang terjangkit penyakit ini condong kepada satu obat yang mujarab, kemudian berusaha mencarinya, niscaya ia akan menggapai apa yang ia cita-citakan dan akan mendapat bantuan untuk merealisasikan cita-citanya itu. Kalau tidak demikian, maka penyakitnya akan sulit diobati, bahkan bisa jadi akan bertambah parah. (Baca juga : Bolehkah Muslimah Berhias dengan Memakai Celak? )

Ibnul Jauzi rahimahullah berkata : "Obat hanya akan menyembuhkan bagi siapa yan mau menerimanya. Adapun orang yang menolaknya, maka obat tersebut tidak akan bermanfaat baginya."

Pada masalah penyakit hati karena cinta itu, disebutkan secara umum beberapa sebab yang dapat membantu seseorang untuk meninggalkan kebiasaan melakukan kemaksiatan ini, yaitu dengan cara :

1. Berdoa'
Berdoa, yang dilakukan dengan merendahkan diri dan bersungguh-sungguh memohon kepada Allah SWT, benar-benar mengharapkan-Nya dengan penuh keikhlasan dan memohon ampunan-Nya. Sungguh orang yang ditimpa oleh penyakit ini termasuk orang yang dalam keadaan terhimpit, sedang Allah SWT. mengabulkan permintaan orang yang berada dalam keadaan darurat apabila ia memohon kepada-Nya.

2. Menundukkan pandangan
Ibnul Jauzi rahimahullah berkata : "Orang yang secara tidak sengaja memandang sesuatu yang ia anggap baik, kemudian merasakan kenikmatan memandangnya, padahal perbuatan itu haram, maka wajib baginya untuk memalingkan pandangan. Ketika ia mengulangi pandangannya atau terus memandangnya, maka ia telah terjatuh pada perbuatan tercela, baik menurut agama maupun akal.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Khotbah Jumat: Amalan-amalan...
Khotbah Jumat: Amalan-amalan yang Pahalanya Setara Ibadah Haji
Doa dan Amalan agar...
Doa dan Amalan agar Disegerakan Ibadah Umrah dan Haji
4 Amalan yang Besar...
4 Amalan yang Besar Pahalanya di Hari Raya Idulfitri, Cek Penjelasannya di Sini!
Inilah Amalan Malam...
Inilah Amalan Malam Nuzulul Quran, Sayang untuk Dilewatkan
40 Amalan saat Umrah...
40 Amalan saat Umrah Ramadan yang Penting Diketahui Kaum Muslim
Memasuki 10 Hari Kedua...
Memasuki 10 Hari Kedua Ramadan : Fase Ampunan dan Perbanyak Amalan Terbaik
Rekomendasi
Belasan Patung Ini Menceritakan...
Belasan Patung Ini Menceritakan Budaya LGBT Pompeii
Suara Bawah Air Terkeras...
Suara Bawah Air Terkeras Terdengar dari Lokasi Paling Terpencil di Bumi
Fenomena Air Terjun...
Fenomena Air Terjun Berdarah Dikaitkan dengan Piramida di Bawah Antartika
Artikel Terkini
Baca Selawat Nabi 1000...
Baca Selawat Nabi 1000 Kali di Hari Jumat, Kelak Diperlihatkan Kedudukannya di Surga
Cemas karena Ekonomi...
Cemas karena Ekonomi Terpuruk? Baca Doa Ini Bakda Ashar Hari Jumat, InsyaAllah Mustajab!
Amalan Jumat: Raih Cahaya...
Amalan Jumat: Raih Cahaya dengan Membaca Surat Al-Kahfi
15.086 Jemaah Haji Reguler...
15.086 Jemaah Haji Reguler dan 7.547 Haji Khusus Telah Tiba di Indonesia
Keistimewaan Hari Jumat,...
Keistimewaan Hari Jumat, Yaumul Maiz Saat Allah Menampakan Diri di Surga
4 Amalan Hari Jumat...
4 Amalan Hari Jumat yang Jarang Diketahui, Pahalanya Dahsyat!
Infografis
Berjasa dalam Penemuan...
Berjasa dalam Penemuan Obat Kanker, 3 Ilmuwan Meraih Nobel Kimia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved